Tag: kata-kata kosong
-

Individualisme
Individualisme mungkin jadi salah satu penyakit subsadar yang merasuk sampai sumsum tulang belakang warga dunia. A.A. Navis membuat sketsa penderita individualisme dengan sosok Haji Saleh (paralel dengan Kakek, sang penjaga surau) dalam cerpen Robohnya Surau Kami. Bagaimanapun paham keselamatan orang, pokoknya keselamatan itu tertuju pada dirinya sendiri. Persetan [Persatuan Sepakbola…
-

Gratifikasi untuk Allah
Anda sudah tahu bagaimana nasib cinta yang dibangun atas dasar kata-kata semata: ambyar. Lucunya, seperti sudah diulas dalam posting Ambyar Sells beberapa hari lalu, keambyaran itu justru bisa lebih menarik orang banyak karena orang sudah tuman bin ketagihan terhadap yang ambyar-ambyar begitu. Ini bukan perkara narkoba semata, melainkan juga bahkan perkara rohani,…
-

Non Multa Sed Multum
Manakah yang lebih baik: duit berlembar-lembar tapi nilainya kecil atau duit selembar tapi nilainya besar? Ini bukan bahasan sensitif seperti posting kemarin, tapi jawabannya juga jelas gak-jelas, pasti gak-pasti: bergantung konteksnya. Menjelang lebaran kemarin saudara-saudari saya tiba-tiba jatuh hati pada lembaran coklat dan abu-abu sebanyak-banyaknya meskipun nilainya sepadan beberapa lembaran…
-

Debat Batin
Saya tidak bisa menilai debat tadi malam mengenai siapa pemenangnya. Kalau dilihat dari perspektif formal, saya kira paslon nomor genap lebih kelihatan ‘kompak’, dalam arti bahwa keduanya relatif aktif, meskipun dari segi substansinya tidak saya lihat kelebihan paslon itu. Maklum, format debatnya ya memang sopan seperti itu, mau gimana lagi. Paslon…
-

Akal Budi/Bulus
Ada sebagian orang yang usulannya begitu kreatif dan idenya sangat brilian justru karena orang lainlah yang mesti melaksanakan idenya itu. Bisa jadi yang diusulkannya adalah sesuatu yang berat dilaksanakan. Ini bisa terjadi misalnya antara rancangan seorang arsitek dan hitung-hitungan ahli teknik sipil. Yang satu maunya bangunan nyentrik dan yang lain…
-

Mohon Penjelasan Pak Pulisi
Kita tahu, bukan cuma cabe yang bisa jadi pedas, melainkan juga kata-kata. Bukan hanya cabe-cabean yang rasanya hambar (tergantung bahannya juga sih sebetulnya: coklat, keju, kayu, atau plastik, misalnya), melainkan juga kata-kata basi. Kata-kata basi, kata-kata kosong, tak bersentuhan dengan realitas hidup konkret seseorang. Itu mengapa slogan muluk bisa berubah…