Hashem Melech 3.0

Barangkali catatan ini ndherek mulya alias numpang kemuliaan suatu polemik yang melibatkan lagu pujian Yahudi yang, mesti saya akui, sebagai pemicu semangat, asik gila’. Judulnya Hashem Melech, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mestinya bukan “Kobarkan Semangat Warga Jakarta”, eaaaaa….. Konon jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Hashem Melech berarti The Lord is King. Lha ini pas untuk mengawali rangkaian Pekan Suci dengan Minggu Palma yang kekhasannya ialah perarakan dengan daun palem untuk menggambarkan bagaimana rakyat Yerusalem menyambut Yesus sebagai ‘Raja’.

Tentu agama Yahudi takkan mengidentikkan ‘Raja’ itu dengan sosok Yesus; lha ya bagaimana mungkin manusia yang satu itu jadi ‘Raja’ kekal selamanya wong jelas mati disalib gitu kok! Itulah ranah keyakinan iman, tak usah diperdebatkan sebagaimana blog ini juga tak akan mempersoalkan siapa yang menjiplak apa. Pokoknya, yang satu lagu pujian, yang lain lagu politik. Kalau yang mengklaim lagu pujian malah sewot dengan plagiasi karena incomenya merosot, dipertanyakanlah pujiannya: ini mau memuji Allah atau mau tenar cari duit? Kalau yang mengklaim lagu politik ribut dengan tameng pembelaan dirinya… ya itu mah biasa. Namanya juga politik: menghimbau orang lain supaya jujur, tetapi membiarkan dirinya meniru program orang lain.

Maka, Hashem Melech saya tambahi 3.0 hanya untuk mengatakan ini bahasan yang melampaui problem teknis plagiasi politis itu. Saya hendak kembali pada The Lord is King yang dinarasikan Matius hari ini. Kisah derita Cinta yang dinarasikan Matius punya detail yang mungkin baik direfleksikan saat ini. Yang pertama adalah momen perjamuan terakhir ketika tahu-tahu Yesus bilang,”Salah satu dari kalian akan menyerahkan aku” dan tanggapan aneh murid-muridnya. Apa anehnya? Lha ya mereka sendiri tentu tahu dong sikap mereka terhadap Yesus, trus kenapa mesti tanya ke Yesus,”Jangan-jangan aku ya? Apakah orang itu adalah aku?” Lebih aneh lagi adalah tanggapan Yudas Iskariot. Sudah punya rencana untuk menyerahkan Yesus, kok bisa-bisanya bertanya seperti murid lain,”Apakah orang itu aku ya?” Ini detail yang cuma ada dalam kisah Matius, tidak ada dalam Injil lainnya. Maksudnya apa ya?

Para murid, termasuk Yudas si pengkhianat itu, sudah tiga tahun bersama Yesus tetapi jebulnya masih juga ragu-ragu tentang sikap mereka sendiri terhadap Yesus. Yang tulus mau ikut Yesus ragu-ragu, yang mau mengkhianatinya pun ragu-ragu. Ini adalah representasi untuk umat beriman, umat beragama: sekian lama beragama, tetapi bahkan mengenai sikap praktisnya pun masih meragukan. Maklum, gimana gak ragu, wong sikap yang dijalankannya malah menghunjam hati nurani: mengikuti Tuhan, tapi menghalalkan darah orang lain, memperkosa Kitab Suci-Nya, hendak membasmi umat manusia yang berbeda darinya, dan sebagainya.

Ini berkaitan juga dengan detail kedua yang disodorkan Matius, yaitu saat salah seorang muridnya menghunus pedang dan memutuskan telinga seorang dari rombongan Yudas Iskariot. Matius lebih kentara menunjukkan sikap Yesus yang melarang kekerasan,”Barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.” Dunia kekerasan adalah dunia lama dalam tahap perkembangan kemanusiaan. Dominasi dalam dunia baru tidak ditempuh dengan kekerasan, tetapi dengan hidayah yang menyentuh dan mengubah hati setiap orang. Ini terkait dengan detail lain saat Pilatus lepas tanggung jawab untuk apa yang terjadi pada Yesus dan orang Yahudi berteriak lantang,”Biarlah darahnya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”

Menurut orang yang paradigmanya dunia lama, teriakan orang Yahudi itu dikaitkan dengan plot pemusnahan orang Yahudi juga di zaman Hitler. Ini adalah pemerkosaan teks Kitab Suci dari mereka yang seolah-olah menganggap holocaust itu adalah karma karena mereka membunuh Yesus. Aih aih, pemerkosa Kitab Suci bisanya ngotot dengan keyakinan dunia lama itu. Matius tak berpikir ke arah sana. Ia lebih mengarahkan perhatian orang pada kenyataan bahwa jika orang menjauhkan diri dari The Lord is King tadi (yang tak perlu harus dihubungkan dengan polemik mengenai status Yesus dari Nazaret), ia ada dalam rel kehancuran karena pendekatannya mesti adalah pendekatan kekerasan. Ini cethar membahana: perang takkan pernah selesai dengan perang baru.

Barangkali Minggu Palma kali ini boleh mengundang setiap orang beriman untuk bertanya diri: seberapa jauh ia berpihak pada Allah dan seberapa jauh keberpihakannya itu mencerminkan dunia baru, nonviolence.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tak terperosok dalam cara-cara curang apalagi kekerasan demi dominasi ambisi pribadi yang terbungkus ayat suci. Amin.


HARI MINGGU PALMA A
Mengenangkan Sengsara Tuhan
9 April 2017

Yes 50,4-7
Mzm 22,8-9.17-18a.19-20.23-24
Flp 2,6-11
Mat 26,14-27,59

Minggu Palma C Tahun 2016: Yakin Suka Love Story?
Minggu Palma B Tahun 2015: No Faith Out Of Fear

Minggu Palma A Tahun 2014: Welcoming The Wisdom
*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s