Mengapa Harus Ada Korona?

Menurut Aristoteles, di balik aneka perubahan di dunia ini, ada empat sebab yang melatarinya. Maka, kalau dipersoalkan mengapa harus ada korona, empat sebab itu juga bisa disodorkan.

  • Kausa materialis: ini adalah alasan yang menunjuk pada bahan-bahan yang kiranya bisa ditangkap dengan indra manusia dan pembantunya (misalnya mikroskop). Virus berordo Nido dari keluarga Corona subkeluarga Corona dengan panjang gennya bervariasi dari 26 sampai 32 kilobase dalam biologi molekuler ini merupakan gen virus RNA (Ribonucleic Acid, molekul tunggal pembantu pembentukan DNA, Deoxyribonucleic Acid) terbesar. Saya emboh tapi sepertinya virus ini berbahan gen dan lapisan protein. CMIIW.
  • Kausa formal: ini adalah alasan yang menunjuk pada struktur atau desain dari korona. Katakanlah ini semacam blueprint bin cetak biru. Alasan ini merujuk pada hal yang membuat korona itu begitu daripada begini. Jadi, andaikan kausa materialnya jelas adalah gen dan lapisan protein tadi, kausa formal menunjuk pada bentuk susunan virus tadi. Gen RNA itu tidak harus dilapisi protein tertentu, tetapi bisa juga ketambahan pembungkus lain yang bentuknya berbeda. Virus korona disebut demikian rupanya karena di luarnya ada semacam paku yang berbentuk corona (mahkota). Kalau bentuknya seperti sedan ya mungkin jadi virus corolla.
  • Kausa efisien: alasan ini menunjuk pada hal atau agen yang memungkinkan gen dan lapisan protein tadi terjadi. Jadi, alasan ini menjelaskan mengapa gen RNA tadi jadi punya corona daripada corolla: bisa karena mutasi gen yang dikondisikan oleh laboratorium, tapi mungkin juga terjadi mutasi alamiah. Hasil mutasi gen ini kelihatan dalam berbagai makhluk yang lebih besar dari virus: kambing berkaki tiga, ular berkepala dua atau manusia bermata keranjang😂. Yang terakhir ini bukan contoh yang tepat untuk mutasi gen.
  • Kausa final: ini mungkin alasan yang hendak diketahui oleh penanya “mengapa harus ada virus korona” tadi. Alasan ini menunjuk pada tujuan pokok atau akhir dari ketiga kausa tadi: mengapa ‘orang’ atau ‘alam’ itu menyiapkan bahan korona dan meraciknya sedemikian rupa sehingga tersebarlah Covid-19?

Nah, untuk menjawab gugatan terhadap virus korona ini, orang kan mesti tahu kausa efisiennya apa: manusia atau alam. Kalau manusia, saya tak tahu siapa manusia yang membuat mutasi itu. Kalau alam, saya juga tak tahu mengapa alam membuat mutasi itu. Dengan demikian, saya tidak tahu “mengapa harus ada korona”!

Akan tetapi, saya punya kausa spiritual, yang merujuk pada bagaimana roh bekerja. Kalau saya omong soal roh, itu selalu berarti soal gerak afektif manusia. Maka, titik referensinya tidak ada di ‘luar sana’, tetapi di ‘dalam sini’. Artinya, pertanyaan “mengapa harus ada korona” itu sebetulnya juga mengacu pada “mengapa harus ada saya”. Karena itu, saya bisa koreksi: Anda tidak harus ada. Anda bisa mati kapan saja atau di mana saja, entah karena virus korona atau karena virus paranoia.

Nah, ternyata Anda (masih) ada bersama virus korona. So what?
Jawaban saya takkan melenceng dari Azas dan Dasar: Anda dan virus korona ada sejauh sebagai sarana untuk memuliakan Allah.
Lha piyé memuliakan Allahnya wong bikin orang sakit bahkan mati?
Justru itu, di hadapan kematian, orang mesti bertanya dan menjawab sendiri apa yang terpenting dalam hidupnya, bukan? Tak usahlah di hadapan kematian. Di hadapan lockdown saja, bukankah orang sudah mesti mawas diri akan first things first? Bukankah efek lockdown di beberapa tempat menyatakan bahwa yang dibuat manusia sejauh ini adalah sampah yang merusak keindahan bumi yang didambakan manusia sendiri? Bukankah orang disentakkan bahwa struktur sosial dan teknologi yang dibangun manusia tidak otomatis membuat bumi ini semakin nyaman dihuni? Bukankah dengan demikian orang sepantasnya melirik nilai-nilai yang sejak lama disodorkan agama dan ditelikung oleh pengikut agamanya sendiri?

Struggle for the fittest rupanya tak menunjukkan kemuliaan Allah, tetapi de facto itulah yang banyak dianut bangsa manusia yang kehilangan compassion terhadap mereka yang paling rentan dalam hidup bersama, kehilangan AMDG: Ayo Maskernya Dipakai, Gaes….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s