Non Multa Sed Multum

Manakah yang lebih baik: duit berlembar-lembar tapi nilainya kecil atau duit selembar tapi nilainya besar? Ini bukan bahasan sensitif seperti posting kemarin, tapi jawabannya juga jelas gak-jelas, pasti gak-pasti: bergantung konteksnya. Menjelang lebaran kemarin saudara-saudari saya tiba-tiba jatuh hati pada lembaran coklat dan abu-abu sebanyak-banyaknya meskipun nilainya sepadan beberapa lembaran merah saja. Padahal, sebelum-sebelumnya cinta mereka ada pada sebanyak-banyaknya lembaran merah. Seorang teman mengeluh susahnya penelitian kualitatif kepada saya, yang tak mampu membuat alat ukur penelitian kuantitatif. Manakah yang lebih sulit, lebih penting, lebih bernilai: kualitas atau kuantitas? Lebih baik sedikit-tapi-berbobot atau banyak-tapi-mediocre?

Pertanyaan serupa bisa juga berlaku untuk hidup keagamaan. Misalnya: lebih baik mengetahui banyak macam agama tapi secara superfisial atau mengetahui satu agama saja tetapi secara sangat mendalam? Jawabannya pun sama: bergantung konteksnya. Kalau Anda pengajar sosiologi agama, semakin banyak macam agama yang Anda ketahui sebagai contoh ya semakin baik dong. Mosok mengajar sosiologi agama cuma tahu elemen-elemen lembaga agama tetot? Jadi sosiologi agama tetot dong? Beda lagi kalau Anda guru agama dalam arti sosok yang bisa digugu (dipercaya) dan ditiru dalam hidup keagamaan (dalam agama Katolik dikenal istilah katekis), tentu lebih baik punya kedalaman terhadap agama tertentu.

Untuk itu saya perkenalkan istilah Latin: non multa sed multum. Konon ini dilontarkan oleh Marcus Fabius Quintilianus, seorang orator Romawi kelahiran Spanyol pada abad pertama Masehi. Sebagian orang menerjemahkannya: bukan kuantitas tetapi kualitas. Saya lebih suka menerjemahkannya non molte ma molto. Bingung gak? 😂😂😂 Saya mah anaknya gitu, bikin bingung! Sabar, Bang!
Penjelasannya begini. Molte itu kata sifat, sedangkan molto adalah pewangi #tuhkan. Molto itu kata keterangan. Jadi, kalau ungkapan itu diletakkan dalam kalimat, berarti bukan banyaknya hal (molte cose) yang dikerjakan, melainkan baik-baiknya (molto bene) hal itu dikerjakan. Tak mengherankan bahwa Santa Teresa menunjukkan bahwa yang penting melakukan hal (sebesar apa pun) dengan cinta dan tokoh suci lainnya mengatakan bahwa sesuatu itu kalau memang sungguh pantas dikerjakan, mesti dikerjakan sebaik-baiknya. Kalau begitu, kebaikan yang paripurna tidak terletak pada kata kerja dan objeknya (mengerjakan proyek ini itu, mempelajari itu ini, memiliki anu inu, dll), tetapi pada kata keterangannya: secara baik, benar, bermartabat, adil, dst.

Meskipun Guru dari Nazareth memberi saran supaya orang tidak berdoa dengan mengulang-ulang kata (embuhlah mengapa terjemahan Indonesianya jadi ‘bertele-tele’) seperti orang yang tak mengenal Allah, bisa dimengerti bahwa maksudnya bukan pengulangan katanya yang jadi persoalan, melainkan absennya isi kata yang diulang itu. Banyaknya kata tak bisa menggantikan intimitas yang autentik dan doa memang mirip-mirip cinta gitu deh: tak butuh banyaknya waktu dan kata.
Katanya, jantung doa bukanlah obrolan, melainkan dialog; bukan daftar permohonan, melainkan relasi; bukan lampu Aladdin, melainkan pribadi yang maharahim; bukan tujuan-tujuan manusiawi, melainkan kedipan ilahi.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami dapat berdoa tanpa lari dari tanggung jawab untuk menyatakan cinta-Mu dalam setiap hal yang kami kerjakan. Amin.


Kamis Biasa XI C/1
20 Juni 2019

2Kor 11,1-11
Mat 6,7-15

Kamis Biasa XI B/2 2018: Bukan SMA Gonzaga
Kamis Biasa XI A/1 2017: Akhlak Mulia
Kamis Biasa XI C/2 2016: Nabi… Bir Lu

Kamis Biasa XI B/1 2015: Ayo Petisi Tuhan
Kamis Biasa XI A/2 2014: Jakarta-Indonesia PP

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s