Kutukan Di

Kemarin, teks yang disodorkan ialah cerita bagaimana guru dari Nazareth ditolak oleh orang-orang di tempat asalnya itu sendiri. Hari ini kami mengunjungi tempat yang jadi tujuan guru itu setelah ditolak di Nazareth: Kefar Nahum, artinya Desa Nahum (nama salah satu nabi yang tak sebesar nama Musa atau Elia), yang dalam Kitab Suci orang Kristiani bahasa Indonesia dikenal dengan Kapernaum. Konon, pada masa hidup guru dari Nazareth itu, ini adalah kota besar di tepian danau Galilea. Sekarang situs itu dikelilingi tembok dan diidentifikasi sebagai the town of Jesus, karena di situlah guru dari Nazareth itu melakukan pelayanannya.

Kenapa dia memilih menyeberang dari Nazareth ke Kapernaum? Karena Kapernaum itu memang kota besar. Tiberias juga kota besar, tetapi penduduknya jelas mayoritas bukan bangsa Yahudi. Selain itu, Kapernaum itu ada di perbatasan antara wilayah yurisdiksi Herodes Antipas dan Herodes Filipi. Kalau ada masalah dengan administrasi Herodes Antipas, ia bisa dengan mudah bergerak ke wilayah Herodes Filipi, dan sebaliknya. Cerdik juga ya guru dari Nazareth ini, untuk tidak menyebutnya licik. Di Kapernaum ini juga guru itu punya banyak relasi; murid-muridnya pun dari situ.

Akan tetapi, jelaslah bahwa Kapernaum itu sudah tak ada lagi selain puing-puing yang dipertontonkan. Kenapa ya? Jangan-jangan karena kutukan Yesus itu, sebagaimana dia juga pernah mengutuk pohon ara di tempat ini, tempat kami mendengarkan uraian tour guide kami. Menarik juga mengingat cerita bagaimana pohon ara dikutuk. Pohon ara yang dikutuk hidup itu tumbuh di atas tanah subur, mendapat suplai dari air di bawahnya, daunnya rimbun, sinar matahari berlimpah ruah (puanasé rèk), tapi ya tak berbuah.

Nah, yang begini ini yang dikutuk Yesus: mendapat banyak dari sana-sini, tetapi tak memberikan buah. Yang baik-baik maunya dianu, tak mau menganu. Yang jelek-jelek maunya nganu, tapi kalau dianu gak mau. Senior saya suka mengungkapkannya dengan paradigma needs dan values. Kalau orang mau hidupnya bernilai, needs mesti diubah menjadi values. Caranya, mengubah ‘di-‘ menjadi ‘me-‘. Hidup orang yang inginnya diperhatikan akan jadi inspiratif justru kalau ia belajar memperhatikan. Orang yang inginnya dicintai justru hidupnya berarti jika ia belajar mencintai.

Maka dari itu, bukan cuma pohon ara, melainkan juga seluruh kota rupanya ikut terkutuk, dan tak mengherankan bahwa Kapernaum tiada. Kota besar itu tak ada lagi sekarang. Tentu bukan cuma soal bangunan kota, melainkan juga orang-orangnya, ikut terkutuk. Herodes, yang sebenarnya punya posisi sangat bagus untuk membawa kebaikan bersama, malah berperilaku seperti pohon ara tadi. Betapa tidak, posisi jabatannya sudah tinggi, punya ini itu, lha kok ya malah merampas istri saudaranya sendiri. Dasar terkutuk, nabi pun dihabisinya. Yohanes Pembaptis memberi gambaran sebaliknya: ia memberikan diri pada kebenaran, dan tidak menuntut apa-apa dari kebenaran.

Tuhan, mohon rahmat kemurahan hati supaya kami mampu mentransformasi kebutuhan-kebutuhan kami menjadi nilai yang berguna bagi semakin banyak orang. Amin.


SABTU BIASA XVII B/2
4 Agustus 2018

Yer 26,11-16.24
Mat 14,1-12

Sabtu Biasa XVII A/1 2017: Persekusi Lagi
Sabtu Biasa XVII C/2 2016: Mati Lagi, Mati Lagi
Sabtu Biasa XVII B/1 2015: Agama Komunis

Sabtu Biasa XVII A/2 2014: Siapa Yang Kamu Sebut Nabi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s