Tampilkan Jati Dirimu

Metafisika mungkin cenderung dikaitkan dengan hal-hal yang berbau supranatural. Ada benarnya, karena secara etimologis memang metafisika berarti ‘mengatasi fisik’ atau ‘melampaui yang alamiah’, tetapi bukan maksudnya fisik ada di basement dan yang metafisika ini ada di lantai foodcourt di atasnya.
Barangkali metafisika malah bisa dijelaskan dengan melihat istilah (ekonomi) ceteris paribus alias all other things being equal. Misalnya, jika permintaan terhadap thermogun meningkat melebihi penawaran, ceteris paribus, harganya juga akan meningkat. Asumsinya, variabel-variabel di luar thermogun tidak berubah alias konstan: covid-19 stabil, tidak ada pilihan selain thermogun, tidak ada intervensi (75 trilyun) dari pemerintah #eh, dan sebagainya.

Dengan demikian, kalau dua ribu tahun lalu Anda adalah Yudas Iskariot, ceteris paribus, Anda akan mengkhianati Guru dari Nazareth. Anda bisa mengatakan bahwa Anda tak akan bersekongkol dengan pemuka agama dan mengkhianatinya, tetapi itu karena Anda sudah melihat peristiwa setelah pengkhianatan Yudas terjadi. Begitu pula halnya dengan sosok yang dipestakan Gereja Katolik hari ini: Rasul Tomas, yang dikenal susah percaya dan minta bukti kebangkitan Guru dari Nazareth. Kalau dulu Anda jadi Tomas, dan hal-hal lainnya tetap sama, pilihan Anda pilihan Tomas itu.

Pada kenyataannya, Anda bukanlah Yudas atau Tomas. Akan tetapi, thanks to metaphysics, Anda bisa menghianati Guru dari Nazareth atau dapat menyentuh bekas luka-luka Guru dari Nazareth. Tentu, karena variabel-variabelnya sudah berubah (tidak berlaku ceteris paribus), pengkhianatan dan tindakan menyentuh bekas luka pun ikut berubah. Pengkhianatan dan pembuktiannya tetap, tetapi wujudnya berubah, bergantung perubahan-perubahan variabelnya.

Orang saleh yang naif biasanya tidak memperhatikan perubahan-perubahan variabel ini dan pikirannya hanya tertuju pada bekas luka di tangan, kaki, lambung Guru dari Nazareth. Entah untuk membela atau menyangkalnya, sama saja: fokusnya pada luka fisik. [Mereka ini, kalau saling bertemu, bisa jadi ribut gak karuan, caling cakar, saling serang, saling membantah doktrin agama lain.] Padahal, luka fisik itu hanyalah muara dari ketamakan, penindasan, penjajahan, ketidakadilan, superioritas manusia satu terhadap yang lainnya.

Dengan demikian, ketidakadilan dan kawan-kawannya tadi bersifat metafisik. Wujud fisiknya berubah-ubah. Alhasil, luka-luka di tubuh Guru dari Nazareth pun termanifestasikan dalam aneka tanda: luka batin, kelaparan, memar, cacat akibat ketidakadilan, entah individual atau sosial. Menariknya, Tuhan hadir dalam aneka tanda itu kepada Tomas, dan itu berarti juga kepada mereka yang mau memercayainya. Saya tidak bicara mengenai kepercayaan agama atau Tuhan agama tertentu, tetapi Tuhan yang hadir di tengah-tengah mereka yang berjuang untuk kualitas hidup yang lebih baik dan tidak membiarkan dirinya kalah oleh ketidakadilan dan kawan-kawannya tadi.

Kalau Tomas percaya, sewajarnya Anda juga percaya bahwa Tuhan memang hadir dalam keterpurukan manusia, bukan untuk mengambil alih tanggung jawabnya, melainkan untuk mengembalikan kepercayaan diri manusia bahwa ia berkapasitas mengatasi yang fisik; mengubah variabel-variabel fisik itu sehingga ketidakadilan tak meratulela atau luka batin tak berkepanjangan. Tuhan yang begini ini tak mengizinkan manusia bersembunyi dengan masker kemunafikan. Sebaliknya, Ia mengundang orang beriman untuk menampilkan dirinya sebagai makhluk Allah.
Tuhan, semoga dalam luka-luka-Mu kami dapat berlindung dalam berjuang melawan aneka ketidakadilan dalam hidup. Amin.


PESTA S. TOMAS RASUL
Rabu Biasa XIII A/2
3 Juli 2020

Ef 2,19-22
Yoh 20,24-29

Posting 2019: Kagol
Posting 2018: Martabaknya Bang 
Posting 2017: Mengapresiasi Tubuh, Eaaa…

Posting 2015: Makin Suci, Makin
Matre’
 
Posting 2014: Doubter’s Prayer

2 replies

  1. Song of Myself

    A man named Thomas once taught me
    ‘Let us observe truth, but only when truth is made manifest unto us’
    I called him, with his famous name,
    Thomas The Doubter,
    for he would have Truth made manifest

    But doubt is a pain too lonely to know that faith is his twin brother
    Doubt will not know truth till his wounds are healed and restored

    Then we have found this house of beauty knowledges
    I was a stranger to him, but surely he knows my famous friend, Thomas
    He bid me speak of Jesus
    And as he called, i turned and walked away, but not in shame
    I was only shy
    My thought is like a tender leaf that sways in every direction and finds pleasure in its swaying

    I shall pray he would let me be his guest in his den of complete beauty works.
    Ceteris paribus, a song of me song in need of a courageous symphony
    And ceteris paribus, ….
    at work i just take time,
    and all through my coffee break-time
    I say a little prayer for you…

    Like

  2. The moment i wake up
    Before i put on my makeup
    I say a little prayer for you

    While combing my hair, now
    And wondering what dress to wear, now
    I say a little prayer for you…

    At work i just take time
    And all through my coffee break-time
    I say a little prayer for you….

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s