Mari Berguru

Ada nasihat supaya orang menjadi diri sendiri karena diri yang lain sudah diambil orang lain. Susahnya, menurut nasihat teks bacaan hari ini, untuk mengambil diri sendiri pun justru orang mesti ἀπαρνησάσθω (aparnēsasthō, Yunani), yang bisa diartikan dengan bahasa Inggris to disown. Nah, piyé jal menerjemahkan to disown itu? Bukankah itu lawan dari to own alias memiliki? Njuk gimana mau menjadi diri sendiri kalau tak memiliki diri sendiri?🥱

Daripada ngantuk memikirkan yang disebut diri itu, kalau mau puyěng silakan baca halaman Mikirin Tubuh Yang Mikir, kalau tidak mau, baca saja teks ini sebagai undangan kemuridan. Beriman adalah perkara menjadi murid, dan tak ada orang yang menjadi murid tanpa guru. Sebagaimana The Legend of the Condor Heroes memperlihatkan bagaimana Guo Jing berguru tidak hanya pada satu pendekar, begitu juga sesungguhnya orang beriman tidak berguru hanya pada satu orang.
Oh, jadi sebetulnya orang gak perlu beragama ya, Rom, karena dia bisa berguru pada siapa saja dari agama mana saja?
Wah, lha kok kesimpulannya kebablasěn begitu ya?

Mengenai perlunya beragama atau tidak, saya angkat tangan saja ya, saya serahkan pada Anda masing-masing, tetapi satu hal yang saya pelajari dari guru saya (dengan perantaraan begitu banyak guru lain), dia tetaplah hidup dalam tradisi agama tertentu. Dia bukan orang Katolik, tetapi saya, sebagai orang Katolik, dengan senang hati berguru padanya. Itu tidak membuat saya jadi Yahudi, tetapi membantu saya untuk semakin mendalami apa maknanya menjadi Katolik. Begitu pula kalau saya belajar dari tokoh lain yang berafiliasi pada agama lainnya, itu tidak membuat saya jadi penganut agama lain. Tokoh-tokoh lain itu, sebagai guru, membantu saya untuk memaknai agama saya sendiri.

Konon ada pepatah yang mengatakan bahwa seorang guru membuka pintu, muridnya mesti masuk sendiri. Begitulah juga guru agama, pada akhirnya dia hanya membukakan pintu, tetapi tak jarang pula guru agama yang memaksa muridnya untuk masuk. Guru dari Nazareth bukan tipe guru yang memaksa muridnya untuk masuk ke dunia yang pintunya sudah dibukakannya. Ia cuma menyindir: apa artinya kamu punya segala-galanya tapi cuma sampai ambang dan tidak masuk ke dalam.

Saya tidak hendak berpromosi, tetapi menunjukkan pola kemuridan yang dihidupi orang beriman sejak zaman jebot. Yang belum lama terjadi, tapi ini katanya loh ya, saya tidak melakukan verifikasi sendiri, katanya ini, di Amerika ada seorang wakil gubernur yang karir politiknya sudah sedemikian muntup-muntup sebentar lagi bisa jadi gubernur, hanjuk kok malah menarik diri dari panggung politik trus masuk padepokan biara pesantren ashram atau apalah namanya! Mungkin kentang tidak selalu berkonotasi negatif ya. Itu adalah contoh menyangkal diri dan mengikuti Guru dari Nazareth.

Apakah orang beriman mesti seperti itu? Sebagai pola iya, tetapi wujud konkretnya tidak mesti seperti itu. Bukankah seorang ibu-rumah-tangga bisa saja arisan ke sana kemari tetapi di penghujung hari dia sediakan waktu untuk mawas diri dan bikin action plan untuk melihat peluang membantu mereka yang tertimpa kesulitan hidup? Bukankah seorang ayah-kantor-eskalator bisa saja padat urusan tapi pada senja hari meluangkan waktu kualitatif untuk berbagi cerita kehidupan dan maknanya?

Tuhan, mohon rahmat kemurahhatian untuk menularkan makna hidup bagi siapa saja yang hendak jadi murid-Mu. Amin.


