Mulai dari Kegagalan

Saya tidak tahu mengapa objek pertama ziarah ini ke Gunung Nebo, tetapi memang ingatan saya melayang ke kisah Nabi Musa yang diberi kesempatan untuk memandang hamparan luas tanah Kanaan yang dijanjikan bagi bangsa Israel sebelum akhirnya ia meninggal di situ. (Di kejauhan terlihat Laut Mati, 450 meter di bawah permukaan laut, laut terendah di dunia katanya. Yeriko, kota pertama yang katanya direbut bangsa Israel sekeluar dari Mesir, tak terlihat.) Musa tak sampai ke tanah terjanji itu karena sempat korupsi terhadap kehendak Allah. Alih-alih meyakinkan bahwa Allah menyediakan air di padang gurun, ia mengatakan bahwa dialah yang akan mengeluarkan air dari bukit yang dipukulnya.

Apakah itu kegagalan Musa? Dalam arti tertentu bisa dikatakan begitu dan jika demikian, kegagalan bukan akhir hidup. Meskipun demikian, kegagalan itu memang punya konsekuensi. Dalam hal ini, Musa tidak mendapatkan apa yang dijanjikan Allah kepadanya, untuk masuk ke Tanah Terjanji. Kalau Tanah Terjanji itu cuma lembah Yordan, tentu gak ada masalah. Kalau janji Tuhan itu cuma berkenaan dengan ranah fisik, masih bisa cincailah. Akan tetapi, ini yang dikhawatirkan banyak orang beragama: kalau janji itu berkenaan dengan surga akhir zaman, bisa bikin salah tingkah deh.

Celakanya, meskipun orang beragama takut janji Tuhan itu tak terpenuhi, mereka tetap saja seperti Musa, korup terhadap kehendak Allah sendiri. Begitu arogan, seakan-akan proses modernisasi itu semata merupakan usaha atau kemampuan manusia sendiri. Ini jadi soal perspektif, cara melihat orang terhadap hidup sendiri. Itu juga mengapa orang-orang Nazareth menolak guru dari Nazareth. Mereka cuma bisa memandang pelayanan Yesus sebagai kerja hebat manusia belaka. Itu juga mengapa guru dari Nazareth tak banyak berbuat heboh di kota asalnya sendiri.

Kegagalan Musa, kegagalan orang beragama, memang bukan akhir hidup, tetapi semestinya jadi titik tolak setiap orang beriman untuk senantiasa bergerak ke depan mengandalkan Allahnya, bukan kemampuan diri, kecantikan, kekayaan, kehebatan, dan sebagainya. Barangkali justru dari kegagalan seperti ini, orang bisa menumbuhkan, mengembangkan hidup berimannya. Barangkali tanpa kegagalan malah orang beriman tak semakin terarah pada Allahnya dan bahkan Allah tak bisa memenuhi janji-Nya yang hendak mencintai semua umat-Nya. 

Tuhan, bantulah kami supaya tak selalu gagal mengandalkan kekuatan-Mu juga dalam jerih payah kami. Amin.


JUMAT BIASA XVII B/2
3 Agustus 2018

Yer 26,1-9
Mat 13,54-58

Jumat Biasa XVII A/1 2017: About Being Interreligious
Jumat Biasa XVII B/1 2015: Yesus Beristri, Emang Gue Pikirin
Jumat Biasa XVII A/2 2014: Afirmasi via Negasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s