Hantu Baru

Kalau kemarin saya sodorkan kelegaan karena hidup bersama Allah, teks hari ini memberi contoh mengenai apa jadinya jika orang beriman tidak hidup bersama Allah. Kisahnya sangat sederhana. Para murid itu mendayung perahu mereka dengan susah payah karena rupanya ada angin sakal. Susah payah kerja tentu bisa melelahkan dan dalam kondisi lelah itu orang belum tentu bisa mempekerjakan indranya baik-baik dan menalarnya pun bisa jadi terbatas. Tak mengherankan, mereka mengira Guru dari Nazareth yang ada di atas permukaan air sebagai hantu.

Dalam KBBI daring, hantu didefinisikan sebagai roh jahat, yang dianggap terdapat di tempat-tempat tertentu. Ini klop juga dengan pandangan dunia murid-murid Guru dari Nazareth itu. Danau atau laut adalah simbol kekuatan gelap yang dapat mematikan orang (meskipun mereka menjala ikan ya dari danau). Ketambahan angin sakal, kompletlah danau itu jadi manifestasi kekuatan jahat. Karena pikiran jernih absen, keterkejutan mereka terhadap sosok hantu atau roh jahat itu memicu ketakutan.

Akan tetapi, apa sebetulnya objek ketakutan mereka? Hantu atau roh jahat itu sendiri atau objek lain? Entahlah. Akan tetapi, jika melihat dialognya, tampaknya ketakutan itu muncul justru karena kesalahan berpikir: menganggap Guru mereka sebagai roh jahat. Jadi, objek ketakutan itu sebenarnya ada dalam pikiran mereka sendiri. Kalau pikiran jernih, sudah sewajarnya ketakutan lumer. Tak mengherankan, dalam teks bacaan pertama disampaikan keyakinan bahwa cinta mengenyahkan ketakutan. Orang yang hidupnya sungguh diliputi cinta, terbebaskan dari ketakutan.

Pernah saya bagikan pengalaman dalam posting Wedding Rings: objek ketakutan itu lebih merujuk pada paham sesat orang mengenai anu daripada anunya sendiri. Covid-19, misalnya. Bagaimana mungkin Anda takut pada virus itu? Anda tidak takut virus, tetapi takut sakit, takut mati, takut ekonomi hancur, takut ditinggal orang tercinta, dan seterusnya. Semua itu adanya dalam pikiran, bukan? Kalau orang harus takut, bukan pandemi yang harus ditakuti, melainkan cara orang menghadapinyalah (way of proceeding) yang pantas dikhawatirkan. Barangkali betul bahwa virus individualisme atau ketidakpedulian lebih mengerikan daripada virus Covid-19.

Hantu baru itu, dengan demikian, tidaklah sungguh baru. Sudah bercokol dalam diri orang yang lelah dengan hidupnya karena mengandalkan diri sendiri dan hanya bisa berpikir dengan perspektifnya sendiri, dalam dunianya sendiri. Hantu ini mungkin hanya bisa diusir dengan way of proceeding yang sudah dibahas kali lalu: bergaul dengan Tuhan.
Tuhan, mohon rahmat cinta-Mu semata yang membebaskan kami dari aneka ketakutan. Amin
.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Rabu, 6 Januari 2021

1Yoh 4,11-18
Mrk 6,45-52

Posting 2020: Iqra’
Posting 2019: A Friend in Deed

Posting 2016: Tak Ada Iman Bermodal Ndableg

Posting 2015: Buat Apa Takut?

1 reply

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s