Khianat

Published by

on

Saya tidak berhasil mengingat kapan kali pertama saya mendengar label Yudas Iskariot sebagai pengkhianat. Akan tetapi, sebagaimana saya sampaikan secara implisit pada beberapa posting pada blog ini, label pengkhianat kepada Yudas Iskariot itu diskriminatif! Itu tidak fair kecuali jika diberlakukan juga kepada setiap orang yang mengklaim diri sebagai pengikut Kristus. Pertama, dari pencarian kata di Kitab Suci, hanya ada 9 kata yang memuat ‘khianat’ dan itu pun hanya ada di Kitab Suci Ibrani (1Sam 14,33; 2Sam 18,33; 2Raj 11,14; 2Taw 23,13; Mzm 25,3; Yes 48,8; Yer 12,6; Hab 1,13; 2,5). Kedua, dalam Kitab Suci berbahasa Yunani, kata kerja yang dipakai untuk tindakan Yudas Iskariot adalah παραδιδώμι (paradidomi), bukan προδίδωμι (prodidomi). Halah, apa pentingnya sih, Roooom Rom?! Dua-duanya kan bisa berarti mengkhianati!

Betul, tetapi pada kenyataannya yang dipakai dalam Kitab berbahasa Yunani itu adalah paradidomi, yang diterjemahkan secara tepat dengan kata ‘menyerahkan’ dan bukannya mengkhianati [Ironisnya, kata mengkhianati malah dijadikan judul perikop Mat 26,14-16]. Didomi sendiri sudah berarti menyerahkan (hand over, deliver, give, entrust) dan prefiks para dan pro menjadi pembeda. Prefiks para lebih netral. Paradidomi bisa berarti menyerahkan kepada otoritas atau musuh, yang tidak selalu berarti mengkhianati, bergantung pada konteks dan perspektif melihatnya. Hanya dalam konteks tertentu kata itu bisa diterjemahkan sebagai mengkhianati.
Lah, trus, apa bukannya dalam konteks Yudas Iskariot ini paradidomi tidak bisa dipahami sebagai pengkhianatan sebagaimana judul perikop bacaan hari ini?
Nah, itu tadi, kalau memang mau bilang Yudas mengkhianati Yesus, mestinya dipakai prodidomi yang jelas-jelas berarti mengkhianati dong! Prefiks pro bagi didomi lebih bernuansa negatif.

Karena yang dipakai paradidomi, nuansanya jadi ambigu dan ambiguitas ini malah bisa membantu pembaca untuk menangkap apa yang hendak ditawarkan penulis Matius.
Menurut saya, Yesus bukan sosok guru yang sukses mendidik semua muridnya. Itu ya seperti Anda mengajar di kelas gitu deh; ada satu dua yang cuma bengong dan tidak menangkap apa-apa. Yudas [sebenarnya yang lain juga sih] tidak paham visi yang disodorkan Yesus. Omong kosong telek bebeklah Mesias yang lembut dan tak melawan. Ia tidak paham. Akan tetapi, dalam situasi plonga-plongo atau bahkan mungkin lama-kelamaan yakin bahwa Yesus ini sesat, tak sesuai dengan tradisi religius yang melekat di kepalanya, ia mencari pembimbing rohaninya malah ke imam agung dan orang-orang yang berseteru dengan Yesus!

Itu bedanya Yudas dengan Petrus, misalnya. Meskipun sama-sama plonga-plongo, Petrus tetap berkonsultasi dengan gurunya, tetap terlibat dalam proyek yang ia sendiri belum paham betul. Yudas menarik diri, bergumul sendiri dalam sepi. Baik Yudas maupun Petrus sama-sama bergumul sebagai murid, tetapi Yudas menyerahkan gurunya bukan hanya kepada penguasa agama (yang mungkin jadi alasan bagi label ‘pengkhianat’) melainkan juga, secara teologis, kepada ‘rencana Ilahi’ yang ia dan teman-temannya tak pernah mengerti sebelum Yesus mati. Berkhianatkah orang yang menyerahkan orang lainnya kepada rencana Ilahi?

Semoga Anda dan saya diberi rahmat kebijaksanaan untuk menyerahkan hidup kepada misi keselamatan ilahi yang tak pernah diskriminatif, juga terhadap Yudas Iskariot, yang adalah kita sendiri. Amin.


HARI MINGGU PALMA A/2
29 Maret 2026

Yes 50,4-7
Mzm 22,8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2,6-11
Mat 26,14-27,59

Posting 2023: U20
Posting 2020: Diminished
Posting 2017: Hashem Melech 3.0

Posting 2014: Welcoming The Wisdom
*

No Comment

Previous Post