Beriman Juga Mikir

Seperti biasanya, saya mengundang Anda untuk berpikir sejenak, jangan lama-lama, kecuali Anda pemikir. Apa yang perlu dipikirkan? Jawaban atas pertanyaan berikut ini: apa yang membuat suatu tulisan, teks, buku, kitab, jadi suci? Misalnya kalimat “Cinta kepada rumah-Mu menghanguskan aku”. Tuliskanlah itu, misalnya, pada buku harian Anda. Apakah buku harian Anda lalu jadi Buku Suci? Tuliskanlah kalimat itu pada dinding di atas pintu rumah kontrakan Anda. Apakah kontrakan itu jadi Rumah Suci? Tidak, bukan?

Itu berarti, kesucian tidak terletak pada kertas, buku, pintu, atau rumahnya sendiri; tidak juga melekat pada kata-katanya. Mbok Anda tulis dengan tinta emas “Allah Mahabesar” atau “Allah Mahakasih” dan sejenisnya, kata-kata itu sendiri tidak bersifat ‘suci’ bahkan meskipun Anda mengklaim itu berasal dari Tuhan sendiri secara langsung! Begitulah Kitab Suci. Sucinya Kitab tidak terletak pada bentuk fisiknya, dimensinya, warna tulisannya, lusuhnya, bentuk font atau bahasa (bahasa Latin, misalnya). Suci tidaknya bergantung pada relasi antara hal-hal itu tadi dengan orang-orang yang menganggapnya suci.

Lha kok bisa orang-orang itu menganggapnya suci? Bisakah Anda menuliskan kalimat-kalimat saleh dan bijak, yang Anda peroleh dari wangsit (semacam mie ayam), mencetaknya, lalu mengajak saya untuk menganggapnya sebagai Buku Suci? Ya bisa, tetapi saya tidak akan mengikuti ajakan Anda sebelum Anda menunjukkan otoritas meyakinkan sebagai penulis atau pimpinan proyek pembuatan Buku Suci. Dari mana otoritas meyakinkan itu atau bagaimana otoritas Anda bisa meyakinkan saya? Dari kharisma yang terpancar dari diri Anda.

Itulah, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan hari ini, mengapa para PKL itu menantang Yesus untuk menunjukkan otoritasnya: siapa lu, otoritas apa yang lu punya sehingga bisa seenak hati mengusir pedagang di Bait Allah ini? Kharisma Yesus ditunjukkan dengan kepiawaiannya menginterpretasikan Kitab Suci yang sudah ada sebelumnya (dilengkapi dengan kemampuannya sebagai penyembuh gratisan tanpa memungut biaya). Celakanya, kharisma ini bisa menggoyang otoritas yang ada sebelumnya. Begitulah dinamika yang terjadi pada agama dan kira-kira begitu jugalah yang dialami Nabi Muhammad, Buddha, dan lain sebagainya.

Judul bacaan hari ini dituliskan “Yesus menyucikan Bait Allah”. Jelaslah persoalannya. Orang-orang PKL itu (ya bukan PKL sih sesungguhnya) mengotori Bait Allah persis karena alasan tadi: tiada relasi dengan sosok yang dimaksudkan oleh adanya Bait Allah. Orang-orang itu cuma mikir perutnya sendiri, mikir posisinya sendiri, memperoleh jabatan gubernur dengan janji upah muahal (malah jadi murah), dan sebagainya. Tak ada hubungannya dengan Allah yang hendak dimuliakan. Yesus hendak mengembalikan fungsi Bait Allah sebagai tempat orang membangun relasi dengan Tuhan.

Bukannya membangun relasi dengan Tuhan bisa di mana-mana, Mo? Ya jelas, maka kalau berani menyebut suatu tempat sebagai Bait Allah, ya konsekuen dong! Begitu juga kalau menyebut suatu kitab itu suci, ya konsekuen dong! Di situlah penyuciannya. Kalau ke mana-mana menenteng Kitab Suci, diambil sumpah di bawah Kitab Suci, tapi perilakunya korup dan penindas, itu malah bikin Kitab Suci dan hal-hal suci lainnya jadi takhayul! Menjijikkan, kan?
Kan!

Ya Allah, mohon rahmat kesetiaan supaya kami semata hendak mengalami Engkau dalam keseharian hidup. Amin.


PESTA PEMBERKATAN GEREJA BASILIK LATERAN
(Kamis Biasa XXXI A/1)
9 November 2017

Yeh 47,1-2.8-9.12
1Kor 3,9b-11.16-17
Yoh 2,13-22

Posting Tahun 2016: Penista Tuhan
Posting Tahun 2015: Gereja Tak Butuh IMB

Posting Tahun 2014: Sedang Bikin House atau Home?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s