Manusia Sipir

Sebagai fungsi lembaga pemasyarakatan, sipir memang diperlukan. Dialah yang bertanggung jawab terhadap pengawasan, keamanan dan keselamatan para tahanan. Kurang baik apa toh sipir ini sampai orang jahat pun, entah jahat betulan atau terfitnah sebagai orang jahat, mesti diawasi supaya aman dan selamat. Akan tetapi, keamanan dan keselamatan di situ tetaplah terbatas oleh bangunan fisik rumah tahanan. Sipir takkan bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan tahanan yang kabur atau masa tahanannya selesai. Kasihan dong kalau sipir ini harus menjaga keamanan dan keselamatan tahanan yang kabur (ya kalau dia tahu tahanannya kabur ke sebelah mana).

Bacaan hari ini tidak bicara mengenai sipir penjara, tetapi barangkali terhubung dengan manusia yang hendak jadi sipir bagi jiwanya sendiri. Tak ada hal yang lebih menyedihkan daripada jiwa yang disipiri oleh diri sendiri. Sosok Matius dalam teks hari ini adalah contoh pribadi yang mengungkung jiwanya dalam rumah cukai. Entah bagaimana, saya juga tak punya bayangan bagaimana bekerja di perpajakan: rumah cukai itu jadi rumah tahanan atau penjara yang mengikuti Matius ke mana ia pergi, mengejarnya, menyiksanya, memantaunya setiap saat.

Penjara itu bisa jadi adalah ambisi kekayaan, kekuasaan, seks, candu, game online, alkohol, atau bahkan pikiran orang sendiri. Penjara adalah semacam divide et impera, yang memisahkan orang satu dari yang lainnya, yang membuat eksklusi alih-alih preferensi, yang mengejar privilese juga dengan korupsi alih-alih kesejahteraan bersama. Itulah kiranya yang dihidupi Matius sebelum ia mengalami perjumpaan dengan Allah yang memanggilnya via guru dari Nazareth. Si guru ini datang untuk menghancurkan manusia sipir yang mengungkung jiwanya sedemikian rupa sehingga ia terpisahkan dari orang kebanyakan dan karena itu juga orang kebanyakan membencinya.

Apakah orang kebanyakan yang membenci Matius itu orang-orang benar? Tidak juga. Mereka sama-sama manusia sipir yang lebih parah lagi memberi cap kepada Matius sebagai pendosa kelas berat dan cap inilah yang mencegah hubungan antarmanusia-sipir. Sungguh menjijikkan bagi orang-orang Farisi untuk bergaul dengan koruptor berat. Begitulah manusia sipir: orang lain dilihat dengan takarannya sendiri, dinilai dengan ukurannya sendiri, dicap dengan label bikinannya sendiri.

Yang dibuat guru dari Nazareth menghancurkan manusia sipir. Ia mengundang manusia sipir itu untuk membebaskan penjara jiwanya sendiri. Caranya? Dengan makan bersama dia. Kok isa ya? Lha ya bisalah wong sama-sama punya mulut. Bisa, karena guru dari Nazareth ini bukan manusia sipir yang kenal batas fisik. Dengan batas fisik itu orang cuma bisa melihat dengan indra. Akan tetapi, si guru ini melihat dengan hatinya yang langsung mengail jiwa manusia sipir itu. Lha itu yang susah: melihat dengan hati itu kayak gimana sih.

Tuhan, mohon rahmat kemurnian hati supaya kami mampu memandang sesama sebagaimana Engkau memandang mereka. Amin.


JUMAT BIASA XIII B/2
6 Juli 2018

Am 8,4-6.9-12
Mat 9,9-13

Jumat Biasa XIII A/1 2017: Masukin Ati Aja
Jumat Biasa XIII C/2 2016: Hatimu Kok Keras Nak

5 replies

  1. Hi Fr. Andre, read this piece as part of today’s reading and contemplating it. Benar yg Rm tulis ttg kita yang mengukung mata hati kita sehingga jadi cepat judgmental, menakar dan mengukur seseorang sesuai takaran dr kacamata fisik kita, bukan dari ukuran hati Tuhan Yesus dalam menilai kita para pendosa. Tapi bagaimana kalau itu sebaliknya terjadi pada kita pribadi sehingga malah mengukung diri sendiri dg pandangan yg menghalangi kita utk lepas bebas dr segala yg negatif2 sehingga kita lebih banyak lihat yg gak enaknya drpd keindahan yg ada dlm hidup ini. Apalagi memang kalau kita lagi didera kondisi yg memang gak nyenangin, rasanya hidup juga asem sehingga survival mode kita harus kerja ekstra keras dan itu melelahkan. Kita memang bisa berusaha sabar menanti waktu penghiburan Tuhan (yalah katanya manusia beriman kudu sabar) tapi ya itu, tp bagaimana ya caranya bisa lebih sabar lagi karena negativity itu membuat kita jadi lelah lahir batin. Maaf ini gak persis ttg sikap negatif menilai orang lain, tapi lebih ttg menyikapi hidup. Sound simple but once someone is in that situation, it’s tough. Thank u.

    Like

      • Life is Beautiful! Dulu gak pernah kepikir nonton tuh film meski tahu menang banyak penghargaan, jadi tadi sy baca aja plotnya. Well, u did not provide a precise answer but maybe now I know why it’s your reference. U mean I should take life as a game to win just like Guido taught and enticed his son into during their uncertain faith at the concentration camp? A changing mindset & being playful with life duh? Haha sound logical but it’s only a movie, real life is not as always as easy as it looks. Sama seperti ajaran2 kasihilah musuh2mu sampai 70×7 kali dst, karena mudah menyimak dan mendengarkan tapi paling susah saat hrs mengaplikasikan😁🙏

        Like

      • Thank U Fr., got your point. Yes of course each of us will approach experiences (happiness or sadness) in life differently, as no one owns exactly the same blue print in life. But the link u shared just now is, like the aha point for most of my rumbling questions in mind lately (too much self pity or self love? I hope not but yeah still need to contemplatively revisit the attitude again). The narrow gate citation above also reminded me the immense value of patiently (& happily, cross fingers) juggling with paths everyone of us must go through to arrive at our finish line. But again, we’re leities of flesh & blood, roh penurut tapi daging itu lemah🙏

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s