Siapa Menang?

Dulu kami pernah punya beberapa pohon mangga yang setiap tahunnya berbuah lebat tetapi kami tak bisa makan satu pun buahnya karena… selalu keduluan ulat di dalam setiap buahnya itu. Sebetulnya bisa sih memakan bagian yang tidak dimakan ulat, kira-kira separuh dari buah itu, tetapi sepertinya tidak cucuk untuk melakukannya: direlakan saja bagi ulat supaya makin endhut. Akan tetapi, setelah dua tahun mengalami hal seperti itu, saya berkonsultasi pada ahli tanaman yang memberi penjelasan bahwa pohon mangganya sakit (untuk tidak dibilang pemiliknya yang sakit, mungkin karena ahli itu tahu bahwa saya membawa golok atau samurai atau apalah namanya). Sedih rasanya, dokter tanaman itu menyarankan semua pohon mangga di rumah kami dimusnahkan; karena kalau tidak, pohon mangga yang sakit akan menularkan sakitnya pada pohon yang lain.

Saya cuma menebang beberapa pohon mangga karena tak tega menebang semua, dan tampaknya memang tragedi berlanjut. Cuma satu pohon mangga yang terbebaskan dari sakit itu: mangga gincu.
Saya tak ingin membahas soal gincu di hari pilkada serentak ini, tetapi melihat bagaimana dokter tanaman itu menilik kesehatan pohon mangga dari buahnya. Dari buahnya orang menengarai apakah pohon itu jadi seperti kebenaran nan bijak yang menerangi hidup orang. Ini bukan soal menghakimi sesama, melainkan soal pengenalan, pemahaman akan karakteristik kebenaran: kalau cara berpikir, berbicara, dan bertindak seseorang itu memang exemplary alias pantas diteladan, kita tahu bahwa kita bisa memercayai orang itu. Kalau tidak, tentu sebaiknya kita tak mengikuti jalan yang ditempuh orang itu.

Beberapa waktu lalu muncul bekas capres yang omong soal A dengan dasar perkataan B, yang adalah anggota gerombolan C, yang orientasi dasarnya D, dan seterusnya. Tak perlu saya tunjuk orangnya, silakan tunjuk jari sendiri yang merasa memberi penilaian berdasarkan ‘katanya si anu’. Tokoh politik biasanya pandai menyodorkan janji politik dan bahkan religius sedemikian rupa sehingga rakyat yang tak punya literasi politik tinggal mengangguk-angguk saja, apalagi kalau juga disodori duit. Akan tetapi, bisa jadi tokoh politik yang sama berselingkuh demi posisi semata atau modal ekonomis. Kepada sosok seperti ini, semestinya orang tak meletakkan kepercayaannya. Akan tetapi, apa mau dikata, permainan begini memang gampang-gampang susah. Andai saja seluruh rakyat tahu bahwa pilkada atau pemilu tak pernah dimaksudkan untuk memilih yang terbaik (melainkan untuk memperkecil kemungkinan bandit berkuasa), barangkali satu poin demokrasi berguna.

Tuhan, mohon rahmat supaya kami tahu kepada siapa kami pantas memercayakan diri. Amin.


RABU BIASA XII B/2
27 Juni 2018

2Raj 22,8-13;23,1-3
Mat 7,15-20

Rabu Biasa XII A/1 2017: Walk Out
Rabu Biasa XII C/2 2016: Mau Jus Valak?
Rabu Biasa XII A/2 2014: Cara Bongkar Topeng Hipokrit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s