JUMAT BIASA XVIII A/2
7 Agustus 2020

Nah 1,15;2,2;3,1-3.6-7
Mat 16,24-28

Jumat Biasa XVIII C/2 2016: Chickens Love You
Jumat Biasa XVIII A/2 2014: Hidup Kok Serba Nyaman

4 replies

  1. 🤔romo, Yesus mmg yahudi, nmn datang u melengkapi agama yahudi, dn di situlah sy sekarang, cath. Cath yg bermakna universal, terbuka bg semua org. Jd sbg umt cath yg menerima pemenuhan iman Yahudi sbg Gereja umat Allah.
    Anu😁😛bkn mau membantah, hihi… tp mnrt sy Yesus mmg ethnically n religiously jewish, nmn krn misi pemenuhanNya itu, Dia adh the first Christian #cath# dlm bhs lain, Jesus was a Jew, kt adh cath, Jesus came to complete the Jewish religion, dn di situ sy skg #planga plongo#🤣

    Like

    • Memangnya biar agama Yahudi lengkap itu syaratnya apa? Mengapa agama B mesti mengklaim melengkapi agama A? Di mana unsur lebihnya? Apakah unsur lebih itu tak bergantung dari sudut pandangnya sendiri?
      Saya kok gak yakin ya Yesus datang untuk melengkapi agama Yahudi, kecuali ‘pelengkapan’ itu dalam arti penghayatan mendalamnya. Yesus, IMHO, menghayati agama Yahudi dalam kesempurnaannya. Bahwa murid2nya bikin gerakan lain dan dengan nama lain pula, itu perkara lain lagi.

      Like

  2. memikirkan ternyata tidak semudah mengatakan, untuk menjawab romo saya harus berfikir keras. dan masih tidak pede, jadi IMHO dan CMIIW. jawabnya pake masker, biar tidak malu.
    kalau saya yang Cath bilang, Yesus pemenuhan nubuatan PL, torah, atau apalah…maka bisa jadi saya dicembetutin, krn kepercayaan Yahudi mmh Mesias belum datang #kedatanganNya dikaitkan dengan pengembalian kejayaan dan tanah air# lagipula mereka menganut kesatuan mutlak dan singularitas Tuhan, dan Tuhan yang bukan jasmani (tdk memiliki karakteristik fisik, bhw esensi Tuhan tidak dapat dipahami), singkatnya tdk memiliki kualifikasi Mesias Yahudi.
    kl memberikan argumen dari Kitab, Yoh 4:25-26, bs jd disebut tidak valid, krn mengambil dari Kitab iman Cath.
    saya mencoba mengajukan argumen, bahwa apa yang diucapkan Yesus memang melengkapi Torah. eg.ketika dicobai di pdg gurun, jawaban yang dipakai mengutip Torah (melengkapi bukan dalam arti mengecilkan, namun menghargai). ada tertulis, bla bla bla….diambil dari Ul 8:3. 6:16. 6:13.
    Yesus tdk mengkontradiksi Torah. kamu telah mendengar…tetapi aku berkata… eg.Mat 5:21 dg Kel 20:21, Mat 5:27 dg Kel 20:12, 21:17,, dll
    itu yang maksud saya melengkapi, menggenapi, bkn dalam arti syarat lengkap formal, nmn lebih kepada kualitas material. sebuah nalar kemanusiaan yang bernuansa Ilahi.
    krn saya tidak menggunakan argumen Yoh 4:25-26, atau Yoh 8:12-13, 17-18, atau Luk 4:17-19,21 (sesuai Yes 61:1-2), maka tidak valid lagi menyebutkan itu sudut pandang sendiri atau narsisme iman.
    nmn romo juga benar menyebutnya “dalam arti penghayatan mendalamnya”
    kl gerakan murid, maka masih berpusat pd keteladanan Nya, yang bermuara pd ajaran cinta kasih.
    bs jadi saya keiiru dan naif menafsirkan. bila demikian, saya minta maaf dan mohon pencerahannya. makasih romo

    Like

    • Kak Sean, agama yg relevan itu bersifat dinamis. Saya tidak tahu perkembangan agama Yahudi, tetapi yakin bhw di dalamnya ada unsur keterbukaan juga. Sejak holocaust abad lalu kiranya Gereja (Katolik) meninjau ulang bagaimana relasi dengan komunitas Yahudi; dan menurut penangkapan saya, semakin ke sini, nuansa arogansi itu (perlu) ditanggalkan. Bukankah Yesus sendiri memberi teladan bagaimana ia mencintai mereka yang jelas2 menyangkalnya, memfitnah, meludahi, memukul, dst? Setiap individu punya treknya untuk tiba pada poin tertentu dalam peziarahan hidupnya. Itu mengapa blog ini sy beri tagline “A Pathway to God”. Ada banyak jalan ke sana, dng panoramanya masing2, termasuk aneka konsep mengenai singularitas Allah. Saya memilih jalan yang berangkat dari kenyataan batin daripada terjerembab dalam dunia kognitif yang bisa saling bertentangan bahkan dengan dirinya sendiri. Semoga bermanfaat.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s