Wedding Rings

Anda yang pernah berurusan dengan mood ring tentu punya cerita. Ini kejadian pada masa ujian akhir semester yang bagi kebanyakan pesertanya jadi hidup-matinya masa depan mereka. Nama ujiannya itu ad audiendas (Lidah Jawa mengejanya sebagai adu êndhas). Kami mesti menghadapi tiga penguji yang masing-masing punya kompetensi di ranah hukum, moral, dan agama gitulah gampangnya. Kalau tidak lulus ujian itu, orang tidak diperkenankan jadi pastor.

Saya tiba di tempat ujian beberapa menit sebelum jatah waktu ujian saya. Seorang kawan memanggil saya dan meminta saya mengenakan sebuah cincin dan kok ya saya dengan polosnya membiarkan dia memasangkan cincin itu pada jari manis saya. Untung dia tak omong apa-apa sewaktu memasangkan cincin itu sementara mata teman-teman terarah kepada kami! Andaikan dia bilang, “Kenakanlah cincin ini sebagai tanda kesetiaanku padamu,” pasti saya pinguin pingsan.
Beberapa detik setelah terpasang, cincin itu berubah warna jadi biru (sepertinya cincin itu tahu warna kesukaan saya).
Lu gak takut, Set?”
“Takut apaan? Macan?”
“Nah ini, mau ujian?”
“Kenapa emangnya?”
“Gak bisa jadi pastor kalau gak lulus, kan?”
“Ya kan bisa ngulang ujian.”
“Kalau gak boleh dan gak bisa jadi pastor?”

Iya betul. Kalau tidak lulus ujian ad audiendas itu, orang tak boleh mendengarkan pengakuan dosa umat dan hampir bisa dipastikan juga tidak bisa jadi pastor dalam Gereja Katolik. Saya ingat kakak kelas saya yang gagal dalam ujian itu, juga mereka yang kemudian mesti mundur dari jalur pendidikan imam karena kegagalan ujian adu êndas ini. Akan tetapi, bersamaan dengan melepas cincin itu saya menyodorkan jawaban negatif: juga kalau tidak boleh jadi pastor, no problema!

Itu bukan karena saya yakin bisa lulus ujian (lha wong saya tidak ikut semua perkuliahan yang jadi materi ujiannya), sama sekali tidak, melainkan karena ‘jadi pastor’ bukan segala-galanya bahkan meskipun itu cita-cita saya sejak SD! Maksud saya, kalau memang tidak qualified seturut standarnya, ngapain mesti bikin mood ring jadi hitam? (Katanya itu indikasi tegang, stress.)

Peringatan Santo Yoakim dan Santa Ana, ortu Maria, bukan perkara romantis-romantisan dengan wedding ring (yang mungkin dah gak muat lagi gara-gara jari-jari jadi jempol semua 😂😂😂). Ini cara liturgi Katolik merefleksikan akar keselamatan dari Allah, yang pastinya jarang bekerja seperti mood ring tadi, tetapi seperti wedding ring, yang mengundang orang untuk menyelisik komitmen-komitmen hidupnya, yang terbangun secara bertahap. Memang begitulah Allah mendidik umat-Nya, lewat peristiwa-peristiwa biasa dan lumrah. Hasilnya bergantung pada komitmen orang sendiri untuk menata yang biasa itu.

Bukan soal beruntungnya Yoakim-Ana bisa melihat apa yang didambakan para pendahulunya, melainkan bahwa apa yang didambakan para pendahulunya itu terealiasi dalam jalinan komitmen orang-orang yang setia pada janji mereka dengan Allah: para nabi, raja, imam, ya orang biasa pada umumnya, yang melihat sejarah hidup pribadi maupun hidup bersama dalam perspektif wedding rings tadi, sehingga kalau mengenakan mood ring pun warnanya senantiasa biru (ya sekurang-kurangnya hijau deh, boleh jalan terus), juga meskipun ada memarnya.😂😂😂

Ya Allah, mohon rahmat kesetiaan untuk meletakkan peristiwa besar dan kecil dalam proyek keselamatan-Mu. Amin.


PERINGATAN WAJIB ST. YOAKIM DAN ANNA
(Jumat Biasa XVI C/1)
26 Juli 2019

Sir 44,1.10-15
Mat 13,16-17

Posting 2018: Beautifikai Mbahmu
Posting 2017: Thank You
Posting 2016: Jadi Ortu Bersyarat

Posting 2014: Perlu Hari Orang Sakit?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s