Memeluk Hening

Keheningan adalah musuh besar kebisingan, kebrisikan, keramaian, hiruk pikuk yang memenuhi hidup orang. Clubbing, musik keras dari radio, televisi, media playerchatting, game online, kerja rutin sehari-hari, dan sebagainya. Tak banyak orang berani memeluknya. Saya baru saja memeluknya selama enam dari delapan hari yang semestinya saya lakukan, tetapi pelukan itu sudah lebih dari cukup memberikan banyak rahmat. Memang di tempat saya memeluk hening itu ada kambing-kambing yang mengembik atau gembalanya yang setiap malam berdangdut ria atau menonton siaran Piala Dunia 2018, dan tentu suara azan dari beberapa masjid di sekeliling, tetapi itu tidak mengganggu pelukan saya, malah memosisikan saya untuk semakin erat memeluknya.

Maafkan saya atas pelukan terhadap keheningan itu sehingga saya off dari kebisingan media sosial juga, tetapi justru dari pelukan itu saya memperoleh energi untuk kembali bersliweran di media sosial juga. Saya tidak takut atau frigid terhadap keheningan karena dari pengalaman hidup saya sendiri, di situlah saya dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan fundamental dalam hidup saya sendiri. Bisa jadi pertanyaan-pertanyaannya begitu kritis terhadap pilihan hidup orang sehingga memeluk keheningan bisa terasa berat, mungkin menyakitkan juga.

Ayah Yohanes Pembaptis dalam teks bacaan hari ini akhirnya terbebaskan dari kekeluan lidahnya dan girangnya bukan main sehingga ia memuji-muji Allahnya. Itu terjadi setelah ia melewati masa untuk memeluk hening, dan menemukan nama yang memang dikehendaki Allah bagi nabi-Nya: Yohanes, Yahya, Giovanni, Jean, Jack, John, Hans, Dzon (untung ada ‘d’nya), Joni, Jono, Joko (?) dan sebagainya.

Apakah memeluk hening itu mesti seperti yang saya lakukan? Tentu tidak. Bisa-bisa jatah cuti tahunan langsung ludes. Memeluk hening sebenarnya cuma soal memberi ‘me time‘ yang berkualitas (tinggi): bukan soal memberi kesenangan pada diri sendiri, melainkan soal mengalokasikan ruang dan waktu privat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental seperti apa yang sesungguhnya dicari, apa yang sudah dilakukan selama ini, apa yang sedang dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Andaikan jawabannya sesuai dengan apa yang sungguh dicari orang dalam hidup, kiranya orang menemukan makna hidupnya dan di situ orang mengalami kebahagiaan sejati.

Di mana ruang dan waktu itu? Entahlah, untuk setiap orang bisa berbeda-beda, tetapi rasa saya, alokasi waktu lebih penting. Kalau tak dimungkinkan delapan hari setahun, ya dibagi saja delapan hari itu dengan 365 hari; katakanlah setiap hari orang mengalokasikan seperempat atau setengah jam setiap hari untuk memeluk hening. Apa yang dibuat? Ya memeluk hening itu, hahaha… Bisa dengan misalnya examen conscientiae alias examen of consciousness a.k.a. pemeriksaan batin. Idealnya memang ada pembimbing, sebagaimana saya dibimbing selama hari-hari memeluk hening itu.

Meskipun demikian, entah apapun yang Anda bisa, pantas dicamkan bahwa tanpa memeluk keheningan, orang akan jauh lebih mudah kénthér alias hanyut atau malahan kênthér alias kurang beberapa strip atau ons. Mereka yang maju dalam hidupnya memperoleh momen decisive dalam hidup mereka saat mereka memeluk hening, saat mereka mendengarkan passion, menemukan panggilan sejatinya.

Tuhan, mohon rahmat keberanian untuk memeluk keheningan. Amin.


HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS
(Minggu Biasa XII B/2)
24 Juni 2018

Yes 49,1-6
Kis 13,22-26

Luk 1,57-66.80

Posting Tahun 2017: Apa Arti Namamu
Posting Tahun 2016: Hidupku Proyek-Mu, Hidup-Mu Proyekku
 
Posting Tahun 2015: Pintu Teater Telah Dibuka

Posting Tahun 2014: Bersyukur Itu Gak Gampang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s