On Target

Mungkin masih banyak umat beragama meyakini bahwa dosa itu urusan manusia dengan Tuhan, tanpa mau peduli bahwa sebetulnya Tuhan “tak punya urusan” dengan dosa manusia. Maksud saya, Tuhan tidak dirugikan oleh dosa manusia. Yang dirugikan adalah manusia sendiri karena gagal mencapai target, gagal bahagia, gagal damai, gagal enjoy dalam hidupnya. Barangkali itulah kata kunci terpenting untuk memahami pengertian dosa dalam Kitab Suci. Berhubung saya bukan ahli Kitab Suci, saya tak bisa menunjukkan persisnya di mana karena saya cuma pernah mendengar uraian ahli Kitab Suci mengenai core dari berdosa itu tadi: gagal mencapai target, meleset, keluar jalur. Akibat dari kegagalan itu ya tadi: tak happy, tak damai, tak enjoy dalam hidup, bahkan bisa jadi sakit, baik fisik maupun mental.

Karena itu, sebagaimana dalam dunia medis, wajarlah dipertanyakan di mana sakitnya. Dengan jawaban “sakitnya tuh di sini” dokter bisa menelusuri di mana akar permasalahannya karena sakit itu jadi indikator ketidakberesan atau kegagalan fungsional organ tertentu. Dalam hidup kerohanian, hal yang sama berlaku ketika orang salah jalan, gagal mendekati target: memperoleh kesenangan tetapi tidak mendapati kebahagiaan hidup, mendapatkan afirmasi atau dukungan tetapi tidak mengalami ketenangan hidup, dan seterusnya. Dengan demikian, menjadi jelas bahwa melakukan kejahatan, berdosa, sama sekali bukan serangan terhadap Allah, melainkan terhadap manusia sendiri.

Bayangkanlah seorang anak yang mengancam bunuh diri kepada orang lain yang tidak memenuhi keinginannya. Paling banter, anak itu menyodorkan orang lain supaya merasa bersalah, tetapi sebetulnya tidak ada orang yang bisa dipersalahkan selain orang yang bunuh diri itu sendiri. Itu mungkin contoh ekstrem. Yang agak karikatural mungkin seorang ibu yang menyiksa diri ketika anaknya tak mau makan. Adakah? Setiap kali anaknya gak mau makan, ibu ini memukuli diri atau ikut-ikutan gak makan. Lha piye to iki? Orang lain sudah tersesat kok malah nambahi dosa. Begitulah kiranya konteks bacaan hari ini: bagaimana kalau orang lain berdosa, mau membantunya atau malah ikut-ikutan berdosa?

Patokannya adalah bagaimana kiranya Allah bertindak terhadap mereka yang salah jalan, gagal mencapai target? Apakah Dia mengeluarkan amunisi kemarahan-Nya? Rupanya tidak. Ia tetap ‘memainkan’ cinta-Nya. Ia tetap menginginkan kebahagiaan orang yang tersesat itu: ti voglio bene. Bagaimana caranya? Dengan pengampunan, dan pengampunan itu berarti harapan supaya yang tersesat itu mendengarkan kembali Sabda-Nya. Bagaimana itu dilakukan? Lewat malaikat-malaikat-Nya, dan dalam bahasa Kitab Suci, malaikat itu ialah segala yang jadi mediator keselamatan Allah.

Kalau begitu, teks bacaan hari ini mengundang orang beragama untuk jadi mediator keselamatan Allah itu, bukan jadi corong untuk mendepak orang dari persekutuan dengan Allah. Celakanya, orang bisa terjerumus pada sikap eksklusif bahwa mediator keselamatan itu hanya suku, partai, agama, bangsa tertentu, sehingga bukan Allah lagi yang jadi tolok ukur, melainkan sentimen grup-grup itu. Kalau begitu, orang yang berpretensi jadi mediator itu malah ikut-ikutan gagal mencapai target, salah jalan, tersesat. Alih-alih jadi agen keselamatan Allah, orang beragama begini ini malah nambah dosa.

Ya Allah, mohon rahmat supaya kami senantiasa on target dan kebahagiaan kami ada pada-Mu. Amin. 


RABU BIASA XIX B/2
15 Agustus 2018

Yeh 9,1-7; 10,18-22
Mat 18,15-20

Rabu Biasa XIX A/1 2017: Tafsir Kafir
Rabu Biasa XIX B/1 2015: Satu Dunia?
Rabu Biasa XIX A/2 2014: Correctio Oke, Fraterna Tunggu Dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s