Pantang Internet?

Anda mungkin masih ingat sekelompok onta, begitu teman saya menyebutnya, yang hendak memboikot medsos buku wajah. Saya tak mengikuti berita bagaimana mereka memboikotnya, mungkin dengan login lalu segera logout, atau install aplikasi lalu menguninstallnya, atau entah bagaimana. Pokoknya, maksudnya mereka mau putus hubungan dengan medsos produk Barat itu. 

Ada baiknya juga loh belajar dari kelompok onta itu tadi. Belajar dari maksud baiknya saja, kalau maksud jahatnya biarlah mereka pelihara sendiri, mungkin mereka bahagia dan tenang dengan memelihara maksud jahat. Sebetulnya saya juga tidak tahu sih maksud baik mereka apa, hahaha. Akan tetapi, katakanlah mereka hendak memakai medsos yang santun dan beradab, menjauhkan diri dari medsos yang pro pemerintah, dan sejenisnya. Itu keren loh alasannya: medsos itu perlu netral dan bahasanya santun dan beradab.

Meskipun demikian, siapa sih yang menentukan bahasa santun dan beradab, pro pemerintah atau pro radikalisme? Medsosnyakah? Pasti bukan dong. Ujung-ujungnya ya orang-orangnya, bukan medsosnya sebagai teknologi yang bersifat netral (meskipun tak semua teknologi bersifat netral). Maka dari itu, kalau ada di antara Anda yang hendak pantang dan berpuasa internet, mungkin baiknya lebih persis lagi: apanya dari internet yang hendak Anda pantangi atau puasai. Kadang kala bisa terjadi orang membersihkan noda pakaian dengan menjemurnya di luar pagar rumah atau membersihkan tembok kotor dengan merobohkannya. Tentu bukan itu maksud pantang dan puasa.

Masa pantang dan puasa adalah masa auntentisitas, masa kebenaran batiniah, masa pertobatan yang autentik. Ini masa yang baik untuk menguji diri terhadap hal-hal yang selama ini taken for granted. Berarti, kalau selama ini saya selalu berdoa lima kali sehari, pada masa pantang dan puasa saya boleh mengurangi doanya dong, Rom?

Siapakah saya sehingga mesti melarang dan memerintah Anda untuk berpantang dan berpuasa doa? Kalau saya sih tinggal menguji saja pikiran itu dengan konsolasi dan desolasi. Kalau dengan pantang doa itu Anda merasa senang tetapi hidup Anda tak inspiratif, itu indikasi bahwa Anda mengalami desolasi. Padahal, pantang dan puasa justru maksudnya supaya Anda mengalami hiburan rohani (meskipun secara fisik dan psikis mungkin tidak enak). Kalau dengan pantang doa itu Anda tidak senang, tetapi hidup Anda juga tidak inspiratif, itu pun indikator desolasi: doa taken for granted, cuma ritual rutin, maka kalau diganggu ya rasa perasaannya jadi terganggu.

Lain soalnya kalau Anda berpantang doa dan hati tetap tenang dan gembira karena pengurangan waktu doa itu tak memengaruhi perhatian Anda kepada Allah sendiri. Saya bayangkan orang berpuasa nasi dan menggantinya dengan kentang. Orang bisa mengurangi doa rutinnya, tetapi tidak mengurangi perhatiannya kepada pribadi Allah yang senantiasa dirindukannya. Ia bisa mengisi waktu ritualnya dengan aktivitas lain yang sama-sama secara kualitatif meningkatkan relasi pribadinya dengan Tuhan sendiri. Yang begini sepertinya lebih susah, bukan? Itu untuk yang advanced kali ye…

Yang lebih realistis kiranya pantang memperlakukan doa rutin sebagai ritual semata alias pantang ngelamun, pantang mikir yang enggak-enggak, dan sejenisnya. Pokoknya, pantang dan puasa untuk semakin connect dengan sosok insan kamil yang dirindukan. Amin.


HARI JUMAT SESUDAH RABU ABU
16 Februari 2018

Yes 58,1-9a
Mat 9,14-15

Posting 2017: Halo Munafik
Posting 2016: Dasar Pengemis

Posting
2015: Puasa nan Romantis

Posting 2014: How do you fast?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s