Bisa jadi kualitas seorang pemimpin tecermin dalam kualitas pribadi mereka yang memilihnya. Sebaliknya, mungkin saja kualitas pribadi para pemilih dapat ditelusuri dari pribadi pemimpin mereka. Ini bukan kali pertama saya alami di jalan. Orang yang melakukan kesalahan ketika dikritik malah marah. Menerobos lampu merah dan membahayakan pengguna jalan lain, diklakson, malah pasang muka menantang. Melakukan manuver yang memaksa pengguna jalan lain melakukan pengereman mendadak dan klaksonnya berbunyi tanda protes, malah mengacungkan jari tengah ke pemakai jalan yang berhenti mendadak. Mengambil trotoar untuk jualan dan ditegur, malah mengurus izin berjualan di trotoar; dan meskipun tidak ada izin dari warga, toh izin tetap keluar.
Pola seperti itu tidak hanya terjadi dalam relasi horisontal dan antarindividu, tetapi juga dalam ranah publik. Ada saja yang ketika kedapatan memanfaatkan kuasa untuk memenangkan pilkada dan dikritik sebagai tindakan tidak etis, njuk malah dengan joget-joget membalas ‘etika ndhasmu’. Dengan modal itu, ia toh tetap melenggang memenangkan tahta kekuasaan. Lucunya, ketika dalam menjalankan kekuasaannya ada orang yang menyodorkan kritik, kok bisa-bisanya memakai pendengung untuk menyerukan supaya kalau memberikan kritik itu ya pakai etika! Lah… lupa pada ‘etika ndhasmu’ itu po ya, atau memang etika itu sak karep wudele dhewe? Apa ini bukan semacam perilaku childish gitu sih?
Teks bacaan utama hari ini diakhiri dengan pernyataan keras penulisnya: “sesudah peristiwa roti itu, mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil.” Peristiwa roti yang dikisahkan sebelumnya memang spektakuler. Dengan modal material kecil saja (lima roti dua ikan), mereka bisa melaksanakan program MBG untuk ribuan orang. Mereka tidak mengambil anggaran pendidikan, yang sudah kecil, tapi toh sukses memberi makan gratis pada begitu banyak orang. Bangga dengan proyek populis begini, mereka lupa bahwa kekuatan sesungguhnya terletak pada keikhlasan untuk memasrahkan pekerjaan pada kemurahhatian ilahi, bukan pada kalkulasi politik.
Tapi ya namanya juga usaha, orang mana yg tidak mengandalkan kalkulasi politik untuk meraih kekuasaan?
Jangan-jangan, jangan-jangan nih ya, mereka yang targetnya kekuasaan itu, entah status quo atau yang berupaya meruntuhkannya, adalah representasi para murid yang degil forever. Dalam hati yang degil itu, ukuran kesuksesan hanyalah angka, dan kebahagiaan yang diwartakannya selalu semu: semua baik-baik saja, ekonomi mah gampang, tinggal guyur duit dan makan gratis, beres. Dari kedegilan macam begini, bisa jadi beranak pinak kedegilan lain di segala level.
Tuhan, mohon rahmat kepekaan untuk menangkap panggilan keadilan-Mu. Amin.
HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Rabu, 7 Januari 2026
Posting 2025: Revolusioner
Posting 2021: Hantu Baru
Posting 2010: Iqra’
Posting 2019: A Friend in Deed
Posting 2016: Tak Ada Iman Bermodal Ndableg
Posting 2015: Buat Apa Takut?
