Makna Hidup

Tidak semua yang dikatakan Guru dari Nazareth dalam Kitab Suci adalah memang kata-kata yang diucapkan Yesus. Bisa jadi itu hanyalah cerminan refleksi komunitas jemaat perdana mengenai kata-kata yang diucapkan Yesus itu. Teks bacaan hari ini termasuk yang diduga para ahli sebagai tafsiran komunitas jemaat perdana terhadap metafora gandum-ilalang yang dibacakan pada hari Sabtu lalu (Beauty and the Beast). Buat orang yang tidak ahli seperti saya ini, tidaklah penting apakah penjelasan alegori itu dikatakan Yesus sendiri atau komunitas jemaat perdana. Setiap pembaca bisa memberikan penjelasan seturut versinya sendiri. Bagaimana kalau penjelasan itu saling bentrok? Ya dirembug saja baik-baik.

Saya kira alegori yang disodorkan Guru dari Nazareth itu tidak dimaksudkan sebagai nasihat moral seperti kalau orang menceritakan kisah kancil mencuri timun (yang nasihat moralnya apa, saya juga dah lupa). Ini lebih soal menerangkan bagaimana elemen-elemen dalam alegori itu bermakna dalam hidup sehari-hari (ladang, ilalang, gandum, penabur, penuai, dll). Nasibnya ilalang akan dihancurkan di penghujung waktu. Gandum bernasib lebih baik. Ladang kiranya merepresentasikan dunia tempat yang baik dan jahat itu tumbuh.

Artinya, di dunia ini semua orang memang punya dua opsi orientasi ke depannya: mau yang habis dilalap api atau bercahaya terang dalam suasana yang disebut sebagai Kerajaan Allah itu. Ini bukan soal nanti besar mau jadi apa atau nanti matinya masuk mana, melainkan soal membangun potensi orientasi tadi dalam hidup yang sekarang dan di sini itu. Di mana batas ilalang dan gandum tadi? Tak lain ialah perjumpaan dengan Allah sendiri, entah bagaimana pun itu mau dirumuskan seturut iman dan kepercayaan orang. Tanpa perjumpaan dengan Allah itu, orang tinggal sebagai ilalang yang memupuk potensi bakar-bakaran tadi. Perjumpaan dengan Allah membuatnya bertransformasi.

Bagaimana orang tahu bahwa ia mengalami perjumpaan dengan Allah? Saya tak punya resepnya, tetapi indikatornya jelas: orang menemukan makna hidup yang memungkinkannya bertransformasi. Sayangnya, transformasi tak dimungkinkan, dalam bahasa rohani, tanpa pertobatan.

Dua hari lalu saya menghadiri ibadah orang Katolik di sebuah kapel di kota gudheg. Yang memimpin ternyata orang gerakan saat dulu saya mulai tahu perpecahan dalam sebuah partai nasionalis dan orang ini ikut mengalami kekerasan aparat saat itu, sampai akhirnya melarikan diri ke luar negeri, persis pada momen ia mengalami krisis iman. Apa saja yang berbau-bau Tuhan itu membuat hatinya panas dan berontak. Lama di luar negeri untuk belajar, ia tidak menemukan makna hidup, bahkan setelah ia menjadi staf pengajar di universitas bergengsi di luar negeri itu.

Perjumpaan dengan Allah memang bisa dimediasi oleh penemuan makna hidup dan orang ini ndelalahnya bergabung dengan gerombolan saya, cuma nasibnya berbeda karena tempat tinggalnya juga berbeda; tetapi, cerita hidupnya sebetulnya berlaku untuk semua orang. Transformasi hidup terjadi pada momen orang mengalami pertobatan. Itu juga yang disampaikannya sebagai imam muda: bilik pengakuan itu jadi tempat khas bagi orang beriman untuk menemukan makna hidup.

Tuhan, mohon rahmat kebijaksanaan supaya kami semakin mampu memilah-milah di ladang hidup kami mana ilalang dan gandum-Mu. Amin.


SELASA BIASA XVII C/1
30 Juli 2019

Kel 33,7-11;34,5-9.28
Mat 13,36-43

Selasa Biasa XVII A/1 2017: Tak Melawan Tuhan, Tapi…
Selasa Biasa XVII B/1 2015: Siapa Bikin Agama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s