Saya baru tahu bahwa ada buah yang jujur. Namanya manggis. Bayangkan kalau buah ini diekstrak dan orang-orang yang punya power memakannya setiap hari, pasti KPK kurang kerjaan karena power does not tend to corrupt! Thanks to manggis, buah yang jujur. Kalau Anda lihat buah manggis pada pohonnya, di bagian bawah kulit luar itu ada semacam kelopak yang bisa dihitung. Selama ini saya mendapati lima atau enam kelopak. Kalau kelopaknya lima, berarti buah di dalamnya juga ada lima potong. Kalau enam, ya enam, betapapun besarnya tidak sama. Pokoknya tidak ada dusta dan korupsi dalam diri manggis.
Tapi ngapain bahas manggis dan kejujuran, Mo? Dalam teks hari ini tak ada kata kejujuran, apalagi manggis! Memang sih, saya juga gak tau ngapain bahas manggis dan kejujuran [mungkin karena abis nonton Black Phanter eaaaaa], tapi memang dalam bacaan versi lain saya dengar kata kejujuran: jika orang jujur berbalik dari kejujurannya dan berlaku jahat, ia akan mati dalam kejahatannya. Apa itu dimaksudkan untuk orang baik yang jujur dan suatu kali terlibat korupsi njuk tahu-tahu mati ketabrak becak? Ya bisa juga sih kalau mau ditafsirkan begitu. Akan tetapi, kalau cuma begitu, dibutuhkan berapa becak di dunia ini untuk menabrak orang baik yang terlibat korupsi?
Saya kira tak perlulah becak, badak atau bajak untuk menabrak mati orang baik yang berbalik dari kejujurannya. Kita bisa bicara soal kultur kehidupan dan kultur kematian. Masih ingat kan milyaran rupiah digelontorkan untuk membangun stadion GBK dan hanya butuh beberapa menit saja dari kultur kematian untuk merusaknya? Masih ingat juga kiranya bagaimana upaya pemerintah supaya maju kotanya bahagia warganya jadi amburadul karena kultur kematian yang diperkenalkan gabener?
Apakah kultur kematian itu cuma bisa dibawa gabener? Sayangnya memang iya, dan gabener itu bisa jadi dia, saya, atau Anda.
Ya Tuhan, mohon kekuatan supaya kami mampu menjaga api yang Kautanamkan dalam diri kami untuk menebarkan kultur kehidupan. Amin.
HARI JUMAT PRAPASKA I
23 Februari 2018
Posting 2017: Sidang Istimewa
Posting 2016: Tobat, Kembali ke Cinta
Posting 2015: Kebenaran Agama vs Iman
Posting 2014: Ruang Tobat dan Pengampunan

2 responses to “Buah Kejujuran”
mungkin pepatah: gara-gara nila setitik,rusak susu sebelanga bisa dipakai romo. Menurut saya, ‘kejahatan’ tadi adalah suatu kesalahan (baik sengaja atau tidak) yang dibuat ketika berbalik dari kebaikan yg dilakukan selama ini (mungkin ini ada hubungan dgn pengalaman sy juga..). pada satu titik setelah terjadi kesalahan kan ada rasa menyesal utk membuka pertobatan, lalu diri sendiri berkata dalam hati: tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Dan membuktikannya melalui sikap dan perbuatan kita selanjutnya (terlepas apakah ‘dihukum’ Tuhan atau sesama atau tidak).
Yang mau saya pertanyakan romo adalah (terutama dlm konteks hub antar manusia/relationship): dari banyak kebaikan yg sudah kita lakukan, karena satu atau dua kesalahan, lantas kita ‘dihukum’ (diberi sanksi ringan sampe berat/vonis/celaan/hinaan dan sebagainya).
Kenapa kita tidak memberi maaf (memaafkan) saja? Padahal ini adalah kesalahan yg dibuat pertama kalinya, bukan yang sudah berulang2.. Apakah ini adil romo ? apakah ini bijak romo, terutama jika kita hubungkan dgn (banyak) kebaikan yg sudah kita lakukan ? Bukankah ini artinya kita selalu mengharapkan orang lain itu harus ‘sempurna’ seperti yang kita inginkan. Tapi realitasnya kan tidak seperti itu..mengapa menerima ‘kekurangan-kekurangan’ itu jauh lebih sulit daripada menerima kebaikan romo ?
Maaf romo jika terlalu panjang ceritanya. terima kasih romo.
LikeLiked by 1 person
Om Joe, terima kasih berkenan mampir. Memang idealnya orang bisa mengampuni, tetapi karena kebanyakan hidup kita juga tidak ideal, tak banyak orang mampu menerima kekurangan entah diri sendiri maupun orang lain. Pada blog ini ada cukup banyak posting mengenai pengampunan; misalnya https://versodio.com/2014/02/13/healing-through-total-forgiveness/
Salam,
LikeLiked by 1 person