Orang Pintar Minum Apa

Kehadiran orang-pintar-dalam-tanda-petik bisa jadi diperlukan orang-yang-tidak-pintar-dalam-tanda-petik untuk menemukan barang atau orang yang hilang, menyembuhkan penyakit, mengusir roh jahat, dan sebagainya. Apakah kehadiran orang-pintar-dalam-tanda-petik ini bertentangan dengan iman? Tentu bergantung pada bagaimana orang mendefinisikan iman. Akan tetapi, saya tidak hendak masuk ke persoalan itu [ha njuk ngapa ndadak takon ngono Ma?]. Saya asumsikan kepintaran-orang-dalam-tanda-petik tadi adalah karunia Tuhan sendiri, yang diperoleh bukan karena usaha manusiawi belaka; sungguh-sungguh karunia Tuhan. Tentu agak aneh kalau karunia Tuhan malah bikin orang melenceng dari iman kepada Tuhan itu. Akan tetapi, kenyataannya memang bisa begitu, wong pancen iman itu juga punya dimensi panggilan dan tanggung jawab.

Penulis teks bacaan hari ini katanya menghadapi suatu komunitas yang begitu antusias dalam beriman. Orang-orang dalam komunitas itu ada yang mahir bernubuat, melakukan eksorsisme (pengusiran setan), keajaiban atau mukjizat dengan membawa nama guru dari Nazareth. Akan tetapi, penulis teks bacaan hari ini sadar betul bahwa seluruh kepintaran-dalam-tanda-petik itu tidaklah cukup alias bukan segala-galanya. Kabar gembira yang tersirat dalam teks bacaan hari ini ialah bahwa iman seseorang lebih terhubung dengan hidup konkret dalam kesehari-harian yang serba biasa, bukan dalam tanda petik. Artinya, pun kalau orang memang punya karunia yang sungguh dari Allah datangnya, ia tetap perlu terus menggumuli pertanyaan “Njuk ngopo“alias “So what gituloh“.

Memang, iman yang tidak berkembang atau memperkembangkan hidup konkret itu ya tak berdaya: mati. Hidup bersama Allah, kata seorang pembimbing rohani di Perancis yang wafat satu dekade karena lalu ditikam orang yang sakit mental, tidak terealisasikan dalam mimpi yang tergantung di antara surga dan bumi, melainkan berakar pada situasi konkret. Jadi, tegangannya bukan antara surga-dunia, melainkan antara dunia satu dan dunia lainnya: mana yang pantas diperjuangkan sehingga semakin layak dihuni oleh semakin banyak manusia atau makhluk ciptaan Allah. Baik orang-pintar-dalam-tanda-petik maupun orang-pintar-bukan-dalam-tanda-petik sama-sama dipanggil untuk menjawab tegangan hidup yang serba biasa untuk merealisasikan kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan seterusnya.

Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk berakar dalam dunia nyata dan menguak tabir Sabda-Mu di sana. Amin.


KAMIS BIASA XII B/2
Peringatan Wajib St. Ireneus
28 Juni 2018

2Raj 24,8-17
Mat 7,21-29

Kamis Biasa XII C/2 2016: Rahmat Murahan
Kamis Biasa XII B/1 2015: Beriman Itu Ada Ujiannya

Kamis Biasa XII A/2 2014: Doa Ritual Saja Tak Cukup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s