Hanya Doa

Kalau mengikuti insight catatan kemarin, Anda tak punya alasan untuk membenci orang yang membacakan puisi doa beberapa hari yang lalu. Yang kerap dikomentari ialah bagian berikut:
Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka, yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami, dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami, dan menangkan kami, karena jika Engkau tidak menangkan, kami khawatir ya Allah, kami khawatir ya Allah, tak ada lagi yang menyembah-Mu.

Saya tidak berminat mengomentari doa tersebut, tetapi saya andaikan puisi doa itu dibuat secara tulus sebagai doa, dan oknum N cuma membacakannya. Ya bisa juga sih diandaikan bahwa N bukan sekadar boneka pintar pembaca doa, melainkan sungguh-sungguh secara tulus mendoakannya, tanpa muatan politis sama sekali. Seturut bunyi doanya, dengan mempertimbangkan insight catatan kemarin mengenai es grim, Anda bisa mengerti bahwa N adalah pribadi yang pantas dicintai, pantas disayangi, bahkan meskipun yang dilakukannya menjijikkan. Dengan menyayangi atau mencintainya, Anda terluput sebagai objek yang dipersepsikan sebagai musuhnya, sekurang-kurangnya dari sudut pandang Anda sendiri. Umat beriman tidak perlu membenci atau memusuhi pribadi N, tetapi cukup menjauhi kuasa roh jahat yang memengaruhi polah tingkahnya.

Loh loh loh, jadi maksudnya Romo ini menganggap kuasa roh jahat itu ada pada pribadi N tadi?
Oh ya tidak hanya pada pribadi N, tetapi juga pada diri Anda dan saya. Sulitlah bagi kita mengklaim bahwa dalam diri kita hanya ada roh baik dan Anda tak perlu menunggu sampai kesurupan untuk mengerti bahwa roh jahat itu memang eksis dalam diri manusia. Terlalu banyak manifestasinya untuk disebutkan di sini. Dalam teks bacaan hari ini disodorkan manifestasi yang extraordinary: membisukan, membantingkan orangnya ke tanah, membuat mulut berbusa, gigi bergemeretak, dan kejang-kejang. Para murid Guru dari Nazareth tak bisa menyembuhkannya. Kenapa? Kalau dilihat dari kalimat terakhir, alasannya ialah karena para murid itu belum atau tidak berdoa, atau barangkali kalau dibandingkan dengan rumusan doa yang saya cuplik di atas tadi, karena doanya tidak realistis.

Orang beriman tidak diundang untuk bikin aneka mukjizat. Hari-hari orang beriman tetap biasa seperti yang lainnya, terdiri dari aneka pengulangan yang mungkin sangat receh. Meskipun demikian, yang membedakannya dari orang tak beriman ialah bahwa ia berdoa. Segera saya tambahkan di sini: bukan ritualnya (yang tiap agama bisa punya versinya sendiri-sendiri), bukan rumusannya, bukan bahasa yang dipakainya, yang membuat orang berdoa. Kata senior saya yang sudah meninggal, doa merupakan persepsi mengenai realitas dan kehadiran penuh Yang Maha Esa, yang tidak pernah absen atau jauh dari apa saja yang eksis.

Runyamnya, banyak orang beragama tak punya persepsi seperti itu. Doa seakan-akan jadi tiket ke dunia sana, alih-alih sebagai pintu masuk untuk menyelami dunia sini. Tak mengherankan, karena tak paham bagaimana mesti membangun dunia sini, tak sedikit orang yang melarikan diri dengan menggembar-gemborkan dunia sana. Pendoa yang sesungguhnya ialah dia yang dealing with this worldly life dengan perspektif nilai hidup abadi. Doanya berdampak konkret bagi kemanusiaan. Ya Allah, mohon rahmat supaya kami mampu berdoa. Amin.


SENIN BIASA VII C/1
25 Februari 2019

Sir 1,1-10
Mrk 9,14-29

Posting Tahun A/1 2017: Lucunya Roh Jahat
Posting Tahun C/2 2016: Sukak-sukak Gueh!

Posting Tahun A/2 2014: Prayer: Recognition of God’s Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s