Ti Voglio Bene

Tak ada cinta yang lebih luhur daripada cinta yang menutup kemungkinan pembalasan. Cinta macam ini lebih menyentuh hati daripada cinta mainan yang dikonsumsi oleh kaum munafik. Dulu saya diajari untuk membalas cinta Tuhan yang begitu besar, atau membalas cinta orang tua, dan sejenisnya. Lama kelamaan saya sadar bahwa itu adalah bagian dari cinta bersyarat yang dihidupi banyak orang [padahal orang-orang ini ya sudah fasih dengan lagu Kasih Ibu: Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia]. Mana ada orang yang bisa membalas cinta Tuhan, sedangkan membalas cinta ibundanya saja tak becus?

Pergumulan mengenai pembalasan cinta itu mengantar saya pada keyakinan bahwa Allah tidak menghendaki pembalasan cinta-Nya. Ia cuma ingin cinta-Nya tersalurkan sebagai cinta-Nya, bukan cinta diri orang yang, entah disadari atau tidak, cenderung menuntut balas. Apakah keyakinan ini benar, saya tak bisa memastikan, tetapi sekurang-kurangnya keyakinan itu lebih melegakan dan membebaskan dan membahagiakan: saya tidak menempatkan hidup saya dalam kotak ‘keharusan’, tetapi dalam koridor ‘panggilan’ alias ‘peziarahan’. Susah menjelaskannya. Pokoknya, keharusan itu tidak lagi datang dari luar diri, melainkan datang dari kedalaman. Yang semula merupakan ‘kewajiban’, berubah menjadi ‘dorongan cinta dari dalam’ tanpa ketakutan akan kegagalan atau tanpa balas.

Hidup yang demikian ini, sudah saya uraikan dalam posting What Belongs to Love, terdukung oleh kata kunci yang bacaan hari ini: yang terbesar adalah yang terkecil. Guru dari Nazareth menjawab pertanyaan murid-muridnya soal siapakah yang terbesar dalam dunia surgawi: mereka yang menjadi orang kecil, yang tak berpretensi sebagai orang penting atau orang besar, apalagi yang menyimpan agenda tersembunyi dalam diri untuk merendahkan diri menaikkan mutu. Orang seperti ini adalah orang yang memberi perhatian kepada mereka yang tersingkir, yang tak punya potensi untuk membalas kebaikan sesamanya.

Di situlah terdapat cinta luhur yang menyentuh hati: ti voglio bene [bacanya ti volyo béné], aku inginkan yang baik-baik terjadi padamu, bukan supaya kamu memberikan yang baik kepadaku, melainkan memang ti voglio bene. Kalau ti voglio bene ini diterapkan pada orang besar, orang penting, orang berkuasa, orang kuat, apalagi disampaikan oleh orang lemah, orang miskin, orang tanpa kuasa, bisa jadi ada udang di balik batunya. Misalnya, orang miskin memilih pemimpin supaya kemiskinannya bisa berkurang. Ini bukan ti voglio bene dan bisa jadi malah hidupnya terabaikan oleh pemimpin yang dipilihnya sendiri.

Lain soalnya kalau ti voglio bene direalisasikan oleh orang kuat terhadap orang lemah, orang berkuasa terhadap orang tak berdaya, dan seterusnya. Apakah itu jadi jaminan bahwa ada cinta luhur ketika orang kuat merealisasikan ti voglio bene kepada orang lemah? Iya, sejauh kuat, kuasa, besar dan sejenisnya itu berarti tak menuntut balasan alias imbalan a.k.a. pamrih. Lebih dari itu, bahkan cinta luhur itu bisa bagaikan air susu dibalas dengan air tuba. Give your best and let it go.

Tuhan, mohon rahmat kemurahan hati untuk mencinta secara tulus. Amin.


SELASA BIASA XIX B/2
Peringatan Wajib St. Maksimilianus Kolbe
14 Agustus 2018

Yeh 2,8-10;3,1-4
Mat 18,1-5.10.12-14

Selasa Biasa XIX A/1 2017: Mana Ambisi 
Selasa Biasa XIX C/2 2016: Jagoan Kalah Dulu
Selasa Biasa XIX B/1 2015: Adakah Yang Kusingkirkan?
Selasa Biasa XIX A/2 2014: Jangan Mentang-mentang Ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s