Move On, Please

To tell the truth, setelah vonis Ahok, setelah dengar kabar ada provokator untuk aksi damai di perempatan Tugu Yogyakarta, dan melihat tayangan aksi pembubaran paksa pameran seni di Bantul, saya kehilangan selera untuk menulis. Rasa kecil menjalari syaraf yang mengipasi kegalauan. Untuk apa ya mencurahkan hati dan budi via tulisan wong nyatanya dunia ini dari dulu sampai kiamat ya seperti ini. Apapun omongannya, ujung-ujungnya perut, dapur, duit. Orang tertambat di situ dan segalanya jadi kacau. Omongan indah pun bisa jadi wacana pemoles gelojoh supaya lebih santun mementung, mengemplang, memperkosa, merampas kebebasan dan keadilan manusiawi. Ini benar-benar mematikan selera dan karenanya saya bisa mengerti kalau anak-anak bangsa di mancanegara enggan kembali ke tanah airnya untuk membaktikan dirinya.

Meskipun demikian, saya masih cukup waras untuk melihat bagaimana orang yang sakit bisa kehilangan selera makan tetapi kehilangan selera itu tidak menghapuskan kebutuhan biologisnya pada makanan. Pertanyaan semacam “Ngapain nulis kalau gak memberi dampak positif” bisa jadi merupakan selera yang digantungkan pada hasil; dan kalau orientasi pada hasil itu mendominasi, barangkali itu jadi indikasi kuat bahwa orang punya kelekatan, dan aneka kelekatan itulah yang di sana-sini bikin ancur ya ancur. Syukur ada Hari Raya Waisak yang mengundang siapa saja untuk berefleksi: hidup dengan kebebasan macam apakah yang senyatanya didambakan oleh umat manusia?

Bacaan hari ini menyodorkan wacana Yesus setelah dia membasuh kaki murid-muridnya. Ia mengundang murid-muridnya untuk melihat what lies beyond the bend. Ya bukan tikungan betulan sih. Maksudnya, ia mengundang murid-muridnya melihat sumber hirarki pengutusan: percaya pada utusan, percaya juga pada yang mengutusnya, percaya juga pada pengutus yang mengutusnya, yaitu Allah sendiri. Untuk sebagian orang ini adalah penistaan agama, tentu saja, karena orang sudah mengakar pada perut-dapur-duit tadi. [Tak mengherankan bahwa mereka melakukan syukuran ketika penista agama (menurut versi kaum mereka sendiri) dipenjara.] Untuk sebagian orang lainnya ini adalah momen untuk pergi beyond the bend tadi, melihat persoalan beyond Ahok

Sampai di sini sebetulnya akan terlihat jelas siapa yang belum move on, yaitu mereka yang masih berkutat pada sosok Ahok, entah pro entah kontra. Sepertinya sudah saya sampaikan: kalau mau hidup sehat, sebaiknya orang berfokus pada halnya, bukan orangnya. Kasus Ahok ini bukan soal Ahoknya sendiri, melainkan soal bagaimana peradilan dijalankan di negeri ini. Ada kesan kuat bahwa politik identitas (agama) [yang pelakunya malah sebetulnya penista agama itu sendiri, ya tadi itu, demi perut-dapur-duit memperalat agama] ini mengangkangi hukum yang semestinya bebas dari aneka tekanan di luar hukum. Itu mengapa dunia internasional memberi perhatian besar pada kasus Ahok ini.

Semoga kasus ini membuka pintu kesadaran orang tentang bagaimana penistaan agama itu terjadi: ketika agama diperalat. Runyam kan kalau orang yang menyadarkan sesamanya bahwa agama bisa diperalat perut-dapur-duit itu malah dituduh sebagai penista agama?! Kewolak-walik! Ini tak lagi rasional dan memundurkan bangsa ke masa barbar, siapa yang berotot banyak dialah yang berhak menentukan segala. Tuhan tak ada di situ.

Ya Allah, mohon rahmat kejernihan hati dan budi supaya kami setia pada-Mu. Amin.


KAMIS PASKA IV
Hari Raya Waisak
11 Mei 2017

Kis 13,13-25
Yoh 13,16-20

Posting Tahun 2016: Kartini Kok Pasif
Posting Tahun 2015: Simbol Cinta

Posting Tahun 2014: Menolak Lupa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s