Salah satu jasa zaman modern adalah pemahaman oposisi biner, yang sangat berguna untuk mengerti bagaimana semesta ini berjalan. Yang paling kentara ialah cara kerja sistem komputasi yang mengandalkan angka 0 dan 1 untuk merujuk dua kutub yang memungkinkan suatu fungsi berjalan atau berhenti. Oposisi biner juga membuat orang bisa menggali makna dari suatu karya sastra. Orang bisa melakukan evaluasi karena memang pada kenyataannya ada aneka oposisi biner itu: terang-gelap, tua-muda, tinggi-rendah, mahal-murah, luar-dalam, dan seterusnya.
Celakanya, karena bingkai oposisi biner itu sudah tertanam dalam benak orang, kerap kali orang lupa bahwa bingkai oposisi biner itu adalah temuan modern. Kenapa celaka? Karena jika orang tak sadar akan hal ini, bagaimana ia membaca Kitab Suci akan sangat bergantung pada oposisi biner itu.
Emang gua pikirin, Rom?
Ya gak usah lu pikirin, asal lu ngerti aja apa akibat oposisi biner untuk baca Kitab Suci.
Emang apaan akibatnya, Rom?
Lah, dibilang gak usah mikirin, malah nanya!
Iya kan nanya gak usah mikir, Rom; wkwkwk
Teks Injil hari ini menuturkan bagaimana Yesus diprotes karena dianggap tidak memberi respek pada ritual kebersihan Yahudi. Celakanya, Yesus malah omong soal bersih luar-dalam. Dia kritik orang-orang Yahudi yang bersih di luar, kotor di dalam. Nah nah nah, jika Anda dan saya tak waspada, kita bisa berpikir bahwa Yesus sedang berwacana soal konsistensi antara yang luar dan yang dalam. Jika dilebarkan, kita bisa omong ke sana kemari soal kemunafikan dan lain-lainnya.
Apakah itu dunia teks yang dirujuk konflik Yesus? Tampaknya tidak, karena di situ disodorkan juga pertanyaan retorik Yesus: bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam?
Artinya, keprihatinan Yesus tidak terletak pada kemunafikan, tetapi pada persoalan bahwa Dia semestinya menjadi rujukan bagi yang dalam maupun yang luar. Poinnya justru “Dia” yang semestinya menjadi acuan, entah hidup luar atau dalam.
Nah, dunia Kitab Suci tidak mengenal oposisi biner temuan modernitas. Bagi dunia Kitab Suci, kehidupan ini berpusat pada Yang Satu itu. Kepada Yang Satu itu, seluruh oposisi biner bergantung. Akibatnya, jika Yesus bicara mengenai ‘hati’, tersesatlah orang yang membaca wacana Kitab Suci itu dengan bingkai oposisi biner seakan-akan hati itu milik bagian dalam dan sisanya bagian luar. Dari situ mengalir keyakinan semu mengenai kesucian: semua menjadi individual.
Kesucian Kitab Suci tidak pernah bersifat individual: ia mengalir dari relasi autentik dengan Dia, yang jadi bersih dan utuh ketika dibagikan kepada yang lain, sebagaimana zakat dalam dunia Islam. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa uang dan kekayaan kita bersih; jalan untuk membersihkannya justru dengan mengalokasikannya kepada mereka yang paling rentan akibat uang dan kekayaan yang kita kumpulkan. Asumsi dasarnya: hanya kepada Dia kita semua bergantung.
Tuhan, mohon rahmat kesederhanaan hati supaya dapat sungguh hidup di hadirat-Mu. Amin.
SELASA BIASA XXVIII C/1
14 Oktober 2025
Selasa Biasa XXVIII C/1 2019: Wudu Dulu
Selasa Biasa XXVIII A/1 2017: Prebooming…
Selasa Biasa XXVIII C/2 2016: Maafkan Ayat Suci
Selasa Biasa XXVIII B/1 2015: Agama Topeng Monyet
Selasa Biasa XXVIII A/2 2014: Legislator Oke, Legalistik No
