Bawel: Banyak Rewel

Kemarin sore saya mengikuti ibadat Ekaristi di rumah sakit, tetapi yang saya ingin ceritakan ialah parkir kendaraannya. Saya naik montor beroda dua dan mesti bayar parkir untuk dua jam pertama dulu: dua ribu rupiah. Setelah misa, saya tilik beberapa orang sakit sehingga parkir dua jam lebih sedikit. Maka, saya siapkan uang untuk membayar kelebihan jam parkir. Lima ribu rupiah. Ketika terima kembalian dua ribu rupiah, saya spontan bertanya,”Memangnya per jamnya berapa toh, Mas?”
Lalu, petugas retribusi itu melongok nomor plat motor saya. Tertera nominal lima ribu di monitornya, tetapi saya tak yakin itu untuk nomor motor saya. (Mosok cuma lewat beberapa menit mesti tambah tiga ribu?)
Lalu entah kenapa, petugas itu menyorongkan kembali uang lima ribuan dengan nada gimana gitu,”Ya sudah ambil saja, Pak, tak usah bayar.”
Demi Tutatis, saya tetap diam di tempat dan omong baik-baik,”Mas, saya itu cuma tanya per jamnya berapa.”
Jebulnya, per jam lima ratus rupiah (sehingga sebetulnya saya hanya harus membayar lima ratus) dan petugas ini bilang tak punya lima ratusan untuk kembalian. Andai saja tadi kembaliannya empat ribu, kiranya saya langsung ngacir tanpa peduli berapa sesungguhnya tarif kelebihan jam parkir.
Lha ini kok ngemplang. Memang sih tak seberapa besar ngemplangnya, cuma dua ribu lima ratus rupiah. Akan tetapi, itu kan kalau saya berpikir individualis. Di belakang saya ada banyak orang yang mungkin tidak serewel saya. Andaikan ada dua puluh orang yang tak peduli, jadinya lima puluh ribu rupiah dong. Halah, cuma lima puluh ribu, Rom! 

Saya akan mendukung petugas kecil seperti ini untuk mencari keadilan manakala ia mengalami ketidakadilan, tetapi saya juga tak akan tinggal diam kalau dia berbuat tidak adil. Lucu aja demi membela orang kecil njuk malah  membiarkannya berlaku tidak adil. Prinsip begini ini malah bisa membahayakan: berlomba-lomba mencari kekuasaan dan bertindak sewenang-wenang setelah mendapatkannya. Bisa kan Anda mati-matian membuat slogan reklamasi untuk orang kecil dan banyak orang kecil memilih Anda jadi penguasa dan ketika Anda punya kuasa, Anda memilih orang kecil mana yang bisa membangun di pulau reklamasi itu? Bisa banget!

Saya tidak berpretensi mendidik orang kecil seperti petugas parkir tadi supaya berlaku adil. Bisnis saya adalah merealisasikan small acts of justice dan bisa jadi bisnis macam itulah yang memungkinkan suatu hidup seperti digambarkan Paulus: sebagai orang miskin, orang tetap bisa memperkaya banyak orang. Dalam diri orang miskin seperti ini, kelihatan bagaimana setiap orang dipanggil untuk ‘menuhan‘, bukan karena kodratnya sebagai Tuhan, melainkan karena rahmat yang diterimanya dari Tuhan. Menuhan bukan berarti memiliki semua hal dan memakai atau memanfaatkan setiap orang.  Menuhan berarti jadi sedemikian bebas dari kelimpahan harta demi ‘kekuasaan’ untuk memberi harapan kepada mereka yang putus asa, kegembiraan kepada mereka yang berduka, terang kepada mereka yang tak bisa melihat.

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya kami mampu meneladan kemurahan hati-Mu. Amin.


SENIN BIASA XI C/1
17 Juni 2019

2Kor 6,1-10
Mat 5,38-42

Senin Biasa XI B/2 2018: Show Me Your God
Senin Biasa XI A/1 2017: Tatap Mata Saya
Senin Biasa XI C/2 2016: Dah Salah, Ngotot Lagi

Senin Biasa XI B/1 2015: Otak di Balik Hukum

Senin Biasa XI A/2 2014: Agama Modus, Masyarakat Cerdas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s