Politik Cinta

Anda mungkin pernah dengar aksi diam setiap hari Kamis di dekat Istana Presiden. Ini sama sekali beda dari gerakan 212 dengan begitu banyak pembicara bersuara lantang. Gerakan Kamisan sudah dibuat ratusan kali berformat ‘diam’ dan aksinya menyebar ke berbagai kota. Kemarin saya baca juga ada gerakan ‘diam-diam mendukung orang baik’, yang kalau dideklarasikan sebagai gerakan diam-diam tentu jadi contradictio in terminis. Mau contradictio in terminis atau kontrak di kios di terminal, pokoknya ada sesuatu di dalamnya: yang baik itu senantiasa hendak menampakkan dirinya, keluar dari ketersembunyiannya.

Orang tak perlu memercayai 25 Desember sebagai hari kelahiran Mesias, atau percaya adanya tiga orang bijak dari Timur yang mengunjungi Mesias yang lahir tadi, atau mengingat pesta baptisan Yesus yang dirayakan Gereja Katolik hari ini. Ini saya serius, bahkan sebagai orang Katolik, Anda tak perlu percaya itu semua karena sebagai orang Katolik, Anda hanya harus percaya akan Allah, Bapa Yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan bla bla blanya tak memuat 25 Desember, tiga orang majus yang besuk, maupun baptisan Yesus yang dinarasikan hari ini. Lah, trus ngapain dong, Rom, Gereja Katolik bikin tiga acara tadi dalam kalendernya?

Ya kembali lagi ke paragraf pertama tadi: kebaikan senantiasa hendak menampakkan dirinya, keluar dari ketersembunyiannya. Peristiwa baptisan Yesus adalah penampakan Kristus untuk ketiga kalinya setelah natalan dan kunjungan tiga raja dari Timur. Btw, kemarin sudah saya bilang belum ya bahwa Kristus itu terminologi Kristiani tetapi substansinya melampaui kotak Kristiani? Saya tidak tahu bagaimana mengistilahkannya dalam Islam, Hindu, Buddha dan lain-lainnya, tetapi pada prinsipnya itu adalah momen Allah menyertai manusia, momen perjumpaan antara yang transenden absolut dan yang imanen kontingen (relatif adanya). Apakah penampakan Kristus itu hanya terjadi tiga kali? Ya enggaklah!

Kalau penampakan itu cuma tiga kali, njuk gimana mungkin Sabda Allah ‘diturunkan’ kepada Nabi Muhammad? Bagaimana mungkin kesadaran ekologis diwahyukan kepada penghayat ‘agama lokal’? Bagaimana mungkin para saintis ‘mak cling’ menemukan paradigma yang mengabdi kemanusiaan? Bagaimana mungkin hati orang tergerak alias tersentuh untuk menyayangi makhluk lainnya, menghentikan konflik dan perang, dan seterusnya? Bukankah ini adalah momen-momen penampakan Yang Ilahi juga?

Pesan penampakan Yang Ilahi itu ada pada kalimat terakhir teks hari ini: Kamulah anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan.
Sayangnya, pesan itu tak banyak didengarkan orang karena orang lebih senang mendengarkan pesannya sendiri. Wajar sih, kalau orang kurang percaya diri, tentu susah memercayai orang lain. Orang yang tidak tulus hati, susah juga melihat ketulusan hati orang lain. Jangan bilang siapa-siapa ya, kemarin ada yang dapat karangan bunga ucapan proficiat, malah menangkapnya sebagai sindiran supaya usahanya cepat mati. Nah, susah kan ternyata mendengarkan pesan penampakan dalam baptisan Yesus?

Jangan-jangan, karena orang sudah akrab dengan hoaks sebagai cara kerjanya, ia cenderung mendengar pesan penampakan “Kamulah anak yang Kukasihi” sebagai hoaks juga. L❤️VE bisa berubah jadi M❤️NEY dalam politik.
Tuhan, mohon rahmat supaya kami semakin tulus menerima cinta-Mu dan meneruskannya kepada sesama. Amin.


PESTA PEMBAPTISAN TUHAN C/1
Minggu, 13 Januari 2019

Yes 40,1-5.9-11 atau Yes 42,1-4.6-7
Tit 2,11-14 atau Kis 10,34-38
Luk 3,15-16.21-22

Posting Tahun B/2 2018: New Exodus
Posting Tahun A/1 2017: Pastor Gadungan

Posting Tahun C/2 2016: Pakai Barang, Cintai Orang 
Posting Tahun B/1 2015: Tuhan Kok Dibaptis!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s