Sindikat

Published by

on

Beberapa waktu lalu tetangga kamar saya bercerita soal sindikat maling di Paris yang anggotanya punya peran unik dan kerja mereka tampak sedemikian profesional sehingga orang pada umumnya tidak akan berpikir bahwa mereka ini anggota sindikat yang sama. Ada yang buka lapak permainan. Yang lain berlagak seperti turis yang tawar-menawar dengan pembuka lapak. Yang lain lagi berdiri di kejauhan untuk keamanan mereka maupun demi mengondisikan pengunjung melewati lapak permainan. Mereka tampak tidak saling kenal dan bahasa tubuh mereka membuat orang yang lalu lalang tertarik untuk melihat, ikut bermain, dan lama-kelamaan kehabisan uang beberapa puluh Euro di sana.

Saya tidak tahu apakah modus seperti itu masih ada di sana, tetapi saya yakin modus seperti itu sudah jamak di ranah politik-ekonomi yang lebih luas. Saya tidak akan mengambil contoh proses pilpres yang lalu, tetapi bahkan kasus perang dagang yang dicanangkan presiden Tram tidak bisa lagi saya pahami semata bentuk kegilaannya sendiri. Ini adalah perkara sindikat, yang masing-masing anggotanya punya peran di balik layar dan punya target keuntungannya sendiri-sendiri. Tidak mudah membuktikannya justru karena anggota sindikat itu sewajarnya punya keahlian khusus yang diarahkan untuk target yang sama.

Teks bacaan utama hari ini menampilkan ironi yang menimpa para pemuka Yahudi yang tergabung dalam Mahkamah Agama. Ini adalah majelis tinggi di Yerusalem yang baru dipanggil untuk membahas kasus yang super penting yang bisa memengaruhi posisi bangsa Yahudi di hadapan imperialis Roma. Hanya bagi lembaga ini direservasi hak untuk menjatuhkan hukuman mati seturut hukum Yahudi. Ironinya ialah bahwa keputusan mereka untuk menghukum mati justru berasal dari keresahan mereka atas kenyataan bahwa orang yang mereka ingin eksekusi mati itu baru saja melakukan mukjizat yang membuat seseorang bangkit dari kubur. Apa gunanya membunuh orang yang punya kekuatan untuk membangkitkan orang mati? Bukankah itu malah akan mempertegas kekuatannya atas kematian?

Akan tetapi, begitulah kerja sindikat. Mereka tidak akan peduli ironi karena kepedulian seperti itu justru akan menelanjangi agenda jelek sindikat. Bayangkanlah salah seorang anggota sindikat maling di Paris itu jatuh kasihan pada seorang pengunjung karena tahu satu daerah asal dengannya, ia lengah dan tak bisa menjalankan perannya dan polisi dengan mudah meringkus teman-temannya. Sindikat harus satu komando.

Yesus, para nabi, tidak membutuhkan sindikat, tetapi teman dan sahabat, yang menjadikan kehendak Allah sebagai kiblat. Alhasil, kematian yang mengintainya tidak menjadi akhir, melainkan kesempatan supaya kiblat itu semakin tertangkap oleh teman dan sahabatnya. Harganya mahal, tetapi hasilnya juga sepadan. Orang-orang di sekelilingnya, juga yang tadinya tampak berkhianat, membakar diri mereka dengan api Roh Kudus untuk hidup tanpa ironi yang membuat orang ngotot dengan agendanya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat ketekunan untuk berkiblat pada kehendak-Mu. Amin.


HARI SABTU PRAPASKA V
12 April 2025

Yeh 37,21-28
Yoh 11,45-56

Posting 2020: Selera Baginda
Posting 2019: Hoaks Dulu sebelum Sidang
Posting 2017: Semoga Damai Menyertaimu

Posting 2015
: Musuh Bersama

Posting 2014: Divide et Impera, Hari Gini?

Previous Post
Next Post