Susahnya Visi-Misi

Kemarin malam kami menonton film lawas berjudul House of Flying Daggers yang menyuguhkan pemandangan, tata warna, martial arts yang tentu saja keren abis. Ceritanya sendiri menarik karena tak begitu mudah ditebak, tetapi cinta segitiga antara Jin, Leo, dan Xiao Mei (kok kayak merk gawai saia) tidak keluar dari pakem cinta bersyarat: tragis, tak seorang pun yang memperoleh apa yang diinginkannya.

Teks bacaan hari ini memberi informasi mengenai kebalikan dari cinta bersyarat itu. Tokoh utamanya merepresentasikan tiga pihak: Yohanes Pembaptis, murid-muridnya, dan Yesus si Guru dari Nazareth. Penulis teks ini tampaknya juga sempat jadi murid Yohanes Pembaptis (karena dia tahu cukup detil tentang Yohanes Pembaptis) dan bisa jadi dia memberikan gambaran adanya ketegangan pada masa awal terbentuknya gerombolan Kristiani, antara murid-murid Pembaptis dan murid-murid si Guru dari Nazareth. Apa pemicunya? Ya si Guru dari Nazareth itu jebulnya juga memilih murid dan membaptis dan semua orang pergi ke Guru dari Nazareth itu. Guru dari Nazareth jadi punya lebih banyak followers daripada Yohanes Pembaptis. Solusinya?

Ya itu tadi, berkebalikan dengan cinta segitiga nan bersyarat, Yohanes Pembaptis memecahkan ketegangan itu secara mengesankan: kerendahhatian membuatnya tetap happy dengan ‘keberhasilan’ si Guru dari Nazareth menggaet banyak followers. Ini berlawanan dengan Jin-Leo-Mei tadi yang masing-masing menyodorkan syaratnya: kamu boleh saja tak mencintaiku, tapi jangan mencintai dia; kamu boleh membenciku, tapi jangan melukai dia. Akhirnya, Jin survive tetapi ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya dan kiranya dia tak happy dengan hal itu.

Yohanes Pembaptis tak mengalami post-power syndrome karena ia sungguh empan papan, tahu diri, menerima diri sebagai suatu pathway to God. Tuhan tentu lebih besar daripada dirinya, daripada apa yang sudah dibuatnya, dan kalau Tuhan mau menyatakan Diri lewat pathway lainnya, sudah sewajarnya ia bersyukur dan ikut gembira. Mosok mau kerja terus sampai kiamat?

Dari Yohanes Pembaptis ini saya belajar untuk ikut bergembira ketika pihak lain merealisasikan jalan Allah dalam hidup mereka. Saya belajar darinya untuk tidak berpikir partisan atau jadi manusia tribal. Kalau ada orang lain muncul dan hidupnya sungguh AMDG, sudah sewajarnya saya ikut bersyukur dan bergembira karena sesama AMDG tak ada kamus saling mendahului. Jadi, kalau diproyeksikan ke depan mayoritas memeluk Islam, atau Buddha, atau Protestan, misalnya, dan dengan itu sungguh AMDG, baiklah Anda bersyukur dan gembira karena AMDG-nya, bukan malah kecewa atau iri pada pertambahan anggota ‘agama’ atau ‘partai’ lainnya. Semoga semua makhluk berbahagia, gitu bukan?

Yohanes Pembaptis seakan mengajarkan supaya orang mudah melihat orang lain gembira dan gembira melihat orang lain mudah; bukannya malah baperan “susah lihat orang lain senang dan senang lihat orang lain susah”.
Berarti, kalau ikut pelajaran Yohanes Pembaptis, kita mesti gembira lihat capres-cawapres dipermudah mengganti visi-misi mereka dong?
Hahaha, itu perkara lain: kalau visi-misi gampang diubah mendekati hari-H, jadi pertanda menyokong hoaks dan omong besar atas hal yang tidak sungguh dihidupi dari kedalaman hati. Sebelum kemarin sudah saya bilang: tak ada kabar gembira yang diwartakan dengan cinta bersyarat dan hoaks.

Tuhan, bebaskanlah kami cengkeraman gelojoh kekuasaan yang tak kenal diri. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN C/1
Sabtu, 12 Januari 2019

1Yoh 5,14-21
Yoh 3,22-30

Posting 2016: Apa Yang Kupertuhankan?
Posting 2015:
Compare? Despair!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s