Optimisme dibangun atas kalkulasi manusiawi. Harapan diletakkan atas dasar kalkulasi ilahi. Membolak-balik kenyataan ini mengantar orang pada pintu gerbang kecemasan dan kekecewaan. Contohnya banyak. Menaruh harapan pada orang bisa berujung pada PHP. Menaruh harapan pada Indonesia Emas 2045 bisa bikin orang cemas sampai setelah 2045. Seperti janji kampanye dan sesudah kampanye usai (dan masih tetap kampanye juga) mengenai pabrik tektil dan pabrik es, optimisme jutaan lapangan-kerja-baru bisa berujung pada PHK besar-besaran.
Sama halnya, menaruh optimisme pada kalkulasi ilahi (yang selalu misteri) juga bikin orang kecewa. Begitu yakin kekuatan doa bisa membuat orang lolos SPMB, berujung pada protes bahwa Allah tak mendengar doa umat-Nya atau Allah itu memang tiada. Begitu yakin pada kekuatan sendiri untuk mengontrol hidup, ujung-ujungnya depresi dan terang iman semakin redup.
Teks bacaan utama hari ini menggarisbawahi wasiat Yesus sebelum meninggalkan murid-muridnya. Pesannya jelas: kalau kalian sungguh mengasihi aku, kalian akan melakukan gerakan seperti gerakan yang kulakukan; dan untuk itu, tak perlu cemas dan gentar, roh pula yang akan menemani kalian. Seperti seorang anak yang takut pada kegelapan, kehadiran orang tuanya tidak mengubah kegelapan, tetapi memberinya harapan dan kekuatan untuk menghadapi kegelapan itu.
Dengan demikian, damai sejahtera yang dijanjikan Yesus bukanlah damai semu yang memaksa dunia terkontrol oleh keinginan mbilungnya, melainkan damai sejati yang bertahan dalam situasi yang mengenaskan, mencemaskan, mengecewakan, dan seterusnya. Damai sejati ini memungkinkan roh mewujudkan diri dalam kemerdekaan orang untuk memberikan diri, menyalurkan cinta, hidup berbagi. Frase terakhir ini mungkin bisa menyesatkan orang karena cenderung dilekatkan pada berbagi sesuatu yang tangible: uang, barang, makanan, dan sebagainya.
Yesus menyodorkan dimensi lain: membagikan roh yang intangible: keutamaan, nilai, karakter, cinta, ilmu pengetahuan, dan seterusnya. Di sini, orang tidak akan kehilangan sesuatu karena membagikan yang intangible itu. Sebaliknya, ia malah bisa semakin berkembang karena membagikannya: ia lebih mampu beradaptasi, lebih tahu cara-cara baru untuk mengembangkan ilmu, dan seterusnya. Begitu pula dengan cinta dan seterusnya. Poin saya, yang intangible itu lebih representatif sebagai roh yang hidup, yang membela, menegur, mengingatkan orang pada kesejatian hidupnya, pada lifestyle yang lebih dulu dihidupi Yesus Kristus.
Posting ‘Monggo Silakan‘ memberi contoh aset intangible yang bisa jadi manifestasi roh yang menemani anak dalam kegelapan, membuat iman, harapan, dan cintanya berkembang. Semoga Anda dan saya mendapat rahmat kepekaan untuk hidup dengan roh yang dijanjikan Yesus Kristus kepada murid-muridnya, juga jika Anda tak mengklaim diri sebagi muridnya. Kein Problem. Amin.
HARI MINGGU PASKA VI C/2
25 Mei 2025
Kis 15,1-2.22-29
Why 21,10-14.22-23
Yoh 14,23-29
Posting 2022: Otonom
Posting 2019: Rumah Ibadah
Posting 2016: Salam Lebay
