Debat Batin

Saya tidak bisa menilai debat tadi malam mengenai siapa pemenangnya. Kalau dilihat dari perspektif formal, saya kira paslon nomor genap lebih kelihatan ‘kompak’, dalam arti bahwa keduanya relatif aktif, meskipun dari segi substansinya tidak saya lihat kelebihan paslon itu. Maklum, format debatnya ya memang sopan seperti itu, mau gimana lagi. Paslon nomor genap kelihatan menekankan kemendesakan ranah perbaikan perekonomian yang disokong dengan kenaikan gaji birokrat, sementara paslon nomor ganjil menekankan perampingan dan transparansi kinerja birokrat. Mana yang lebih feasible, saya kira masih bisa diperdebatkan.

Yang menarik perhatian saya ialah bahwa kedua paslon di akhir debat sopan itu tidak memberikan apresiasi kepada lawan debat mereka, bahkan meskipun paslon nomor ganjil masih punya cukup waktu untuk memberikan apresiasi. Paslon lainnya tak punya cukup waktu untuk memberikan apresiasi karena berpanjang lebar dengan retorika programnya sendiri. Apapun alasannya, pantaslah orang bertanya mengapa mereka tidak mau memberikan apresiasi kepada lawan debat mereka? 

Secara sepintas, tampaknya paslon pertama lebih kuat memberikan kesan tidak mau mengapresiasi karena dia punya cukup waktu untuk melontarkan apresiasi. Akan tetapi, kalau dipikir baik-baik, dipertimbangkan karakter peserta debatnya, kesan itu keliru. Kenapa? Karena paslon pertama ini menekankan transparansi dan penggemar ‘apa adanya’: kalau ada kesalahan ya laporkan saja, diproses secara hukum. Prosedur diikuti baik-baik dan tak perlu mengada-ada, kalau memang anak presiden tak lulus tes PNS ya sudah tak usah jadi PNS. Maksud saya, orang macam ini tak akan memberikan apresiasi kalau menurutnya memang tidak ada hal yang perlu diapresiasi.

Sementara itu, capres lain tidak memberikan apresiasi karena sudah habis waktunya untuk self-revealing. Dengan demikian, siapakah yang sebetulnya tidak mau memberi ruang untuk apresiasi?

Teks bacaan hari ini menyodorkan debat ‘kebatinan’. Guru dari Nazareth menyatakan bahwa dosa penderita lumpuh itu sudah diampuni, tetapi para ahli Taurat memprotesnya; tidak debat mulut, tetapi dalam batin: siapa lu bisa-bisanya bilang dosa orang diampuni?
Saya kira Guru dari Nazareth tahu yang dipikirkan ahli Taurat, bukan karena ia bisa mendengar suara batin mereka, melainkan ia mengerti cara berpikir mereka: yang berhak mengampuni dosa itu cuma Allah.

Haiya betul, si Guru dari Nazareth juga tidak mengatakan,”Aku mengampuni dosamu.” Ia cuma mengatakan,”Dosamu sudah diampuni.” Itu tidak mengatakan bahwa si penuturnya adalah Allah. Semua orang bisa omong begitu, bukan? (Bahkan mungkin lebih mudah mengatakan itu daripada mengatakan,”Aku mengampunimu.”)

Akan tetapi, Guru dari Nazareth tidak tinggal dalam debat batin. Ia tetap menuturkan kata-kata penuh daya. Alih-alih mengulangi rumusan yang jadi skandal bagi ahli Taurat itu, ia meminta orang lumpuh itu bangun mengangkat tilamnya dan pulang. Ndelalahnya, orang lumpuh itu benar-benar bangun dan berjalan! Tentu ini bikin puyeng ahli Taurat yang senantiasa mengincar si Guru dari Nazareth untuk mengeluarkan perkataan yang keliru.

Kalau suatu perkataan berdampak pada pembangunan hidup yang bermartabat, di mana kelirunya? Yang keliru adalah kata-kata yang cuma jadi slogan, bahkan meskipun dituturkan secara berapi-api.
Tuhan, bantulah kami untuk lebih menuturkan kata yang membangun hidup daripada mengintimidasinya. Amin
.


HARI JUMAT PEKAN BIASA C/1
18 Januari 2019

Ibr 4,1-5.11
Mrk 2,1-12

Posting Tahun B/2 2018: Bapakku
Posting Tahun A/1 2017: Markide atawa Markibo

Posting Tahun C/2 2016: Bergunakah Gagal Fokus?
Posting Tahun B/1 2015: Hari Gini Tuhan Masih Menghukum?

1 reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s