Kesandung Toilet

Lebih sering saya menahan diri untuk tidak masuk ke toilet di Tanah Suci semata-mata karena problem dua shekel. Saya cuma punya uang dollar dan euro (ciyeh nggaya euy, padahal itu juga karena belas kasihan peserta ziarah lainnya), jadi lebih baik tunggu sampai ketemu toilet gratis. Pernah sih, meskipun jelas toiletnya berbayar dua shekel saya tetap masuk, wong pancen kebeles pipit tak tertahankan lagi. Tampaknya penjaga toiletnya tahu saya gak punya duit sehingga dia pergi dari pos jaganya ketika saya mendekati area toilet. Syukron

Teks bacaan hari ini mengingatkan saya pada ikan yang di tepian Danau Galilea disebut Peter fish: entahlah, mujair atau gurami. Pokoknya, itu bukan menu favorit saya, tetapi akhirnya toh saya berhasil menghabisi ikan itu meskipun tidak bersih-bersih amat. Saya sisakan bagian kepala dan durinya karena saya trauma duri ikan dan saya percaya rasanya tak segurih dagingnya. Meskipun demikian, teks bacaan hari ini tidak bicara soal gurihnya fried Peter fish ini, tetapi soal menjaga diri supaya tidak jadi batu sandungan bagi yang lain.

Sebetulnya jika semua orang hidup efektif, tak ada lagi yang namanya batu sandungan karena pun kalau jatuh tersandung, orang yang efektif tidak akan menyalahkan batu sandungan. Ambillah contoh orang yang terburu-buru mengerjakan sesuatu sehingga ketika melangkah, kakinya terbentur pada daun pintu atau kaki meja. Orang yang tak efektif akan memaki-maki atau bahkan menendang daun pintu atau kaki meja, sedangkan orang yang efektif segera sadar bahwa dirinyalah yang keliru karena terburu-buru dan segera melanjutkan aktivitasnya secara lebih hati-hati. Batu sandungan bisa diabaikan alias tidak perlu terlalu dipersoalkan.

Akan tetapi, lain soalnya kalau yang jadi batu sandungan itu orang, karena orang tidak ada ‘di sana’ terus menerus, tidak bisa jadi objek seperti pintu, meja, atau batu terus menerus [Anda mau disemen di tengah jalan supaya jadi batu sandungan?]. Tindakan saya ke toilet tanpa bayar bisa saja jadi batu sandungan bagi orang lain yang menyimpulkan bahwa saya tidak mau bayar toilet. Meskipun kesimpulan itu sendiri tidak tepat (karena bisa saja kalau penjaganya ada di situ saya tetap akan minta izin ke toilet atau pinjam uang orang lain untuk membayarnya), tindakan saya bisa jadi trigger bagi orang lain untuk menerobos apa saja, jadi anarkis, individualis dan sejenisnya. Dalam arti itu, tindakan saya jadi batu sandungan. Karena itu, berkenanlah Anda mewakili penjaga dan pengelola toilet itu untuk mengampuni saya yang tidak membayar biaya sekitar delapan ribu rupiah untuk buang air kecil.

Orang beriman tak perlu berpikir muluk-muluk untuk jadi batu sandungan [misalnya membayar satu milyar untuk jadi calon wagabener, ini cuma misal loh ya]: tutur kata, tindakan kecil pun bisa jadi batu sandungan. Tak perlu khawatir, jadi batu sandungan itu tidak selalu jelek karena bergantung pada apa yang tersandung. Kalau yang tersandung itu benih kejahatan, kiranya itulah yang senantiasa diusahakan umat beriman.

Tuhan, mohon kepekaan hati dan budi supaya kata dan tindakan kami tidak jadi batu sandungan bagi Sabda-Mu dalam hidup bersama kami. Amin.


SENIN BIASA XIX B/2
13 Agustus 2018

Yeh 1,2-5.24-28; 2,1
Mat 17,22-27

Senin Biasa XIX A/1 2017: So Sweet
Senin Biasa XIX C/2 2016: Sederhana Saja
Senin Biasa XIX A/2 2014: Tuntutan Etis Privilese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s