eMak Zul

Saya seperti orang yang tak mengikuti berita ketika membaca judul Jokowi meminta supaya disiapkan pengacara handal menghadapi gugatan Uni Eropa. Loh loh loh, ada apa ini kok Uni Eropa menggugat Indonesia ya? Gak cukup po anggotanya dulu ratusan tahun berkolonialisasi ria di Indonesia? Maunya ambil langsung kekayaan alam Indonesia gitu? Hmmm…. Ini mencurigakan. Syukurlah, presiden satu ini mewarisi kepercayaan diri presiden pertama RI, yang tak sudi diinjak-injak oleh asing (meskipun nasibnya diinjak-injak oleh bangsa sendiri😒). Semoga staf khusus dan umumnya punya kepercayaan diri serupa dan menemukan jalan untuk menentukan nasib bangsa ke depan. Memang, risikonya diinjak-injak bangsa sendiri dengan aneka kekisruhan dan mungkin kekisruhan itu juga bisa jadi hasil settingan asing. Semoga tak ada pemakzulan seperti terjadi di negeri sebelah sana.

Omong-omong soal makzul, pada zaman jebot dulu sudah ada kebiasaan pemakzulan di Israel manakala rajanya tidak mendengarkan pesan yang dibawa para nabi. Legitimasinya tidak didapat dari perhitungan kepentingan politis, tetapi dari suara Allah sendiri. Kalau raja tidak menggubris suara Allah lewat nabi, mereka dimakzulkan Allah; tidak dalam arti segera turun dari jabatannya, tetapi bahwa jabatannya itu tak lagi mendapat rida Allah. Di mata Allah, ia turun dari jabatannya dan kehancuran di ambang mata. Teks bacaan pertama hari ini menampilkan penolakan raja Ahas terhadap saran Yesaya supaya tak bersekongkol dengan bangsa Asyur. Alasan penolakan raja Ahas terdengar cool: tidak mau mencobai Allah. Akan tetapi, itu cuma layanan mulut untuk menutupi kejahatannya yang memang tak lagi mau mendengarkan Allah.

Setiap orang akan kedatangan emak zul, turun dari tahta kemanusiaan, entah perlahan-lahan atau tiba-tiba. Sikap raja Ahas bertolak belakang dengan sikap yang ditunjukkan Bunda Maria. Tidak diceritakan dalam Kitab Suci bagaimana emak zul datang pada Bunda Maria, tetapi saya percaya bahwa karena beliau punya sikap dasar mendengarkan Sabda Allah, kedatangan emak zul tidak menjeblokkan kemanusiaannya, tetapi justru mengangkat harkat kemanusiaannya.
Saya teringat buyut saya dulu yang setiap kali saya kunjungi senantiasa bertanya kapan saya married. Pertanyaan yang wajar dilontarkan karena dalam tradisi keagamaannya tentu pernikahan adalah semacam kewajiban manusia. Terhadap pertanyaan itu saya senantiasa menjawab belum karena masih sekolah, sampai suatu kali beliau berkomentar,”Dari dulu sekolah terus, apa kamu itu memang terlalu bodoh atau bagaimana?”🤣🤣🤣

Buyut saya ini, kental dengan spiritualitas kejawen, adalah seorang Muslim yang punya kepasrahan hidup terhadap Allah yang mahabesar. Ia ‘menentukan’ sendiri kapan menghembuskan nafas terakhirnya. Emak zul datang dan beliau menyambutnya dengan sangat tenang. Begitulah nasib umat beriman yang fokusnya bukan semata kepentingan politis, melainkan rida Allah sendiri. Emak zul bisa datang cepat atau lambat, tetapi jiwanya tetap bahagia dalam rengkuhan-Nya.

Tuhan, berkenanlah Engkau memperbaiki antena kami supaya dapat menangkap sinyal cinta-Mu lebih baik lagi. Amin.


HARI KHUSUS ADVEN
20 Desember 2019, Jumat

Yes 7,10-14
Luk 1,26-38

Posting 2018: Khilaf (Lagi) Ah
Posting 2017: Hidup Bukan Nganu

Posting 2016: Fully Charged

Posting 2014: Hamba Tuhan Tuh Apa…

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s