Barengan Dong

Dari kuliah subuh di masjid sebelah rumah dulu saya mendengar istilah kun fayakun, yang saya tak tahu artinya, tetapi kalau diparalelkan dengan kisah penciptaan dalam Perjanjian Lama kira-kira ya “Maka jadilah” gitu deh. Maksudnya, kalau Allah mau, Dia bisa bikin mak cling: yang ada jadi tiada, yang tiada jadi ada, tanpa banyak cakap, tak bertele-tele. Begitulah nuansa bacaan pertama: kalau mau, Allah bisa memperlakukan umat-Nya sebagaimana tukang periuk menghancurkan tanah liat yang dibentuknya ketika bentuknya tak sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya.

Meskipun demikian, bacaan kedua menunjukkan arah berbeda. Kerajaan Surga diumpamakan sebagai pukat penjaring ikan yang dilempar ke laut dan setelah penuh barulah pukat ditarik ke pantai, lalu yang baik diambil dan yang jelek dibuang. Kalau Kerajaan Surga itu milik Allah dan Dia mau menghendaki ikan yang jelek tak ikut terjaring, bisa saja toh Dia bikin kun fayakun? Rupanya bukan begitu ceritanya. Ikan yang baik dan jelek itu dijaring [omong-omong gimana kabar jaring kali item itu ya?] dan setelah jaring itu penuh barulah pemilahan dilakukan.

Kalau bangsa manusia diparalelkan dengan ikan, kira-kira bagaimana bunyinya ya? Kira-kira ya kemurahan hati Allah membuka ruang kebebasan manusia sampai kepenuhan hidupnya: mau jadi baik atau jelek. Kalau jadi baik ya baiklah, kalau jadi jelek ya jeleklah, jangan tanggung-tanggung, asalkan sungguh mengikuti apa yang ditanamkan Allah dalam hatinya. Kalau setiap orang berpatokan pada niat untuk mengikuti keinginan Allah tadi, niscaya tak akan ada kamusnya bahwa orang yang satu merasa lebih baik atau lebih jelek dari orang lainnya.

Yang ada hanyalah bahwa aku dan kamu sama-sama sedang berziarah menggumuli hidup yang lebih terarah kepada Allah, lebih dari yang lainnya. Perkara paham Allahnya beda, itu bisa dibicarakan baik-baik karena mengenai keindahan dan kecantikan pun bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus saling meniadakan. Dari situ malah orang bisa mengalami pertobatan, menemukan perbendaharaan kebijaksanaan hidup yang baru.

Ya Allah, mohon rahmat kemurahan hati supaya kami dapat bekerja sama untuk menemukan kehendak-Mu bagi hidup kami bersama. Amin.


KAMIS BIASA XVII B/2
2 Agustus 2018

Yer 18,1-6
Mat 13,47-53

Kamis Biasa XVII A/1 2017: Tole Lan Si Plet
Kamis Biasa XVII C/2 2016: Allah Kekinian
Kamis Biasa XVII B/1 2015: Surga Dunia? Ngimpi Keleus…

Kamis Biasa XVII A/2 2014: Layu sebelum Berkembang?

3 replies

  1. kun adalah bentuk kata perintah dari kata “kaana” (ada), artinya adalah! “fayakuunu” terdiri dari dua kata: “fa” (maka) dan “yakuunu” (bentuk present tense dari “kaana”). kalau digabung maka maknanya “adalah! maka ada” atau “terciptalah! maka tercipta.”

    sedikit sharing, mo. sugeng sonten 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s