Hidup Berapi

Mungkin ada orang yang menyimpan harapan supaya dirinya semakin kurus dan temannya semakin gemuk, seperti disodorkan teks bacaan hari ini,”Biarlah dia semakin besar dan aku semakin kecil.” Yang pertama mungkin landasannya sirik. Yang kedua justru merupakan tanggapan terhadap landasan sirik itu. Ini sudah saya paparkan pada posting Apa Yang Kupertuhankan?

Rupanya daun muda lebih menarik. Guru dari Nazareth sebagai pendatang baru ikut membaptis tak jauh dari tempat Yohanes Pembaptis. Dua-duanya menyerukan hal yang sama dan menarik kaum tertindas. Akan tetapi, tampaknya Guru dari Nazareth lebih ‘beruntung’. Nah, murid-murid Yohaneslah yang sewot setengah mati karena banyak orang datang kepada Guru dari Nazareth itu daripada kepada Yohanes. Yohanesnya sendiri malah menutup tanggapannya dengan ungkapan “Biarlah dia semakin besar dan aku semakin kecil.”

Sikap Yohanes itu lahir dari pemahaman dirinya sebagai orang yang memperkenalkan suara Mesias. Apa daya, pendengar fanatiknya malah menganggap suara Yohanes itu sebagai suara Mesias. Mereka merasa diri ada di foreground sementara Yohanes justru menegaskan perannya di background. Murid-muridnya mencari panggung ketika Yohanes justru menunjukkan panggung sebenarnya. Lalu teringatlah saya pada adagium yang ditegaskan Stanislaus Kotska: ad maiora natus sum, I was born for greater things.

Kalau Anda sudah menonton film animasi berjudul Soul, Anda dapati bahwa greater things bukanlah hal-hal besar yang jadi idaman orang, melainkan api yang memungkinkan orang hidup dalam mindfulness, hidup dalam kesadaran setiap momennya, akan orientasi hidup yang lebih agung daripada apa yang bisa dipersepsinya secara sempit. Dengan kata lain, born for greater things itu adalah perkara memberi jiwa pada tindakan yang dipilih orang. Hidupnya jadi seperti gunung berapi.

Joe Gardner memberi contoh hidup tanpa jiwa. Euforia untuk tampil bersama Dorothea Williams, saxophonist terkenal, membuatnya tampak berapi-api. Akan tetapi, hidup berapi bukanlah euforia murahan, lompatan girang ala anak-anak yang mendapat apa yang dimauinya sedemikian rupa sehingga indranya tidak connect dengan dunia sekeliling. Memang, di satu sisi, euforia ini mengesankan sesuatu yang wow tetapi ia kehilangan persepsi ruangnya sehingga terperosok ke lubang drainase.

Manusia beragama sewajarnya belajar dari Joe Gardner dan bisa mendefinisikan dirinya: I was born to love, alih-alih I was born to possess, to conquer, to control, to win, to defeat, dan sejenisnya. Yang terakhir ini menempatkan diri sebagai pusat panggung kehidupan, seperti direpresentasikan murid-murid Yohanes. Persaingan dengan segala kompleks sensasinya (marah, iri) mewarnai definisi ini. Yang kedua merepresentasikan hidup berapi, sebagaimana Yohanes yang punya self-awareness sebagai pribadi yang menyalurkan cinta Allah kepada semua orang.

Tuhan, mohon rahmat untuk senantiasa sambung dengan-Mu dan dengan lingkungan konkret kami. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Sabtu, 9 Januari 2021

1Yoh 5,14-21
Yoh 3,22-30

Posting 2020: Belajar Merdeka
Posting 2019: Susahnya Visi-Misi

Posting 2016: Apa Yang Kupertuhankan?

Posting 2015:
Compare? Despair!