Jaraknya kira-kira sepanjang pagar laut Tangerang antara desa sosok yang saya sebut Abangku dan kantor kepala desa Kohod. Tokoh abangku ini di barat, dan kepala desa Kohod di timur. Mungkin gaya hidup mereka juga bagai timur dan barat, meskipun sempat sama-sama vokal berkenaan dengan pagar laut di utara tempat tinggal mereka. Yang satu memprotes, yang lainnya membela.
Saya tertarik melihat sosok kepala desa Kohod ini untuk melihat tren orang beragama. Saya tak ambil pusing bagaimana kades ini menghidupi agamanya, tetapi gaya hidupnya melambangkan cara dia menghidupi agamanya, dan itu bisa jadi representatif bagi banyak orang: mengira bahwa Allah memberi anugerah iman kepada manusia sebagai kepemilikan privat mereka! Orang macam begini tak sadar bahwa misalnya Islam ditegakkan sebagai rahmat bagi semesta dan Kerajaan Allah dibangun untuk segala bangsa.
Gaya hidup kades Kohod ini bisa Anda selisik di laman ini. Sebagai orang kaya baru, ia memperlengkapi diri dengan rumah dan kendaraan yang begitu mencolok perbedaannya dengan warga sekitar. Itu barangkali wujud dari hasrat unjuk status; bukan lagi kebutuhan fungsional rumah dan kendaraan, melainkan kebutuhan pansosnya. Kebutuhan pansos ini rupanya tidak hanya berlaku dalam hal properti, tetapi juga agama, dan ini sudah terjadi sejak zaman jebot dan sisa-sisanya masih berdiri kokoh: membangun tempat ibadat super megah, seakan-akan agama dianugerahkan Allah untuk menunjukkan kemegahan agama itu sendiri.
Di salah satu pertemuan regional serba laki-laki, dulu kami memegang teguh keyakinan bahwa kami mesti memupuk semangat supaya orang menjadi manusia bagi sesama. Karena dalam bahasa Inggris itu diterjemahkan dengan “to be man for others”, dan ada jeda sejenak dari presenternya, saya menyeletuk lirih “woman for us” dan baru beberapa detik sesudahnya para peserta menatap saya sambil tertawa. Saya tak tahu apakah mereka menangkap maksud saya atau menertawakan bahasa Inggris saya.
Teks bacaan utama hari ini juga menggarisbawahi bahwa karunia Allah, termasuk agama, tidak diberikan sebagai hak milik pribadi, tetapi sebagai terang dan tempat berteduh bagi yang lainnya. Karena itu, ini adalah undangan untuk menjadi man and woman for and with others. Otherwise, agama tidak lain hanya politisasi pansos demi kekuasaan, yang bisa bikin orang mengabaikan kekuasaan Allah sendiri.
Tuhan, mohon rahmat kerendahan hati supaya hidup keagamaan kami dapat semakin mencerminkan pribadi yang eksis demi kesejahteraan bersama alih-alih kemuliaan diri atau kelompok kami sendiri. Amin.
JUMAT BIASA III C/1
31 Januari 2025
Posting 2021: Iman Kok Konsumtif
Posting 2019: Sayembara Agama
Posting 2017: Tikus Agama dan Bangsa
Posting 2015: Bedanya Burjo dan Bojo
