Akar

Published by

on

Tanpa akar, kita tidak dapat hidup: suatu bangsa tanpa akar, atau yang meninggalkan akarnya, adalah bangsa yang sakit. Demikian pula, seseorang tanpa akar, yang telah melupakan akarnya, adalah orang yang sakit. Karena itu, kita harus menemukan kembali akar kita dan menemukan kekuatan untuk bergerak maju, kekuatan untuk berbuah dan kekuatan untuk berkembang, karena apa yang dimiliki pohon dalam keadaan berbunga berasal dari apa yang terkubur di bawahnya.

Untuk membuat kalimat-kalimat di atas, saya mesti berpura-pura menjadi almarhum Paus Fransiskus yang menyampaikan refleksinya sekitar sewindu lalu. Refleksi itu kiranya sambung dengan teks bacaan utama hari ini: sosok Yesus dewasa yang kembali ke kota atau desa tempat ia dibesarkan, Nazaret. Seringkali, kembali ke tempat asal dapat membantu kita memahami dan menangkap benang emas perjalanan hidup. Pergi seolah-olah hanya masuk akal jika ada pulang ala rute bis umum dan ke mana orang pergi bisa jadi bergantung pada ke mana dia pulang.

Sayangnya, untuk orang seperti saya, pulang ke tempat saya dibesarkan tidak memberi vibes keberakaran saya. Lha piye, jal? Gatsu yang dulu jalur hijau nan sejuknya saya pakai juga untuk tendang-tendangan bola atau kejar-kejaran, sekarang sudah kehilangan kesejukannya. Kampung tempat saya menikmati banjir susu coklat setiap tahun, sekarang sudah jadi kampung kos-kosan. Saya yakin mpok Romlah sudah tiada, bahkan anaknya yang sepantaran saya mungkin juga sudah kehilangan akar kebetawiannya, entah menyingkir ke mana. Kalau begitu, keberakaran tidak saya temukan pada lokasi, tetapi pada orang-orang yang punya kontribusi besar dalam hidup saya. Semakin saya mengorek masa lalu mereka, semakin saya tercerahkan juga untuk memahami diri saya sendiri.

Sosok Yesus dewasa mengingatkan saya bahwa ada keberakaran yang tidak tertambat pada lokasi dan orang, tetapi pada Roh Tuhan. Keberakaran yang tertambat pada roh begini ini membuat orang punya target pemerdekaan sesamanya: membebaskan orang tertindas, melepaskan ketertawanan orang, memberdayakan yang miskin, memperhatikan yang tersingkir, dan semacamnya.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk kembali ke akar hidup sejati. Amin.


HARI BIASA SETELAH PENAMPAKAN TUHAN
Kamis, 8 Januari 2026

1Yoh 4,19-5,4
Luk 4,14-22a

Posting 2025: Roh Cuan
Posting 2021: Pro-Kontra
Posting 2020: Jangan Bodoh
Posting 2019: Kabar Gembira Hikmat

Posting 2016: Iman Jelangkung
Posting 2015: Mau Alih Profesi?

Previous Post
Next Post