Salah Sangka

Saya tidak yakin apakah frase ‘menyimpan semua perkara itu dalam hatinya’ pada teks hari ini berarti menyimpan rahasia dalam hati. Jadi, tak apalah kalau hari ini saya curcol lagi.

Kemarin dibahas soal hati nan kudus dan hari ini hati tersuci. Apa bedanya ya? Mirip tapi beda orang. Yang hari ini berkenaan dengan Bunda Maria, bacaannya ditutup dengan frase tadi. Mari mulai curcolnya.

Kemarin itu pertama kalinya (dan mungkin untuk terakhir kali) nonton teater IMAX di TMII. Tapi bukan teaternya yang hendak saya ceritakan, melainkan peristiwa kecil di dekat teater itu, di luar kompleks, sebuah foodcourt yang dalam salah satu kedainya saya makan dan minum plus menabung di sudut toiletnya. Yang hendak saya ceritakan bukan makan dan minumnya, melainkan soal peristiwa di toiletnya.

Sewaktu saya cuci tangan, di sebelah kiri kanan saya itu berdiri petugas cleaning service dan temannya. Yang membuat saya terperangah bukan keramahan petugas yang menyapa saya sebelum masuk toilet. Saat saya selesai menabung itu, ia ada di kiri saya dan ngobrol dengan temannya tetapi kalimat itu sangat terbuka, seakan-akan mengundang saya berkomentar.

Dia bilang begini,”Ini bulan puasa bukannya yang makan makin sedikit, tapi masih banyak aja.” Temannya menimpali memberi konfirmasi dan saya membenarkannya dalam hati karena pada saat saya makan di salah satu kedai itu separuh tempatnya terisi pengunjung yang makan siang. Akan tetapi, saya tak bisa berdiam diri ketika si petugas cleaning service menyampaikan kesimpulannya,”Iya nih, banyak yang gak puasa, Cina semua tuh yang makan.”

Saya sih tidak merasa tersinggung dengan omongan petugas itu, tetapi memang faktanya tidak begitu. Bersama saya di kedai itu saja saya lihat ada beberapa perempuan berjilbab yang makan siang, dan tidak banyak etnis Tionghoa di kedai itu. Saya tidak merasa perlu menjelaskan hal itu kepada petugas tadi, bahwa yang makan siang banyak yang bukan Tionghoa, tapi pokoknya saya terdorong untuk menyanggah omongan petugas ini.

Gak juga, Mas. Banyak kok yang bukan Cina yang makan.” Saya kelupaan menambahkan bahwa ada juga saudara-saudari Muslim yang makan siang, tetapi mungkin kelupaan saya itu malah menghindarkan saya dari wacana berkepanjangan dengan petugas cleaning service. Sekeluar dari ruang menabung itu saya terkesiap: betapa sentimen etnis itu sudah merasuk sampai lapisan bawah (atau memang jangan-jangan cuma ada di lapisan bawah).

Teringatlah saya pada Ahok dan model kampanye pilkada lalu dan maklumlah saya bahwa sentimen poligama campur etnis berpotensi dahsyat. Secara teoretis saya tahu sejak dulu, tetapi pertemuan singkat dengan petugas cleaning service di sudut Jakarta itu membenamkan pengetahuan dalam kesadaran saya. Ini bukan perkara sepele karena berkenaan dengan paradigma sosial yang bisa memicu gesekan pada momen yang diperlukan pemangku kepentingan politik. Ini pe er besar untuk warga Indonesia supaya immersion antaretnis bisa terjadi. Tapi memang itu bergantung hati orang di mana atau ke mana: duit atau orang. 

Ya Tuhan, mohon rahmat supaya hati kami bersih dari aneka prasangka sosial yang membahayakan hidup bersama. Amin.


PERINGATAN WAJIB HATI TERSUCI SP MARIA
(Sabtu Biasa IX B/2)
9 Juni 2018

Yes 61,9-11
Luk 2,41-51

Posting 2016: Simpan di Tempat Sejuk
Posting 2015: Emas Murni Ada. Hati Murni?

Posting 2014: Duc in altum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s