Tiada Agama selain Jalan

Setiap orang yang mau meneladan gurunya, dia mesti menyangkal dirinya, menanggung kesusahannya dan mengikuti gurunya itu. Coba kalau yang menyangkal dirinya malah si guru, apa murid ini gak malu? “Siapa lu?” Bayangkan kalau guru karate terus-menerus mematahkan baja untuk muridnya setelah ia memberi contoh, njuk kapan belajarnya si murid? Pokoknya, si murid itu mesti mengambil jalannya sendiri yang memang semestinya dia tempuh, sebaik-baiknya.

Teks bacaan hari ini melayangkan imajinasi saya ke sosok seorang Swami Hindu bernama Vivekananda yang seratusan tahun lalu konon mendapat standing ovation selama dua menitan lantaran sapaannya kepada tujuh ribuan orang Amerika di forum resmi,”Sisters and Brothers of America.” Di kesempatan lain ia berpidato begini,”I do not come to convert you to a new belief. I want you to keep your own belief; I want to make the Methodist a better Methodist; the Presbyterian a better Presbyterian; the Unitarian a better Unitarian. I want to [invite] you to live the truth, to reveal the light within your own soul.”

Undangan itu berlaku bukan hanya bagi orang Amerika, melainkan bagi seluruh umat manusia, sebagaimana teks hari ini juga menyodorkan undangan bagi para murid bahwa mereka mesti mengambil tanggung jawabnya sendiri, menanggung susahnya (bukan ndherek mulyanya doang), mengikuti jalan yang ditempuh guru mereka. Ini bukan soal infrastruktur jalan aspal, melainkan jalan hidup yang ditunjukkan si guru, jalan hidup batin, yang memungkinkan orang menjadi semakin total dalam hidupnya.

Sayang beribu sayang, kalimat seperti itu bisa ditangkap fatal oleh kelompok fanatik, radikal, fundamentalis. Anda masih ingat guru saya yang pernah tergoda untuk membunuh orang yang menghina ‘agama’-nya? Ada di tautan ini. Dalam kepalanya itu ada keyakinan keras bahwa ajaran agamanyalah yang benar, yang melawan ajaran itu berarti darah dan dagingnya halal, krauk krauk krauk…. Syukurlah, ceritanya tidak berakhir seturut asumsinya: tidaklah benar bahwa darah orang lain halal, bahkan meskipun menentang ajaran agamanya.

Tak sedikit orang beragama tertipu oleh keyakinan bahwa di dunia ini ada yang namanya agama murni (yaitu agamanya sendiri). Tak hanya itu, mereka juga yakin bahwa merekalah penghayat murni dari agama itu. Lha wong agama saja sudah bikinan manusia dan manusianya itu terikat ruang dan waktu kok, gimana mau bilang murni, jal? Kemurnian agama seseorang justru terletak pada penghayatannya terhadap agama sebagai jalan menuju Allah (verso Dio lagi, eaaaa), dan di sebelahnya ada juga jalan lain ke arah sana.

Agama jadi tak murni karena orang melihat agama seakan-akan seperti tambang emas yang bisa dimurnikan dengan aneka teknik klorinasi ataupun elektrolisa. Agama itu bak khatulistiwa. Dibilang ada kok ya gak keliatan, dibilang gak ada kok ya indikasi gejala-gejala keberadaannya itu memang kelihatan. Wis lah gak usah omongin agama: yang penting lihat orang-orangnya aja, apakah agamanya itu jadi jalan to reveal the light within him/herself. Kalau tidak, itu pertanda bahwa ia tidak menyangkal dirinya, menanggung kesusahannya dan mengikuti gurunya untuk memancarkan cahaya kehidupan.

Ya Allah, semoga kami semakin berbuah pada jalan hidayah-Mu. Amin.


KAMIS SESUDAH RABU ABU
15 Februari 2018

Ul 30,15-20
Luk 9,22-25

Posting 2017: Susahnya Hidup ‘Untung’
Posting 2016: Paha(la) Bidadari?

Posting 2015: Gong Xi Fa Cai

Posting 2014: Animus cujusque is est quisque

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s