Wajah Allah

Kata-kata terakhir sebelum kematian biasanya dianggap begitu penting. Konon artis Glenn Fredly memohonkan pintu maaf baginya. Pengampunan adalah hal penting, sekurang-kurangnya baginya. Kepada istrinya, ia sempat menyitir teks Amsal 31,30 (kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia, tetapi istri yang takut akan Allah dipuji-puji) sehingga pesannya juga jelas: tak usahlah bertumpu pada kemolekan dan kecantikan karena itu semua sia-sia tanpa tumpuan kepada Allah sendiri.

Penulis teks bacaan hari ini kiranya punya anggapan serupa sehingga ia mendedikasikan lima bab (hampir seperempat kitabnya sendiri) untuk mengelaborasi wacana terakhir Guru dari Nazareth sebagai wacana sakral. Akan tetapi, wacana sakral itu tidak ujug-ujug disodorkan begitu saja. Ada pengantarnya: Guru dari Nazareth sudah berintuisi bahwa ‘waktunya’ sudah tiba. Kemuliaannya sudah tiba. Orang biasanya menangkap kemuliaan sebagai sesuatu yang megah bernada positif: kemenangan, sukses, tepuk tangan, pujian, dlsj. Kamus Sang Guru berbeda. Kemuliaan berarti terkuaknya wajah Allah lewat hidupnya, yang terangkum dalam kata kerja: cinta. Ini cinta tanpa syarat atau pamrih, ἀγαπάω (agapao, yang pasti tak tergantung pada angpao).

Simbol kuat untuk cinta macam itu ada pada pembasuhan kaki. Nah, saya cuma mau ambil sedikit detail peristiwa itu. Pada setiap Kamis Putih itu kan imam Katolik pemimpin perayaannya akan melepas kasula (kain terluar seragam imam) dan memakai amik, semacam celemek kain, sebelum membasuh kaki sebagian umatnya. Jubahnya tetap dipakai. Guru dari Nazareth bukan imam Katolik. Ia punya pakaian seperti orang Yahudi pada umumnya: perizoma (katakanlah underwear bin cawet yang digambarkan sebagai satu-satunya penutup badan Guru dari Nazareth ketika disalib), jubah yang dikencangkan dengan ikat pinggang, dan dilengkapi dengan selendang besar sebagai mantolnya.

Penulis teks menuturkan bahwa Guru dari Nazareth melepas jubahnya. Logisnya, mantolnya tentu ditanggalkan dulu atau ikut dilepas bersama jubahnya. Akibatnya? Ya tinggal pakai perizoma. Inilah yang tak dimengerti para muridnya. Apa-apaan nih cuma pakai perizoma dan ambil kain celemek?! Ini adalah seragam para budak! Fotonya pernah saya muat pada posting Krisis Bahasa Cinta.
Tidaklah mudah bagi para murid untuk menerima bahwa wajah Allah tampak dalam diri Sang Guru yang berpakaian budak. Pikiran mereka tertambat pada ideologi Allah yang kepada-Nya orang mesti bersujud, berlutut, menundukkan kepala menyembah. Gestur yang dibuat Guru dari Nazareth ini jelas jadi revolusi kopernikan dalam hidup beragama!

Padahal, bukankah orang cenderung hendak memperbudak Allah untuk menyelesaikan perkara-perkara mereka? Kemiskinan, kejahatan, ketidakadilan, wabah penyakit, dan sebagainya. Tuhan, segeralah buat ini semua berlalu! Ini ironis.
Masalahnya tidak terletak pada paham Allahnya sendiri, tetapi pada konsekuensi paham Allah yang mesti ditanggung orang! Kalau Allah itu sosok mahakuasa ya sudah toh desak saja Dia untuk menunjukkan kekuasaan-Nya! Sogok dengan doa, amal, hibah, dan sebagainya! Dari paham Allah yang bossy, muncullah sikap perilaku manusia yang bossy!

Lain halnya kalau para murid itu mau menerima wajah Allah yang tampak dalam sosok yang menempatkan diri sebagai budak: ia juga mengundang orang untuk menempatkan diri sebagai budak. Tentu saja, perbudakan tak sesuai dengan martabat kemanusiaan. Berarti, pesan teksnya sendiri tidak terletak pada undangan untuk menjadi budak, tetapi pada dorongan untuk mengambil sikap pelayanan satu sama lain. Itu sudah.

Maka dari itu, pada misteri perayaan hari ini, setiap orang beriman diundang untuk mencari wajah Allah yang dapat direalisasikannya sebagai tindakan cinta pelayanan: sebagai dokter, tenaga kesehatan, polisi, ASN, aparat pemerintah, pemuka agama, buruh, dan lain sebagainya. Dengan mudah orang bisa membedakan orang yang tidur kelelahan dalam pelayanan dari orang yang tidur kelelahan dalam sidang dewan.

Ya Allah, mohon rahmat kekuatan untuk menampakkan wajah-Mu dalam sikap dan tindakan merdeka untuk saling melayani. Amin.


HARI KAMIS PUTIH
9 April 2020

Kel 12,1-8.11-14
1Kor 11,23-26
Yoh 13,1-15

Posting 2019: Mbok Sudahlah, Wo’
Posting 2018: Bukan (Cuma) Merendah

Posting 2017: Pemimpin Retorik Doang?

Posting 2016:
Krisis Bahasa Cinta

Posting 2015: Faith in The Dark

Posting 2014: Kamis Putih: Perayaan Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s