Manete in me

Kemarin saya menyelesaikan nyepi tahunan di sebuah rumah tempat nyepi dan di sana-sini ada tulisan manete in me. Tahukah Anda artinya? Hari gini pada zaman now mestinya Anda tahu. Salah satu sohib saya menerjemahkannya sebagai ‘dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat’. Baginya memang ungkapan bahasa Latin apa saja, arti standarnya ya itu tadi. Gampang, kan?

Saya bukan ahli bahasa Latin, tetapi saya bisa mengerti bahwa ungkapan itu adalah bentuk imperatif plural ‘masa kini’ (present tense) dari kata kerja manere, yang berarti tinggal. In me jelas, sama dengan bahasa Inggris, cuma pelafalannya sama dengan bahasa Indonesia. Maka, manete in me berarti kalian, tinggallah padaku. Dalam tradisi mistik, ungkapan itu adalah undangan dari sang Khalik kepada umat-Nya, dan kata itulah yang dipakai Yohanes penulis Injil untuk menerjemahkan ‘anak-anak Allah’, yang memungkinkan orang berpartisipasi dalam dimensi hidup ilahinya.

Tentu itu masih abstrak, apa maksudnya manete in me. Bagi Yohanes, kata tetangga saya, kata ‘tinggal’ berarti menjaga kesadaran sebagai anak Allah, selain mengacu pada situasi bahwa orang sudah menemukan tempat yang paling tepat baginya. Ini berlawanan dengan mereka yang sejak bayi sampai uzur masih lari ke sana kemari untuk menemukan identitas hidup beriman mereka. Masih juga gak yakin dengan nilai agamanya sendiri dan perbandingan agama malah membuat orang-orang macam ini semakin eksklusif, alih-alih inklusif.

Dua orang yang diperingati Gereja Katolik hari ini kiranya menghayati manete in me. Asumsinya, me identik dengan cinta: tinggal dalam cinta. Itu adalah hakikat persahabatan. Persahabatan jadi medan untuk mengungkapkan iman mereka, memaknai belajar, memaknai pengetahuan. Persahabatan jadi tempat mereka saling memberikan motivasi dan energi bagi suatu komitmen moral, selain tentu dalam arti tertentu ada kehangatan, afeksi, konsolasi, dan sejenisnya.

Kebanyakan orang memang risau dengan mantenan lebih daripada persahabatan. Padahal mantenan itu ya cuma ‘secuil’ dari persahabatan, yang lebih langgeng dan inklusif sifatnya. Tapi sudahlah, silakan merenungkan sendiri ya. Pokoknya mari berdoa supaya Allah senantiasa memberi rahmat persahabatan juga bagi yang married maupun single.


HARI BIASA MASA NATAL
Peringatan Wajib St. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze
Selasa, 2 Januari 2018

1Yoh 2,22-28
Yoh 1,19-28

Posting 2017: Akulah Kebenaran?
Posting 2016: Mana Suaranya?

Posting 2015: Mau Menyuarakan Apa atau Siapakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s