Prebooming…

Prebooming berarti kurang lebih mengenai masa sebelum terjadi suatu lonjakan perekonomian. Semoga saja dengan gubernur baru, istilah pribumi yang booming itu tidak menjadi-jadi karena segera tertutup oleh lonjakan perekonomian pasca gubernur lama lengser. Saya ragu-ragu sih, tapi bolehlah berharap semoga istilah pribumi tidak lagi terlontar dari mulut pejabat publik. Hambok mau dibungkus dengan perspektif sejarah sekalipun, kata pribumi itu sendiri masih berbau kolonialisme dan bahkan rasisme [siapa jal yang bikin istilah pribumi nonpribumi kalau bukan kolonial yang hendak membuat stratifikasi bangsa terjajah?]. Semoga pejabat publik yang meluncurkan istilah pribumi ini bisa berempati dengan segmen masyarakat yang punya posisi lemah dan punya pengalaman traumatis karena rasisme. Wis gitu ajalah…

Loh, Mo, njuk hubungannya sama bacaan hari ini apa je?
Hahaha iya lupa. Sudah ngantuk soalnya.

Dalam rasisme itu sudah ada judgment atau penilaian tertentu yang dilandasi oleh pandangan tertentu terhadap ras tertentu. Apa tolok ukurnya? Ya cara pandangnya sendiri tentu saja: berdasarkan kebiasaan, tradisi, budaya, tata krama, aturan sendiri. Mereka yang tak menerapkan aturan kebiasaan itu dicap begini begitu, padahal problemnya tidak hanya terletak pada ketidaktahuan orang lain akan adat istiadat mereka, tetapi juga pada ketertutupan mereka bahwa ada dunia lain yang punya keberbedaan, yang tidak perlu dinilai lebih baik atau lebih buruk. 

Itulah yang terjadi pada orang Farisi yang heran setengah mati [lebay amat] terhadap Yesus yang tidak mencuci tangan sebelum makan. Cuci tangan itu adalah bagian ritual orang Yahudi sebelum makan. Entah apa yang terjadi pada Yesus. Mungkin sudah terlalu lapar, mungkin memang diulur-ulur pengadaan tempayan untuk cuci tangannya, mungkin Yesus sengaja, atau mungkin-mungkin lainnya, mboh (lha wis ngantuk og’). Poinnya jadi kelihatan ketika orang Farisi itu memakai ritual mereka untuk menilai, membuat frame mengenai kualitas orang lain yang berbeda dari mereka. 

Itu bisa terjadi tidak hanya pada orang Farisi zaman dulu, tetapi juga orang Farisi zaman sekarang: yang begitu devotif dengan agama, dengan ritual, dengan ibadat tertentu dan memandang negatif mereka yang kok ya ndelalahnya tak tergerak untuk mengikuti ritual atau agama yang sama.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami mampu melihat perbedaan sebagai sarana untuk mengembangkan diri, bukan alat untuk menghakimi yang berbeda. Amin.


HARI SELASA BIASA XXVIII A/1
Peringatan Wajib S. Ignatius dari Antiokhia
17 Oktober 2017

Rm 1,16-25
Luk 11,37-41

Selasa Biasa XXVIII C/2 2016: Maafkan Ayat Suci
Selasa Biasa XXVIII B/1 2015: Agama Topeng Monyet
Selasa Biasa XXVIII A/2 2014: Legislator Oke, Legalistik No

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s