Puasa dari Valentine

Anda pasti tidak bisa membaca tulisan נְדָבָה, bahkan dari cara melihatnya saja sudah ketahuan bahwa Anda tak bisa membacanya. Kalau Anda bisa, berarti saya salah [gitu aja kok repot], hahaha…
Saya juga tidak bisa membacanya, tetapi zaman now memungkinkan saya mendapat informasi mengenai tulisan asing itu. Itu karakter Ibrani yang dalam bahasa Inggris jadi alms yang erat kaitannya dengan ‘tsedhaqah’ dan kalau Anda mendengar ucapannya, saya yakin Anda mengasosiasikannya dengan sedekah. Kalau tidak, ya berarti keyakinan saya salah.

Nah, kata sedekah itu sendiri oleh sebagian dari Anda (pasti keyakinan saya kali ini benar) akan diasosiasikan dengan pemberian sesuatu kepada orang yang dianggap miskin. Gak mungkin dong Anda memberi sedekah kepada anggota DPR meskipun mungkin mereka kaya materi miskin batin. Sedekah mesti menunjuk pada materi tertentu entah itu sembako, pakaian bekas, atau uang receh, kepada yang kekurangan. Singkatnya, dari ‘atas’ jatuh sesuatu (yang cuma sebagian kecil saja) ke ‘bawah’.

Apakah sedekah macam itu yang diharapkan si guru hari ini? Saya sangat meragukannya karena dalam teks ditegaskan supaya para murid, kalau memberi sedekah, tidak mencanangkannya seperti dibuat orang munafik di rumah ibadat atau jalan-jalan (supaya dipuji orang). Lha bagaimana mungkin memberi sedekah kok gak ketahuan, gak kelihatan orang lain?

Saya baru tahu bahwa ‘tsedhaqah’ itu berarti righteousness atau juga justice. Kalau begitu, si guru dari Nazareth itu sebetulnya mengundang murid-muridnya supaya membangun dunia yang tidak lagi menongolkan pengemis-pengemis jalanan, kematian karena kurang gizi, human trafficking dan sejenisnya. Maka dari itu, bentuk bakti sosial yang lebih tepat bukan lagi seperti sedekah dari ‘atas’ ke ‘bawah’ tadi, kecuali kalau kondisinya darurat, melainkan bakti sosial yang sasarannya ialah pembangunan sistem yang berkeadilan, yang mengurangi situasi darurat. Ini gak akan kelihatan sebagaimana mengambil receh dari dashboard mobil dan melemparkannya ke pengemis.

Lah, berarti yang bisa melakukannya cuma mereka yang duduk di lembaga legislatif atau yudikatif dong, Mo?
Engga’ juga sih, karena sistem keadilan di situ bukan keadilan manusiawi (yang bisa jadi perang ideologi kapitalis vs nonkapitalis dan keduanya tetap menghasilkan kemiskinan), melainkan keadilan yang asalnya dari mimpi Allah supaya tiada lagi kemiskinan yang menjerat kemanusiaan. Itu bisa dimulai dari RT, RW, kelurahan dan seterusnya, dan pada kenyataannya itu bisa terjadi tanpa ideologi besar ekonomi politik dan sebagainya. Di situ tak lagi kelihatan siapa bersedekah karena semua terlibat di dalamnya.

Begitu juga doa dan puasa, tak perlulah orang mempertontonkannya seperti kebiasaan orang munafik karena dengan begitu maksud doa dan puasa sendiri batal dengan sendirinya. Secara simbolik, saat berdoa ya orang mesti menyepi supaya bisa mendengar hatinya sendiri tempat Allah bersemayam. Begitu juga halnya puasa, kalau bawaannya cemberut dan kusut, malah jadi pertanda bahwa fokusnya cuma menahan lapar dan menaati aturan agama!

Mungkinkah menggabungkan Valentine’s Day dan hari pantang puasa? Ya mungkin saja: menghayati pantang puasa dengan semangat cinta. Tak ada sedekah, doa, puasa yang berkenan pada Allah selain yang berasal dari Cinta, eaaaaa.

Tuhan, bantulah kami mengalami cinta-Mu dan menularkannya kepada sesama. Amin.


HARI RABU ABU
14 Februari 2018

Yl 2,12-18
2Kor 5,20-6,2
Mat 6,1-6.16-18

Posting 2017: Come Back to Me
Posting 2016: Tobat, Bos!
 

Posting
2015: Grow up, Brow!

Posting 2014: Solidarity with The Father

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s