Murni?

Published by

on

Minggu, 9 April 30, pagi-pagi buta, seperti adat kebiasaan Yahudi pada tiga hari pertama setelah pemakaman, dua Maria bergegas menengok makam Yesus, sosok yang dikutuk Allah dalam POV penguasa agama Yahudi saat itu. Dua Maria itu kiranya sudah disebut sebelumnya (Mat 27,61): Maria dari Magdala dan Maria yang lain, yang barangkali adalah Maria ibu Yakobus dan Yusuf (Arimatea). Mengapa bukan Maria ibu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus yang jadi anggota ring satu sang guru yang belum lama dimakamkan? Nalarnya, jika Maria itu ngotot minta anak-anaknya ditempatkan pada posisi di kanan dan kiri sang guru yang berkuasa, melihat nasib tragis sang guru pun mestinya sudah melunturkan nafsunya: gak jadi minta jabatan deh, daripada terciduk dan ikut bernasib tragis!

Mari menimba inspirasi dari bahasa Yunani yang dipakai penulis teksnya. Kata kerja yang diterjemahkan dengan kata ‘menengok’ adalah θεωρέω (theoreo: to view). Di dalamnya terkandung juga nuansa mengontemplasikan, merefleksikan apa yang telah terjadi dengan segala upaya untuk mengerti siklus kehidupan yang terpampang nyata: uang tak bisa membeli kebahagiaan tetapi pada kenyataannya bisa membeli apa saja yang diinginkan orang untuk bahagia. Orang culas lebih beruntung daripada orang yang bekerja keras. Orang yang punya kuasa dengan sekehendak hati bisa membuat, mengubah, menabrak hukum. Sebaliknya, orang berhati mulia pencari kebenaran berakhir dengan teror, air keras, kebutaan, kalau bukan kematian karena arsenik. Begitu seterusnya, falsafah hidup seperti roda semakin kentara. Tiada kebaruan di dunia ini selain siklus untung rugi, sukses gagal, hidup mati, perang gencatan senjata sampai akhirnya kiamat.

Karena siklus seperti itu menimpa orang dekat mereka, bukannya tidak mungkin bahwa mereka berbagi kecewa, duka, luka, kesedihan, ketakutan, kekhawatiran akibat tokoh panutan mereka habis di kuburan, yang mungkin pantas juga diberi label tembok ratapan. Tiada harapan. Kalau harus berpisah, mengapa harus berjumpa? Kalau ujung-ujungnya toh sama-sama dikubur, untuk apa dilahirkan? Persis di situlah persoalannya. Mungkinkah mereka pergi ke makam untuk θεωρῆσαι tadi, untuk menimbang-nimbang kemenangan kematian?

Mungkin saja, tetapi pada awalnya jelas yang berkecamuk dalam pikiran mereka berasal dari logika dominasi duniawi. Dua Maria yang selangkah lebih maju dari Maria Yakobus dan Yohanes itu mewakili siapa saja  yang berpikir tanpa terang Paska. Mereka hanya melihat segalanya berakhir di kuburan. Dari tanah, kembali ke tanah. Dari abu, kembali menjadi abu.
Tetapi mari lihat bagaimana penulis Matius menutup kisahnya: mereka akan menjumpai-Nya di Galilea. Sebelum sampai ke sana, kisah perjumpaan mereka hanyalah ‘persiapan’ untuk perjumpaan sesungguhnya di Galilea.

Yes, kebangkitan tidak dinyatakan di makam kosong, tetapi di Galilea, tempat Kristus bekerja dan melangkah di tengah aneka bangsa yang tak pernah berbau ‘murni’. Tidak ada agama murni, ras murni, suku murni, murid murni. Kemurnian terletak pada ketulusan hati bekerja dan melangkah sebagaimana Yesus dari Nazareth hidup di Galilea: menantang status quo yang berdasar pada dominasi, diskriminasi, atau rasisme; mempersoalkan keyakinan semu bahwa kedamaian muncul dengan meniadakan yang lain. Makam yang disegel kekaisaran pun buyar karena kultur kehidupan yang senantiasa menantang budaya kematian.


MALAM PASKA A/2 (Vigili)
5 April 2026

Kej 1,1.26-31a
Kej 22,1-18
Kel 14,15-15,1
Yes 54,5-14
Yes 55,1-11
Bar 3,9-15.32-4,4
Yeh 36,16-17a.18-28

Rm 6,3-11
Mat 28,1-10

Posting 2023: Dagang
Posting 2020: Happy Heroes
Posting 2017: Transformed Women

Posting 2014: Mau Bukti Kebangkitan Kristus
 
*

Previous Post
Next Post