Namanya Ja’im

Rumus orang autentik itu sederhana: hidup saja dalam ziarah menjawab pertanyaan who am I (to judge)? Tapi apa pentingnya sih hidup sebagai orang autentik? Saya juga tak tahu apakah itu penting atau tidak, tetapi yang jelas, orang yang autentik itu hidupnya damai di manapun dia berada dan bagaimanapun situasinya. Orang tak ja’im

Sayangnya, justru karena orang tak autentik, lalu malah bisa menghakimi orang lainnya ja’im. Ini bernuansa pembelaan diri sih, tapi berlaku untuk orang-orang lain yang mungkin bernasib sama. Dulu saya kerap mendapat label ja’im karena susah dimintai foto bareng, kenalan dengan orang-orang baru, ngobrol-ngobrol dengan penggemar dan sejenisnya. Padahal, yang senyatanya, saya itu clingus alias pemalu. Nah, mana ada yang percaya orang seperti saya clingus? Mana mungkin romo kok clingus, gimana dia bisa srawung dengan umat, bukan?

Betul, tetapi memang saya tak pernah menempatkan diri sebagai artis atau selebriti jadi kalau saya tak berperilaku seperti artis atau selebriti, rasa saya justru itulah diri saya yang autentik. Tapi apa mau dikata, saya terima saja toh label ja’im. Sebenarnya, saya susah berfoto ria karena punya trauma dengan foto, tapi ceritanya tak usah saya sebarkan di sini deh, hahaha. Jadi, kalau saya susah berfoto ria, dari perspektif saya, itu justru diri saya yang autentik. Kalau akhirnya saya berfoto, berarti memang ada yang saya anggap penting dan untuk itu saya berjuang melawan trauma itu, eaaaaaa. [Lha ya itu namanya ja’im Mo. Ya wis sakkarepmu, wong pancen awake dhewe ki ya ora autentik, hahaha.]

Cukup sudah apologinya. Yang penting diterima poinnya bahwa orang yang autentik itu damai hidupnya, merdeka, ringan, dan happy di mana saja tanpa tertekan oleh hal-hal yang membuatnya gak autentik. Maka, sesuai dengan teks bacaan hari ini, kalau orang hendak menghakimi orang lainnya, sebaiknyalah dia jadi autentik dulu, jernih dulu, supaya bisa melihat orang lain secara jernih. Praktiknya ada pada pedoman keselamatan di pesawat itu, misalnya. Dalam situasi darurat, orang dewasa terlebih dulu mesti memasang alat pernafasan sebelum ia memasangkannya pada anak kecil. Pengandaiannya, situasi darurat itu takkan sedemikian daruratnya sehingga dalam hitungan beberapa detik seakan-akan semua akan mati tak bisa bernafas. Maka, tenang saja, tarik masker pernafasan supaya sendirinya bisa bernafas baik-baik dan dengan demikian bisa membantu orang lain. Lha nek berusaha membantu orang lain dulu sementara diri tersengal-sengal, rak ya untuk fokus saja susah; njuk membantu orang lainnya juga lebih ribet, mau taruh masker di mulut malah gemetaran salah taruh di kuping.

Yang paling memerdekakan ya ungkapan Paus Fransiskus: who am I to judge. Yang paling menyedihkan ialah orang yang melabeli orang lainnya ja’im lantaran orang lain itu tak memenuhi keinginannya. Pertama, karena ia tak bisa menerima who am I to judge. Kedua, karena ia bahkan tak mengerti bahwa labelnya itu berasal dari proyeksi keinginannya sendiri.

Tuhan, mohon rahmat kejernihan batin supaya kami dapat mawas diri dan jadi autentik dalam hidup kami. Amin.


SENIN BIASA XII B/2
25 Juni 2018

2Raj 17,5-8.13-15a.18
Mat 7,1-5

Senin Biasa XII A/1 2017: Jerat Cinta
Senin Biasa XII C/2 2016: Sabar Ya, Bu’
Senin Biasa XII B/1 2015: Ayo Main Hakim Sendiri

Senin Biasa XII A/2 2014: Mengkritik Bukan Menghakimi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s