Cinta Agama, Yakin?

Meskipun saya seorang imam Gereja Katolik, pada tahun-tahun belakangan ini saya lebih sering ikut ibadat sebagai umat. Hitung-hitung untuk belajar sabar: terhadap khotbah pastornya yang ngalor-ngidul, terhadap ibadat yang tak mengalir, terhadap sesama umat yang rajin bermedsos selama ibadat, dan terhadap…. UANG!
Memang kalau sudah berhadapan dengan makhluk yang satu ini, persoalan bisa jadi runyam, apalagi kalau sudah disusupi klaim agama!

Mungkin Anda pernah berkendara melewati jalan yang macet karena ada pungutan. Yang menarik saya, ada pungutan untuk proyek pembangunan tempat ibadat! Dulu saya menggerutu karena orang-orang ini melantunkan ayat suci. Sekarang ini, gerutunya lebih karena itu bikin macet. Soal ayat-ayat suci mah, gak ada bedanya dengan apa yang dibuat di gereja.
Saya biasanya ikut memasukkan uang persembahan (dalam Gereja Katolik disebut kolekte). Jujur saja, kalau di dompet saya adanya hanya lembaran uang merah dan biru, saya tidak ikutan kolekte. Tunggu sampai ada beberapa warna abu-abu atau lembaran ungu atau coklat deh (ketauan dah gaji gua!😂😂😂)

Prinsipnya, iuran dalam ibadat itu dilakukan karena ayat-ayat suci. Akan tetapi, yang sempat membuat saya tak sabar ialah bahwa di tahun belakangan ini kotak iuran itu diedarkan dua kali, bahkan pernah saya dapati tiga kali! Ini apa-apaan sih? Memang saya hanya memasukkan uang sekali dan tak merasa dipaksa untuk memasukkan uang lebih dari sekali. Akan tetapi, sekali lagi, saya tidak hendak berpikir individualis. Bersamaan dengan saya mestinya ada umat yang tangannya tak bisa diam untuk mengambil uang dari tasnya dan memasukkannya ke dalam kotak kolekte lain tanpa tahu apa yang terjadi pada uang yang dimasukkannya itu!

Loh, Rom, jangan su’udzon gitu dong! Kan jelas di kotaknya ditulis ‘dana pembangunan’. Lha iya justru itulah! Apa bedanya dengan yang bikin macet di jalan tadi?
Romo ini tak tahu susahnya dapat uang untuk maintenance gedung!
Memang, tetapi siapa juga yang merancang gedung ibadat dengan biaya maintenance yang tinggi dan menyetujuinya? Anda bisa gelontorkan uang sekian milyar untuk membuat gereja mentereng di desa. Siapa yang menanggung biaya pemeliharaannya? Tuyul?

Ini memang runyam, sebagaimana orang tak bisa begitu saja mengklaim memberi sedekah kepada pengemis karena pengemis itu bisa jadi cuma kaki tangan sindikat pebisnis kemurahan hati orang beragama. Nah, bisa jadi loh sindikat itu berlabel agama!
Gereja Katolik bisa saja lupa pada semangat awal Guru dari Nazareth yang hendak menggenapi Hukum dengan cara kembali ke hati, ke makna sedekah, doa, dan puasa, bukan malah ribet dengan proyek, gedung, kompleks. Itu berarti orang beriman mesti melucuti kepastian, kenyamanan, aturan hukum, demi tampilan luarnya. Fokus orang beragama seharusnya justru membangun kemanusiaannya, bukan gedungnya
. Sayangnya, dari buahnya pohon itu dikenal (Mat 12,33). Artinya, kalau orang beragama itu ribet dengan gedungnya, itu cuma indikasi bahwa ia ribet, jika tak bisa disebut gagal, dengan kemanusiaannya.

Ya Allah, mohon rahmat kebijaksanaan untuk mengikuti semata yang menggerakkan kami mencintai-Mu dalam wujud kemanusiaan yang adil dan beradab. Amin.


RABU BIASA XI C/1
19 Juni 2019

2Kor 9,6-11
Mat 6,1-6.16-18

Rabu Biasa XI B/2 2018: Yang Esensial
Rabu Biasa XI A/1 2017: Menjual Diri
Rabu Biasa XI C/2 2016: Ekshibisionisme Agama

Rabu Biasa XI B/1 2015: Puasa Oh Puasa

Rabu Biasa XI A/2 2014: Vanity, Target Orang Muna’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s