Pastor Kesepian

Di tengah masyarakat yang penguasa hidup keagamaannya korup, omong kritis mengenai agama memang berisiko dicap sebagai penghujat, penista agama. Omongan macam itulah yang dilontarkan Guru dari Nazareth. Dia memang berani, kalau bukan nekad, menyinggung teks sakral secara kritis. Tentu maksudnya bukan untuk meniadakan teks sakral itu, melainkan untuk memperkaya pisau analisis pembacanya. Formulanya: dulu dikatakan begini, sekarang kukatakan…. Ini memang nyrèmpèt-nyrèmpèt kaum tradisionalis, yang bisa jadi adalah mayoritas pemeluk agama, yang tak akan begitu saja rela membiarkan orang lain melontarkan tafsiran yang berbeda. Sayangnya, tak semua pemeluk agama punya pengalaman yang cukup untuk mengerti bahwa tradisi itu baik, tetapi cara menghidupinya tidak harus bersifat seragam atau semacam.

Beberapa waktu lalu ada rangkuman skripsi-psikologi-UInya-Desy-K-Sari yang viral karena menyoal hidup pastor yang selibat, yang bagi penulisnya semula dianggap menyalahi kodrat. Pada akhir proses skripsinya si penulis, sebagai penganut agama Islam, mendapati dirinya mendalami keislamannya justru setelah mengenal lebih jauh dinamika para pastor kesepian (kasian deh pastor itu😂😂😂). Menurut saya, itu adalah salah satu contoh pembelajaran yang pendekatannya sama sekali bukan pendekatan tradisional (dan yang sangat saya rekomendasikan, seturut proyek yang sedang saya garap). Apakah yang dibuat Sdri. Desy tadi bisa diterima? Ha ya mboh, bisa jadi ada yang menerima, bisa juga ada yang protes dan mungkin menuduhnya melecehkan agama karena mesti keluar masuk tempat ibadah agama lain, bahkan membaca teks-teks sakral agama lain.

Hal-hal seperti itu memang tak berterima untuk kaum tradisionalis, dan ndelalahnya, Guru dari Nazareth, dan para nabi lainnya, sulit untuk dikategorikan sebagai anggota kaum tradisionalis. Mari lihat kalimat pertama saja: Kamu telah mendengar nasihat ‘kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu’, tetapi aku berkata kepadamu ‘kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’.
Manakah dari kalimat itu yang menginsinuasikan bahwa Guru dari Nazareth menganggap nasihat ‘kasihilah sesamamu dan bencilah musuhmu‘ adalah nasihat yang salah? Tidak ada, masbro mbasis! Lha wong Guru ini juga di lain waktu menganjurkan supaya orang mengasihi sesama seperti diri sendiri kok!
Ha njuk ‘bencilah musuhmu’ gimana, Rom? Apa itu bukan nasihat yang salah?😂😂😂 

Nah, itulah persoalannya. Nasihat Guru dari Nazareth ‘cintailah musuhmu’ mengindikasikan bahwa musuh diletakkan sebagai pengganti sesama dalam nasihat ‘cintailah sesamamu’. Itu tak terbayangkan dalam mentalitas orang diskriminatif seperti penguasa hidup keagamaan yang korup tadi. Kenapa? Lha kalau mentalnya saja sudah diskriminatif, mereka tentu mengidentikkan hal yang berbeda sebagai lawan, musuh, pengkhianat, penista, dan sejenisnya. Itulah bahayanya politik identitas yang mencari pembedaan lalu membuat pemisahan alias dikotomi Yahudi vs non-Yahudi, sesama vs musuh, orang suci vs pendosa, murni vs sesat, sakral vs sekular dan seterusnya. Guru dari Nazareth menyarankan mentalitas yang diusulkan Pramoedya ‘adil sejak dalam pikiran’, dan orang bisa berkaca dari pengalamannya memandang para penganiayanya: Ampunilah mereka, karena mereka tak tahu apa yang mereka lakukan.

Ya Allah, berikanlah rahmat kebijaksanaan kepada kami supaya mampu berlaku adil juga sejak dalam pikiran. Amin.


SELASA BIASA XI C/1
18 Juni 2019

2Kor 8,1-9
Mat 5,43-48

Selasa Biasa XI B/2 2018: Ampunilah Cinta
Selasa Biasa XI A/1 2017: Love Knows No Limit

Selasa Biasa XI C/2 2016: Perluas Batas Sesama
Selasa Biasa XI B/1 2015: You’ll Never Be Perfect *

Selasa Biasa XI A/2 2014: Doakanlah…

2 replies

  1. Halo Romo

    pastor kesepian .. ah apa iya ya..🤔

    Dalam perjumpaan dengan seorang romo bule yg sgt sepuh saya melihat kedamaian hati di tengah kondisi fisiknya yg memburuk, tidak seperti perawat atau dokter yg memberi treatment/therapy yg singkat, tugas sya hampir tiap hari membantu beliau dalam durasi treatment yg lama ..jadi saya mengenal beliau dn beliau hafal dengan sya.. setiap bertemu dia bercerita ttg keluhannya yg selalu berubah setiap jam, spontan saya berkata “baiklah Mo, marilah kita hadapi apa yg Tuhan mau”, lantas wajahnya trsenyum matanya berbinar, tdk nampak kesedihan (apalagi kesepian hehehehe..) di tengah sesak nafas dan suara nafasnya yg terengah2 ada kedamaian dn kepasrahan pada Tuhan trpancar dari wajahnya, tentu saya sgt jarang mnjumpai Romo atau pasien yg lain yg seperti beliau..

    Salam

    #RIP. Pater Henricus van Opzeeland SJ
    #kagum dengan kepasrahannya pada Tuhan
    #dan senang telah menjadi teman di akhir hidupnya😌

    Like

    • Maturnuwun doanya ya. Rm Henk mengalami suasana solitude yang lebih membuatnya nyaman juga dalam kesendirian dan kesepian (apalagi kalau ditemani Om HPI, mestinya ya kesepian lenyap). Tampaknya beliau mendapat perpanjangan hidup yang luar biasa dan kemarin perpanjangan itu berakhir. Saling mendoakan.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s