Takut Tenggelam

Anda yang tak bisa berenang mungkin punya macam-macam ketakutan ketika melihat genangan air yang begitu dalam di hadapan Anda. Pada umumnya orang takut tenggelam. Kalau saya ya cuma takut hanyut gitu aja karena punya pengalaman terseret hampir jatuh ke bawah jeram yang tingginya tiga meteran. Waktu itu tinggi saya semampai, jadi melihat ke bawah itu bagaikan melihat jurang Niagara Falls. Ada yang lihat genangan air dalam njuk takut karena membayangkan di kedalaman air itu bakal ada buaya atau ular atau binatang apalah yang bakal menggigit atau menariknya ke bawah permukaan.

Semua ketakutan itu memang adanya pada benak orang, tetapi mari lihat bahwa ketakutan itu, sejalan dengan kekhawatiran, memengaruhi orang untuk bikin objek imajiner yang membuat kenyataannya seakan-akan ada “di luar sana”. Karena objek imajiner itu, njuk orang mengambil keputusan atau pilihan atas dasar ketakutan: tak mau nyebur kolam, tak mau belajar renang, tak mau naik perahu, tak mau mengambil keputusan, tak mau berbuat dosa, dan seterusnya.
Loh kok bawa-bawa dosa segala, Rom? Bukannya malah baik ya orang takut (berbuat) dosa?
Saya sangat meragukannya karena ketakutan tidak datang dari kemerdekaan cinta, tetapi dari belenggu hantu.

Baik orang kusta maupun Guru dari Nazareth yang menjamah orang kusta dalam teks bacaan hari ini bebas dari ketakutan pada kebiasaan tradisi budaya mereka yang mendiskriminasi kaum tertindas. Tidak semestinya orang kusta berada di dalam kota dan tidak bolehlah warga kota menjamah orang kusta karena itu menajiskannya. Kenajisan menular bak virus. Si kusta menghancurkan ketakutannya karena keinginannya untuk sembuh dan tak ada jalan keluar yang diharapkan dari kebiasaan aturan yang disokong lembaga agama. Tidak ada ketakutan dalam diri Guru dari Nazareth karena beliau hidup dalam integritas roh yang datang dari Allah. Ini dinyatakan dalam teks bacaan pertama: siapa saja yang hidup dalam roh Allah, mengintegrasikan Sabda Allah dalam darah dan dagingnya.

Kalau orang beriman mengikuti integritas roh (yang membuatnya connect dengan Tuhan dan Sabda-Nya), ia tak lagi terkungkung oleh pro-kontra kefanaan. Itu tidak berarti bahwa ia tidak mengalami pro-kontra; mungkin malah makin banyak pro-kontranya, tetapi tegangan pro-kontra itu dihidupinya con calma, with ease, peacefully karena koneksinya dengan roh Allah. Ia tak takut dengan objek imajinernya tetapi juga tak sembrono sekadar melawan ini itu yang tidak berkenan baginya.

Tuhan, mohon rahmat kemerdekaan cinta-Mu. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Jumat, 8 Januari 2021

1Yoh 5,5-13
Luk 5,12-16

Posting 2020: Double Life
Posting 2019: Kesepian

Posting 2016: Tukang Cukur Tuhan

Posting 2015: Temuilah Dokter Cinta

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s