Pay It Backwards

Dua bacaan hari ini menohok sekurang-kurangnya saya. Keduanya menyinggung soal keberakhiran suatu era, atau mungkin lebih mak jleb lagi disebut kiamat. Yang satu tanda-tandanya disodorkan dalam bentuk vision yang diperoleh Daniel, sementara Guru dari Nazareth memberi saran supaya orang menangkap tanda-tanda dengan mengamati lingkungan alamiah. Kemarin sudah disinggung, acuannya adalah perlakuan terhadap Yerusalem. Kalau Yerusalem sudah dikepung tentara-tentara, alamat kiamat mendekat.
Lah, mana, dari dulu dikepung tentara tapi kok gak kiamat-kiamat juga?

Nah, Anda lupa, kan sa su bilang itu tulisan dibikin setelah Yerusalem diruntuhkan Roma di tahun 70. Jadi, ya itulah kiamatnya, jangan dibawa ke mana-mana dengan variasi takhayul. Eh, gosip, katanya kalau sampai mesjid Al-Aqsa dirubuhkan dan dibangun bait Allah kembali, bakal kiamat dunia ini. Lha iyalah, kiamatnya ya berarti protes yang bangunannya dirubuhkan itu. Itu tak perlu ramalan. Common sense saja Pak Eko bisa masuk!
Kalau itu pun terjadi, the show must go on. Sehebat-hebatnya Anda, seampuh-ampuhnya Anda, sebesar apa pun peninggalan Anda, tak akan ada yang mengenang Anda selain mereka yang punya relasi personal dengan Anda. Mungkin nama Anda disebut sebagai Bapak Pembangunan, tetapi bisa jadi itu menempel dengan sebutan Bapak Koruptor. Mungkin nama Anda dikenang sebagai pahlawan tanpa nama, tetapi bisa jadi semangat yang Anda tularkan terus hidup merambat ke sekitar, sampai kiamat(nya).

Langit dan bumi berlalu, tetapi kekuasaan Allah tak mengikutinya. Sayangnya, bisa Anda amati, kebanyakan orang mengikuti kekuasaan langit dan bumi, yang dampaknya habis bersama nasib langit dan bumi itu.

Dulu pernah ada film berjudul Pay It Forward. Untuk menanggapi dua bacaan hari ini, mungkin lebih realistis dimodifikasi saja judulnya menjadi Pay It Backwards. Bukan perkara gampang karena ini melawan arus tren air susu dibalas dengan air tuba. Artinya, orang mesti menularkan semangat membalas air tuba dengan air susu. Bikin dongkol gak sih? Orang jahat sama kita malah kita baik-baikin. Gak mendidik!😂😂😂 Emangnya elu pendidik?

Dengan pay it backwards, saya kira, fokus orang tidak terletak pada orang lain. Maksud saya, ia tidak berpretensi lebih superior dari orang lain untuk mengajarinya hidup baik, tetapi memberikan dirinya sendiri kedamaian. Baru kalau orang damai, dia bisa berbuat sesuatu untuk orang lain.
Halah ya gak juga, Rom, saya kalau marah ya banting-banting barang, trus nanti akibatnya dibeliin barang yang lebih bagus dari yang saya banting!😂😂😂
Berbahagialah Anda kalau begitu, tetapi ya itu tadi, itu adalah perkara langit dan bumi, yang akan lewat entah kapan.

Pay it backwards membahagiakan Anda karena perkara-perkara batiniah, bahwa Anda melampaui keterbatasan Anda sendiri, Anda mengalahkan diri Anda sendiri. Dalam situasi itu, apa pun yang terjadi di sekeliling Anda, Sabda Allah tidak akan lewat. Sabda Allah hidup dalam diri Anda.
Nah, sudah ya nasihatnya. Silakan berdoa sendiri.😂😂😂
Amin
.


JUMAT BIASA XXXIV C/1
29 November 2019

Dan 7,2-14
Luk 21,29-33

Jumat Biasa XXXIV A/1 2017: Tirani Agama
Jumat Biasa XXXIV C/2 2016: Guru Terbungkam

Jumat Biasa XXXIV B/1 2015: Agama Skizofrenik
Jumat Biasa XXXIV A/2 2014: Passa Questo Mondo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s