Dunia Sama Kita Beda

Memang tidak mudah ya hidup di dunia yang penuh dengan attachment alias kelekatan, yang cenderung memberi tagging terhadap aneka hal dengan èmbèl-èmbèl kata ganti empunya alias posesif: milikku, milikmu, miliknya, dan seterusnya. Entahlah, pemahaman dan perilaku yang sinkron dengannya memang tidak semudah diomongkan: hidup ini cuma titipan, hidup ini cuma sementara, dan sejenisnya. 

Saya ingat permainan dinamika kelompok yang salah satunya ialah membangun istana dari tumpukan kartu remi dan setelah dengan segala kesulitannya pekerjaan itu diselesaikan, fasilitator menghancurkannya seketika. Reaksi mereka yang terlibat dalam pekerjaan itu mungkin bisa enteng-enteng saja karena sadar bahwa itu hanya permainan. Kehilangan hadiah pun tidak jadi masalah (kecuali kalau hadiahnya semacam satu milyar). Akan tetapi, kalau itu adalah soal hilangnya tanah, rumah, calon istri atau suami, ehmmmm… apa iya bisa enteng-enteng aja?

Lha ya jelas dong, Rom, mosok seenak jidatnya aja ambil-ambil tanah saya; nyerobot suami orang, menghancurkan karir yang sudah dititi puluhan tahun!
Loh, kok jadi stel kenceng gitu?
Ya jelas dong, Rom! Terhadap ketidakadilan, kita cuma satu kata: lawan!

Loh, lha iya, saya juga setuju, tetapi dari mana datangnya stel kenceng begitu sih?

Ya dari itu tadi: label posesif, seakan-akan memang segala sesuatu yang kita perjuangkan adalah milik kita, seakan-akan hanya dengan mengurus sertifikat hak milik berarti tanah itu memang milik kita. Memperjuangkan keadilan ya memperjuangkan keadilan ajangapain mesti ditambahi beban emosi segala sih?

Label posesif bukan satu-satunya persoalan. Teks bacaan hari ini menyodorkan label lain: kategori ‘kita dan mereka’. Guru dari Nazareth cuma mengatakan, kalau orang tidak melawan kita, ya dia ada di pihak kita, seberapapun kadarnya, seberapapun antusiasmenya.
‘Kita dan mereka’ menjadi benih fanatisme, radikalisme, fundamentalisme. ‘Kita dan mereka’ bisa membuat orang gagal fokus pada pokok penting persoalannya dan malah memproduksi manusia-manusia tribal. Tentu bukan itu yang diharapkan oleh Guru dari Nazareth.

Tapi, Mo, yang namanya distingsi identitas itu ya memang ‘kita dan mereka’ toh? Betul banget, tetapi éling, Om, éling, ‘kita dan mereka’ itu cuma konstruksi mental, bukan kenyataan apa adanya. Dengan kata lain, itu mengapa saya bilang soal pentingnya berpikir secara heuristik. Guru dari Nazareth menginsinuasikan bahwa ‘mereka’ itu baru benar-benar ‘mereka’ jika sungguh melawan kita. Kalau tidak, itu bukan lagi ‘mereka’, melainkan ‘kita yang berbeda’. Kalau berhadapan dengan ‘kita yang berbeda’, jalan keluarnya bukan dengan memberi label ‘mereka’, melainkan omong, berdialog dengannya. Nah, kalau kita alergi pada yang berbeda, bisa jadi juga kita menyumbang amunisi untuk fanatisme, fundamentalisme, radikalisme itu.

Tuhan, mohon keberanian untuk membongkar kepicikan hati kami. Amin.


HARI MINGGU BIASA XXVI B/2
30 September 2018

Bil 11,25-29
Yak 5,1-6
Mrk 9,38-43.47-48

Posting 2015: Jangan Sewot Dulu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s